Krisis Moral dan Etika Bangsa Dinilai Masih Sulit Dikendalikan

Minggu, 30 September 2018 - 07:41 WIB
Krisis Moral dan Etika...
Krisis Moral dan Etika Bangsa Dinilai Masih Sulit Dikendalikan
A A A
YOGYAKARTA - Mantan ketua KPK Busyro Muqoddas mengatakan peran elite partai politik, birokat dan sektor swasta ditengarai menjadi penyebab mengapa krisis moral dan etika yang dialami bangsa Indonesia masih sulit untuk dikendalikan.

"Masifnya korupsi politik, seperti kasus anggota DPRD Malan dan 55% kekayaan negara dikuasi 100 warga negara sebagai contoh konkritnya," kata Busyro saat memberikan kuliah umum pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di kampus setempat, kemarin.

Busyro menjelaskan korupsi politik yang terjadi di Indonesia adalah dengan mengincar pembangunan infrastuktur, pengadaan barang dan jasa untuk pembangunan nasional dan daerah. Menguatnya korupsi politik tersebut karena sudah dalam bentuk corruption by desaign. Melalui Raperda/Perda, RUU, UU dan kebijakan yang koruptif.

"Selain itu juga melalui praktik politik uang dalam pilkada dan pemilu. Sehingga menjadikan hal-hal tersebut sebagai produk yang membunuh moralitas konstitusi dan penegakan hukum di Indonesia," paparnya.

Puncak korupsi politik dan korupsi demokrasi tersebut juga terjadi dalam bentuk praktik sistem ngijon, seperti dalam sejumlah kasus korupsi anggota DPR RI. Contohnya seperti kasus di Kota Malang.

Di mana 41 dari 45 anggota DPRD Kota Malang menjadi tersangka korupsi. Kemudian sistemisasi, strukturasi dan masifikasi korupsi birokrasi nasional dan daerah, seperti pada pertengahan tahun 2018 dimana ada 97 kepala daerah tingkat I dan II yang berstatus tersangka/terdakwa di KPK.

"Dengan obyek korupsi Dana APBD/P, Otonomi Khusus, Infrastruktur dan perizinan RT/RW, serta pertambangan," tandasnya.

Selain itu, sistem politik yang terjadi di Indonesia membuat orang diperbudak oleh nafsu kekuasaan, yang berujung pada penghalalan segala cara untuk mewujudkan segala ambisinya. Maka dari itu Busyro menekankan kepada para mahasiswa Pascasarjana sebagai perwakilan insan yang berilmu untuk menjaga diri dari seretan arus perbudakan nafsu kekuasaan.

"Tanggung jawab orang berilmu sangat berat, karena ilmu bisa menjadi malapetaka jika ilmu itu tidak memiliki kualitas, seperti kualitas keberpihakan. Tak jarang kemudian banyak orang yang tidak mengamalkan ilmunya, hanya untuk memenuhi ambisinya (tidak sesuai dengan
konsentrasi studi, red)," terang dosen Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini.

Untuk mewujudkan keadaban politik berkemajuan, Busyro merekomendasikan agenda setting revitalisasi perguruan tinggi dalam orientasi pembangunan nasional berspirit politik dan diterapkannya mata kuliah yang mendukung bagi Pascasarjana Universitas Muhammadiyah.

"Perlu mata kuliah Ideologi Pembangunan Perspektif Keadilan Sosial dan kajian pendalaman Buku Gerakan Muhammadiyah," ungkapnya.
(maf)
Berita Terkait
Arah Politik Pemberantasan...
Arah Politik Pemberantasan Korupsi di Indonesia: Haruskah Diubah?
KPK Gaet 4 Kementerian...
KPK Gaet 4 Kementerian dan KSP Teken Komitmen Pencegahan Korupsi
KPK Kembali Dipimpin...
KPK Kembali Dipimpin oleh Jenderal Polisi
KPK Ungkap Mayoritas...
KPK Ungkap Mayoritas Korupsi yang Ditangani Libatkan Aktor Politik
Firli Pastikan KPK Bebas...
Firli Pastikan KPK Bebas Pengaruh Kekuasaan dan Kepentingan Politik
Pegawai KPK Tolak Pelatihan...
Pegawai KPK Tolak Pelatihan Bela Negara di Kemenhan
Berita Terkini
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Siap Perjuangkan Kepastian Kerja dan Upah Layak
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang
Usia Pensiun Personel...
Usia Pensiun Personel Polri Tidak Sama, Ini Penjelasan Pemerintah
Perjuangkan Nasib Dokter...
Perjuangkan Nasib Dokter Muda, PDMI Minta Pemerintah Buka Kembali Akses Ujian Kompetensi
OTT di Muara Enim dan...
OTT di Muara Enim dan Jakarta, KPK Sita Uang Ratusan Juta
Buku Laku Spiritual...
Buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen Diluncurkan, Kupas Cara Soeharto Tunjuk Pembantunya
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved