IPW: Kondisi Mako Brimob Tak Terkendali Selama 11 Jam, Ada Apa?
Rabu, 09 Mei 2018 - 13:51 WIB
IPW: Kondisi Mako Brimob Tak Terkendali Selama 11 Jam, Ada Apa?
A
A
A
JAKARTA - Indonesia Police Watch (IPW) meminta kepolisian menjelaskan secara transparan tentang peristiwa di Mako Brimob, Kelapa Dua, Kota Depok, Jawa Barat.
"Kenapa situasi mencekam di Mako Brimob itu belum juga terkendali hingga 11 jam dan membuat aktivitas masyarakat terganggu akibat jalanan diblokir," kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane dalam siaran persnya yang diterima SINDOnews, Rabu (9/5/2018). (Baca juga: Keributan di Mako Brimob, Polisi Masih Negosiasi dengan Napi )
IPW mencatat kekacauan di Rutan Mako Brimob sebenarnya sudah terjadi Selasa pukul 15.00 dan hingga Rabu pagi jalanan di sekitar Mako masih diblokir. Ironinya, sambung dia, tidak ada penjelasan yang transparan dari kepolisian tentang kekacauan di Mako Brimob.
Dari informasi yang diperoleh IPW, kekacauan terjadi pukul 15.00 dan tidak cepat dikendalikan. Akibatnya, pada pukul 21.00 napi teroris berhasil menjebol teralis tahanan.
Menurut IPW, para napi juga berhasil merampas senjata polisi dan menyandera empat anggota polisi yang satu di antaranya wanita berpangkat iptu.
Dalam kekacauan itu terjadi aksi tembak menembak polisi dengan napi yang menguasai rutan. Pukul 06.00 sejumlah ambulans tiba di rutan dan terlihat sejumlah orang dibawa dengan ambulans. Pukul 09.30 mobil DVI terlihat masuk ke rutan Brimob.
IPW mengimbau, kepolisian harus menjelaskan peristiwa ini dengan transparan tentang apa yang terjadi, termasuk berapa korban tewas dan luka dalam kekacauan itu dan tentang senjata api polisi yang berhasil dirampas napi teroris.
Berdasarkan informasi yang diperoleh IPW, ada lima sampai tujuh unit senjata api polisi yang dirampas napi teroris. Hal ini membuat membuat polisi kesulitan mengendalikan situasi karena para napi melakukan perlawanan sengit dengan senjata api rampasan.
Dia menegaskan IPW sangat prihatin dengan peristiwa di Mako Brimob. Ini adalah kekacauan yang kedua di Rutan Mako Brimob. Apalagi, kata dia, kekacauan ini terjadi beberapa saat setelah Brimob memunculkan kontraversial karena berpatroli mengamankan kantor kantor partai politik di Semarang.
"Bagaimana Brimob bisa berpatroli menjaga kantor orang lain sementara menjaga markasnya sendiri kebobolan. Bagaimana Brimob bisa diharapkan maksimal menjaga pilkada serentak, menjaga markasnya sendiri kebobolan," tutur Neta.
"Kenapa situasi mencekam di Mako Brimob itu belum juga terkendali hingga 11 jam dan membuat aktivitas masyarakat terganggu akibat jalanan diblokir," kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane dalam siaran persnya yang diterima SINDOnews, Rabu (9/5/2018). (Baca juga: Keributan di Mako Brimob, Polisi Masih Negosiasi dengan Napi )
IPW mencatat kekacauan di Rutan Mako Brimob sebenarnya sudah terjadi Selasa pukul 15.00 dan hingga Rabu pagi jalanan di sekitar Mako masih diblokir. Ironinya, sambung dia, tidak ada penjelasan yang transparan dari kepolisian tentang kekacauan di Mako Brimob.
Dari informasi yang diperoleh IPW, kekacauan terjadi pukul 15.00 dan tidak cepat dikendalikan. Akibatnya, pada pukul 21.00 napi teroris berhasil menjebol teralis tahanan.
Menurut IPW, para napi juga berhasil merampas senjata polisi dan menyandera empat anggota polisi yang satu di antaranya wanita berpangkat iptu.
Dalam kekacauan itu terjadi aksi tembak menembak polisi dengan napi yang menguasai rutan. Pukul 06.00 sejumlah ambulans tiba di rutan dan terlihat sejumlah orang dibawa dengan ambulans. Pukul 09.30 mobil DVI terlihat masuk ke rutan Brimob.
IPW mengimbau, kepolisian harus menjelaskan peristiwa ini dengan transparan tentang apa yang terjadi, termasuk berapa korban tewas dan luka dalam kekacauan itu dan tentang senjata api polisi yang berhasil dirampas napi teroris.
Berdasarkan informasi yang diperoleh IPW, ada lima sampai tujuh unit senjata api polisi yang dirampas napi teroris. Hal ini membuat membuat polisi kesulitan mengendalikan situasi karena para napi melakukan perlawanan sengit dengan senjata api rampasan.
Dia menegaskan IPW sangat prihatin dengan peristiwa di Mako Brimob. Ini adalah kekacauan yang kedua di Rutan Mako Brimob. Apalagi, kata dia, kekacauan ini terjadi beberapa saat setelah Brimob memunculkan kontraversial karena berpatroli mengamankan kantor kantor partai politik di Semarang.
"Bagaimana Brimob bisa berpatroli menjaga kantor orang lain sementara menjaga markasnya sendiri kebobolan. Bagaimana Brimob bisa diharapkan maksimal menjaga pilkada serentak, menjaga markasnya sendiri kebobolan," tutur Neta.
(dam)