Jika Tak Dituntaskan, Hal Ini Bakal Gerus Citra Pemerintah Jokowi
Jum'at, 20 April 2018 - 14:18 WIB
Jika Tak Dituntaskan, Hal Ini Bakal Gerus Citra Pemerintah Jokowi
A
A
A
JAKARTA - Penentuan lokasi (penlok) pembangunan Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) sampai saat ini belum diputuskan dengan alasan masih menunggu rekomendasi dari Gubernur Bali.
Padahal, Gubernur Bali Made Mangku Pastika jauh-jauh hari sudah mengeluarkan rekomendasi melalui surat bernomor 600/3481/sekret yang ditujukan kepada Presiden RI. Adapun isi surar tersebut, bandara Bali Utara dibangun di laut atau tepi pantai.
Direktur Bandar Udara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub Bintang Hidayat mengatakan pihaknya masih menunggu rekomendasi dari Gubernur Bali.
Dia menuturkan, dalam studi terdapat dua lokasi yang disarankan untuk pembangunan BIBU, yaitu di lepas pantai (offshore) atau area persawahan (onshore).
"Sampai saat ini kami masih menunggu rekomendasi dari Gubernur Bali, apakah ditetapkan di pantai atau area persawahan," kata Bintang.
Berdasarkan surat rekomendasi yang dikeluarkan Gubernur Bali itu, jelas sekali menyatakan bahwa pembangunan BIBU dilakukan secara offshore.
Sebagai informasi, PT Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) dan perusahaan asal Kanada, Kinesis Capital and Investment, telah menyiapkan anggaran sebesar Rp27 triliun untuk pembangunan BIBU. Namun sampai saat ini belum dapat dilaksanakan karena penlok ditentukan.
Ketua DPRD Bali Adi Wiryatana meminta bandara Bali Utara segera dibangun. Katanya, meski sudah mendapat kepastian, tapi pertanyaannya kapan akan dibangun.
"Sudah dipastikan BIBU akan dibangun, tapi pertanyaannya kapan pastinya? Kalau 10 tahun lagi sama saja bohong," ujar Adi.
Ditegaskannya, pembangunan BIBU merupakan wujud dari program Nawacita Presiden Joko Widodo. "Kalau tidak terealisasi atau diundur-undur akan memberikan citra buruk terhadap pemerintah," tukasnya.
Diungkapkannya, bandara Bali Utara sudah menjadi harapan masyarakat di Bali, khususnya di Kabupaten Buleleng, sejak tahun 2004.
Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Bali I Nengah Tambah mengatakan, masyarakat Bali berpegangan pada rekomendasi Gubernur Bali dalam menentukan penlok bandara Bali Utara.
"Penlok yang direkomendasikan Gubernur Made Mangku Pastika yaitu dibangun di laut atau tepi pantai," tegasnya.
Menurutnya, dibangunnya BIBU di laut atau pinggir pantai tidak akan menggusur tempat-tempat ibadah dan situs bersejarah di sekitarnya.
Yang terpenting, lanjut Nengah Tamba, dibangunnya BIBU secepatnya, maka akan dapat menciptakan keseimbangan antara Bali utara dan selatan.
Pengamat parwisata Omar Aram mengatakan, dengan dibangunnya BIBU di laut, maka akan menjadikan Indonesia sebagai negara satu-satunya di Asia Tenggara yang memiliki bandara mengapung.
Tak hanya itu, dirinya mendengar, selain membanguj bandara, investor juga akan membangun infrastruktur lainnya, seperti destinasi wisata berkelas internasional.
"Di sekitar BIBU akan dibangun theme park bertaraf internasional. Investor sedang melakukan penjajakan dengan Walt Disney dan Universal Studio untuk merealisasikan itu," tuturnya.
Dengan begitu, Omar berkeyakinan, kehadiran BIBU akan menambah jumlah wisatawan yang datang ke Bali. "Pada akhirnya akan menambah jumlah devisa negara," pungkas Omar.
Padahal, Gubernur Bali Made Mangku Pastika jauh-jauh hari sudah mengeluarkan rekomendasi melalui surat bernomor 600/3481/sekret yang ditujukan kepada Presiden RI. Adapun isi surar tersebut, bandara Bali Utara dibangun di laut atau tepi pantai.
Direktur Bandar Udara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub Bintang Hidayat mengatakan pihaknya masih menunggu rekomendasi dari Gubernur Bali.
Dia menuturkan, dalam studi terdapat dua lokasi yang disarankan untuk pembangunan BIBU, yaitu di lepas pantai (offshore) atau area persawahan (onshore).
"Sampai saat ini kami masih menunggu rekomendasi dari Gubernur Bali, apakah ditetapkan di pantai atau area persawahan," kata Bintang.
Berdasarkan surat rekomendasi yang dikeluarkan Gubernur Bali itu, jelas sekali menyatakan bahwa pembangunan BIBU dilakukan secara offshore.
Sebagai informasi, PT Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) dan perusahaan asal Kanada, Kinesis Capital and Investment, telah menyiapkan anggaran sebesar Rp27 triliun untuk pembangunan BIBU. Namun sampai saat ini belum dapat dilaksanakan karena penlok ditentukan.
Ketua DPRD Bali Adi Wiryatana meminta bandara Bali Utara segera dibangun. Katanya, meski sudah mendapat kepastian, tapi pertanyaannya kapan akan dibangun.
"Sudah dipastikan BIBU akan dibangun, tapi pertanyaannya kapan pastinya? Kalau 10 tahun lagi sama saja bohong," ujar Adi.
Ditegaskannya, pembangunan BIBU merupakan wujud dari program Nawacita Presiden Joko Widodo. "Kalau tidak terealisasi atau diundur-undur akan memberikan citra buruk terhadap pemerintah," tukasnya.
Diungkapkannya, bandara Bali Utara sudah menjadi harapan masyarakat di Bali, khususnya di Kabupaten Buleleng, sejak tahun 2004.
Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Bali I Nengah Tambah mengatakan, masyarakat Bali berpegangan pada rekomendasi Gubernur Bali dalam menentukan penlok bandara Bali Utara.
"Penlok yang direkomendasikan Gubernur Made Mangku Pastika yaitu dibangun di laut atau tepi pantai," tegasnya.
Menurutnya, dibangunnya BIBU di laut atau pinggir pantai tidak akan menggusur tempat-tempat ibadah dan situs bersejarah di sekitarnya.
Yang terpenting, lanjut Nengah Tamba, dibangunnya BIBU secepatnya, maka akan dapat menciptakan keseimbangan antara Bali utara dan selatan.
Pengamat parwisata Omar Aram mengatakan, dengan dibangunnya BIBU di laut, maka akan menjadikan Indonesia sebagai negara satu-satunya di Asia Tenggara yang memiliki bandara mengapung.
Tak hanya itu, dirinya mendengar, selain membanguj bandara, investor juga akan membangun infrastruktur lainnya, seperti destinasi wisata berkelas internasional.
"Di sekitar BIBU akan dibangun theme park bertaraf internasional. Investor sedang melakukan penjajakan dengan Walt Disney dan Universal Studio untuk merealisasikan itu," tuturnya.
Dengan begitu, Omar berkeyakinan, kehadiran BIBU akan menambah jumlah wisatawan yang datang ke Bali. "Pada akhirnya akan menambah jumlah devisa negara," pungkas Omar.
(maf)