Jangan Paksakan Arbain Kala Tubuh Tak Sehat
Kamis, 26 Juli 2018 - 08:11 WIB
Jangan Paksakan Arbain Kala Tubuh Tak Sehat
A
A
A
MADINAH - Melaksanakan ibadah salat wajib 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi atau sering disebut arbain menjadi salah satu hal yang dikejar jamaah haji selama berada di Madinah. Kendati demikian, jamaah yang tergolong lemah secara kesehatan tak perlu memaksakan ibadah tersebut.
“Yang sakit tidak perlu memaksakan melakukan arbain karena fisik kita harus disiapkan menjalankan rukun haji di Arafah. Tapi yang sehat manfaatkan mumpung ada di Madinah,” kata Konsultan Pembimbing Ibadah Haji Daket Madinah Ahmad Kartono di Madinah, kemarin.
PPIH Arab Saudi 2018 Daerah Kerja (Daker) Madinah sering kali menemukan jamaah yang merasa putus arbainnya karena terlambat mengikuit salat waji tepat waktu di Masjid Nabawi. Terkait hal ini, mengatakan ada dua pendapat para ulama.
Pandangan yang pertama, arbain adalah salat wajib selama 40 hari tanpa putus di Masjid Nabawi dan harus termasuk takbiratul ihram alias takbir pertama imam pada masing-masing salat wajib.
Sedangkan pendapat kedua, hanya menggenapi salat wajib 40 waktu di Masjid Nabawi asal tidak putus salatnya. “Artinya ketinggalan shalat imam Madinah juga tak apa,” kata dia.
Selain itu, menurut dia, ada pertanyaan soal lokasi salat di Masjid Nabawi agar bisa dianggap arbain. Sebagian jamaah beranggapan salat arbain hanya sah bila dilakukan di lokasi awal Masjid Nabawi saat dibangun Nabi Muhammad SAW.
Kartono mengatakan, pandangan tersebut keliru. “Nabi Muhammad mengatakan bahwa bila diluaskan hingga ke Yaman ini tetap masjidku. Sedangkan Umar bin Khattab mengatakan, bila diluaskan hingga Baqi pun tetap Masjid Nabawi,” kata Kartono.
Dia mengingatkan, bagaimanapun arbain hanyalah sunah. Selain itu, tak terkait sama sekali dengan pelaksanaan ibadah haji maupun umrah. Meski begitu, walaupun hadits yang menganjurkannya tergolong dhaif, namun bisa melengkapi afdhalnya ibadah. Sebab itu pemerintah Indonesia memberikan keluangan waktu bagi jamaah memenuhi ritual tersebut.(Sudarsono)
“Yang sakit tidak perlu memaksakan melakukan arbain karena fisik kita harus disiapkan menjalankan rukun haji di Arafah. Tapi yang sehat manfaatkan mumpung ada di Madinah,” kata Konsultan Pembimbing Ibadah Haji Daket Madinah Ahmad Kartono di Madinah, kemarin.
PPIH Arab Saudi 2018 Daerah Kerja (Daker) Madinah sering kali menemukan jamaah yang merasa putus arbainnya karena terlambat mengikuit salat waji tepat waktu di Masjid Nabawi. Terkait hal ini, mengatakan ada dua pendapat para ulama.
Pandangan yang pertama, arbain adalah salat wajib selama 40 hari tanpa putus di Masjid Nabawi dan harus termasuk takbiratul ihram alias takbir pertama imam pada masing-masing salat wajib.
Sedangkan pendapat kedua, hanya menggenapi salat wajib 40 waktu di Masjid Nabawi asal tidak putus salatnya. “Artinya ketinggalan shalat imam Madinah juga tak apa,” kata dia.
Selain itu, menurut dia, ada pertanyaan soal lokasi salat di Masjid Nabawi agar bisa dianggap arbain. Sebagian jamaah beranggapan salat arbain hanya sah bila dilakukan di lokasi awal Masjid Nabawi saat dibangun Nabi Muhammad SAW.
Kartono mengatakan, pandangan tersebut keliru. “Nabi Muhammad mengatakan bahwa bila diluaskan hingga ke Yaman ini tetap masjidku. Sedangkan Umar bin Khattab mengatakan, bila diluaskan hingga Baqi pun tetap Masjid Nabawi,” kata Kartono.
Dia mengingatkan, bagaimanapun arbain hanyalah sunah. Selain itu, tak terkait sama sekali dengan pelaksanaan ibadah haji maupun umrah. Meski begitu, walaupun hadits yang menganjurkannya tergolong dhaif, namun bisa melengkapi afdhalnya ibadah. Sebab itu pemerintah Indonesia memberikan keluangan waktu bagi jamaah memenuhi ritual tersebut.(Sudarsono)
(nfl)