Jadi Duta Damai, Puluhan Anak Muda Siap Lawan Propaganda Terorisme
Jum'at, 16 November 2018 - 19:12 WIB
Jadi Duta Damai, Puluhan Anak Muda Siap Lawan Propaganda Terorisme
A
A
A
JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) kembali merekrut anak muda untuk menjadi duta damai dunia maya.
Kali ini 60 anak muda Sulawesi Utara (Sulut) dirangkul menjadi agen perdamaian sebagai duta damai dunia maya. Mereka akan bergabung dengan 756 duta damai dunia maya seluruh Indonesia untuk menyebarkan pesan dan konten perdamaian dalam rangka penanggulangan terorisme di dunia maya.
“Selamat kepada Duta Damai Provinsi Sulawesi Utara untuk bergabung dalam keluarga besar Duta Damai BNPT. Kehadiran kalian tentu menjadi modal dan kekuatan berharga bagi BNPT untuk terus mewujudkan tujuan dan cita menjaga lingkungan dunia maya dan dunia nyata yang aman dan nyaman dari ancaman radikalisme dan terorisme,” tutur Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis.Pernyataan itu disampaikan Hendri saat menutup Pelatihan Duta Damai Dunia Maya 2018 Provinsi Sulut di Hotel Mercure, Manado, Kamis 15 November 2018.
Hendri menjelaskan, Provinsi Sulawesi Utara menjadi provinsi terakhir di tahun ini yang akan semakin menambah kekuatan duta damai dalam menyebarkan konten-konten positif dan perdamaian di dunia maya.
Rencananya pada tahun 2019, BNPT akan lebih memberdayakan duta damai dunia maya yang ada dan membawa go international di tingkat ASEAN, Asia, bahkan dunia. Pelatihan duta damai dunia maya di Manado ini menghasilkan lima website damai yaitu www.waleleos.dutadamai.id, www.manguni.dutadamai.id, www.mapalus.dutadamai.id, www.tinutuan.dutadamai.id, www.paniki.dutadamai.id.
Hendri mengungkapkan, alasan kalangan generasi muda penting untuk dirangkul dalam penebaran konten damai di dunia maya.
Menurut dia, ada tiga kata kunci yang dapat menjelaskan pertanyaan ini, yakni terorisme, dunia maya dan generasi muda.
Hendri juga menjelaskan tentang perkembangan terorisme. Fakta telah menunjukkan jalinan terorisme dan dunia maya telah menandai momentum lahirnya fenomena baru yang disebut terorisme di dunia maya (cyber terorism).
Dalam fenomena ini, kelompok teroris secara fasih dan cerdas memanfaatkan jaringan internet sebagai metode dan alat baru baik dalam hal propaganda, indoktrinasi maupun rekrutmen.
“Apabila terorisme lama lebih mengandalkan pada pola rekrutmen melalui hubungan kekeluargaan, pertemanan, ketokohan, dan lembaga keagamaan dan dilakukan dengan cara-cara tertutup dan pembaiatan langsung, hari ini, kita menyaksikan fenomena baru yang menjadikan media online sebagai sarana propaganda dan rekrutmen,” papar mantan Dansatintel Bais TNI ini.
Dia menjelaskan, generasi muda merupakan penghuni terbesar dalam melakukan proses interaksi, sosialisasi, identifikasi bahkan proses imitasi sosial melalui dunia maya.
“Pengaruh internet sangat besar terhadap kehidupan manusia di berbagai aspek. Internet tidak hanya bersama kita, tetapi juga merubah cara kita bekerja, cara kita bermain, cara kita hidup bahkan cara kita bersikap dan menjalani hidup. Termasuk bagaimana merubah seorang dari normal menjadi radikal dengan banyak butki yang telah menjadi faktual,” tuturnya.
Dia menjelaskan dalam survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII) tahun 2017 menyebutkan bahwa angka pengguna internet telah mencapai 143,26 juta dari total populasi penduduk Indonesia sebesar 262 juta.
Artinya, 54, 68% penduduk Indonesia merupakan pengguna internet. Lebih dari 75% dari jumlah itu adalah generasi muda. Melihat pola kecenderungan penggunaan internet ini, dunia maya tidak hanya sebagai ruang interaksi komunikasi, tetapi juga sebagai ruang bagi netizen, khususnya generasi muda untuk mengakses informasi dan pengetahuan.
“Dalam konteks inilah, saya ingin menegaskan bahwa akan sangat berbahaya apabila pengetahuan dan informasi di dunia maya banyak disesaki dengan konten negatif, hoaks, fitnah, adu domba dan ajakan kekerasan,” tuturnya.
Hendri menilai kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan. Pasalnya pemanfaatkan internet oleh masyarakat tidak diikuti dengan kemampuan literasi media dan literasi digital yang tinggi.
"Akibatnya betapa informasi mudah menyebar menjadi viral di media sosial. Itu karena masyarakat tidak sadar mengamini sebuah berita apapun di medsos sebagai sebuah fakta tanpa melalui budaya sharing tanpa saring. Alhasil hoaks, ujaran kebencian, kampanye hitam bisa viral, tanpa dilakukan proses verifikasi, cek, dan recek," tuturnya.
Menurut dia, berita dan konten hoaks tidak hanya menyesatkan masyarakat, tetapi telah menjadi sarana efektif dan modus bagi penyebaran narasi radikalisme di tengah masyarakat. Kelompok dan organisasi radikal sangat rajin membangun narasi untuk membentuk opini sesat masyarakat melalui berita hoaks yang mudah viral.
“Bayangkan betapa penuh dan sesaknya dunia maya dengan pesan penuh kebencian, penghasutan, permusuhan dan konten negatif lainnya yang bernuansa kekerasan. Kondisi tersebut tidak bisa didiamkan. Negara harus hadir untuk membentengi masyarakat agar tidak mudah terpengaruh pesan dan ajakan mereka,” tuturnya.
Latar belakang itu, lanjut Hendri, membuat BNPT menyadari pentingnya suatu gerakan bersama dalam rangka memberikan pembanding sekaligus pencerahan bagi masyarakat dengan membanjiri dunia maya dengan konten positif dan pesan damai. Potensi besar untuk melakukan itu adalah generasi muda.
“Kehadiran para duta damai sebagai mitra BNPT di berbagai daerah kami harapkan mampu memberikan kontribusi besar terhadap apa yang telah kami canangkan untuk menjadikan dunia maya sebagai ruang edukasi dan pencerahan bagi masyarakat sehingga terhindar dari konten dan pesan yang mengajak pada kekerasan dan terorisme,” pungkas Hendri.
Kali ini 60 anak muda Sulawesi Utara (Sulut) dirangkul menjadi agen perdamaian sebagai duta damai dunia maya. Mereka akan bergabung dengan 756 duta damai dunia maya seluruh Indonesia untuk menyebarkan pesan dan konten perdamaian dalam rangka penanggulangan terorisme di dunia maya.
“Selamat kepada Duta Damai Provinsi Sulawesi Utara untuk bergabung dalam keluarga besar Duta Damai BNPT. Kehadiran kalian tentu menjadi modal dan kekuatan berharga bagi BNPT untuk terus mewujudkan tujuan dan cita menjaga lingkungan dunia maya dan dunia nyata yang aman dan nyaman dari ancaman radikalisme dan terorisme,” tutur Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis.Pernyataan itu disampaikan Hendri saat menutup Pelatihan Duta Damai Dunia Maya 2018 Provinsi Sulut di Hotel Mercure, Manado, Kamis 15 November 2018.
Hendri menjelaskan, Provinsi Sulawesi Utara menjadi provinsi terakhir di tahun ini yang akan semakin menambah kekuatan duta damai dalam menyebarkan konten-konten positif dan perdamaian di dunia maya.
Rencananya pada tahun 2019, BNPT akan lebih memberdayakan duta damai dunia maya yang ada dan membawa go international di tingkat ASEAN, Asia, bahkan dunia. Pelatihan duta damai dunia maya di Manado ini menghasilkan lima website damai yaitu www.waleleos.dutadamai.id, www.manguni.dutadamai.id, www.mapalus.dutadamai.id, www.tinutuan.dutadamai.id, www.paniki.dutadamai.id.
Hendri mengungkapkan, alasan kalangan generasi muda penting untuk dirangkul dalam penebaran konten damai di dunia maya.
Menurut dia, ada tiga kata kunci yang dapat menjelaskan pertanyaan ini, yakni terorisme, dunia maya dan generasi muda.
Hendri juga menjelaskan tentang perkembangan terorisme. Fakta telah menunjukkan jalinan terorisme dan dunia maya telah menandai momentum lahirnya fenomena baru yang disebut terorisme di dunia maya (cyber terorism).
Dalam fenomena ini, kelompok teroris secara fasih dan cerdas memanfaatkan jaringan internet sebagai metode dan alat baru baik dalam hal propaganda, indoktrinasi maupun rekrutmen.
“Apabila terorisme lama lebih mengandalkan pada pola rekrutmen melalui hubungan kekeluargaan, pertemanan, ketokohan, dan lembaga keagamaan dan dilakukan dengan cara-cara tertutup dan pembaiatan langsung, hari ini, kita menyaksikan fenomena baru yang menjadikan media online sebagai sarana propaganda dan rekrutmen,” papar mantan Dansatintel Bais TNI ini.
Dia menjelaskan, generasi muda merupakan penghuni terbesar dalam melakukan proses interaksi, sosialisasi, identifikasi bahkan proses imitasi sosial melalui dunia maya.
“Pengaruh internet sangat besar terhadap kehidupan manusia di berbagai aspek. Internet tidak hanya bersama kita, tetapi juga merubah cara kita bekerja, cara kita bermain, cara kita hidup bahkan cara kita bersikap dan menjalani hidup. Termasuk bagaimana merubah seorang dari normal menjadi radikal dengan banyak butki yang telah menjadi faktual,” tuturnya.
Dia menjelaskan dalam survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII) tahun 2017 menyebutkan bahwa angka pengguna internet telah mencapai 143,26 juta dari total populasi penduduk Indonesia sebesar 262 juta.
Artinya, 54, 68% penduduk Indonesia merupakan pengguna internet. Lebih dari 75% dari jumlah itu adalah generasi muda. Melihat pola kecenderungan penggunaan internet ini, dunia maya tidak hanya sebagai ruang interaksi komunikasi, tetapi juga sebagai ruang bagi netizen, khususnya generasi muda untuk mengakses informasi dan pengetahuan.
“Dalam konteks inilah, saya ingin menegaskan bahwa akan sangat berbahaya apabila pengetahuan dan informasi di dunia maya banyak disesaki dengan konten negatif, hoaks, fitnah, adu domba dan ajakan kekerasan,” tuturnya.
Hendri menilai kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan. Pasalnya pemanfaatkan internet oleh masyarakat tidak diikuti dengan kemampuan literasi media dan literasi digital yang tinggi.
"Akibatnya betapa informasi mudah menyebar menjadi viral di media sosial. Itu karena masyarakat tidak sadar mengamini sebuah berita apapun di medsos sebagai sebuah fakta tanpa melalui budaya sharing tanpa saring. Alhasil hoaks, ujaran kebencian, kampanye hitam bisa viral, tanpa dilakukan proses verifikasi, cek, dan recek," tuturnya.
Menurut dia, berita dan konten hoaks tidak hanya menyesatkan masyarakat, tetapi telah menjadi sarana efektif dan modus bagi penyebaran narasi radikalisme di tengah masyarakat. Kelompok dan organisasi radikal sangat rajin membangun narasi untuk membentuk opini sesat masyarakat melalui berita hoaks yang mudah viral.
“Bayangkan betapa penuh dan sesaknya dunia maya dengan pesan penuh kebencian, penghasutan, permusuhan dan konten negatif lainnya yang bernuansa kekerasan. Kondisi tersebut tidak bisa didiamkan. Negara harus hadir untuk membentengi masyarakat agar tidak mudah terpengaruh pesan dan ajakan mereka,” tuturnya.
Latar belakang itu, lanjut Hendri, membuat BNPT menyadari pentingnya suatu gerakan bersama dalam rangka memberikan pembanding sekaligus pencerahan bagi masyarakat dengan membanjiri dunia maya dengan konten positif dan pesan damai. Potensi besar untuk melakukan itu adalah generasi muda.
“Kehadiran para duta damai sebagai mitra BNPT di berbagai daerah kami harapkan mampu memberikan kontribusi besar terhadap apa yang telah kami canangkan untuk menjadikan dunia maya sebagai ruang edukasi dan pencerahan bagi masyarakat sehingga terhindar dari konten dan pesan yang mengajak pada kekerasan dan terorisme,” pungkas Hendri.
(dam)