Bamsoet: Komunikasi Tanpa Kepalsuan Jadi Kekuatan Utama Jokowi
Sabtu, 10 Maret 2018 - 16:04 WIB
Bamsoet: Komunikasi Tanpa Kepalsuan Jadi Kekuatan Utama Jokowi
A
A
A
JAKARTA - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai gaya komunikasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang hadir tanpa make up, topeng, dan kepalsuan menjadikan masyarakat maupun media massa selalu tertarik memberitakan sosoknya.
Sosok tampil apa adanya tanpa berusaha menjadi orang lain inilah yang dipandang Bamsoet sebagai kekuatan utama Jokowi.
Saat menghadiri peluncuran buku "Komunikasi Politik Jokowi" di Gedung DPR, Jakarta, Jumat 9 Maret 2018, politisi Golkar dengan sapaan akrab Bamsoet ini mengakui dirinya mengagumi gaya komunikasi politik Presiden Jokowi.
Dia menilai Jokowi yang sangat piawai dalam menggunakan komunikasi verbal dan non-verbal. Komunikasi yang dibangun menggunakan bahasa-bahasa sederhana dan merakyat, sehingga masyarakat lebih memahami pesan-pesan disampaikan Jokowi.
"Figur Presiden Jokowi yang apa adanya dan gaya bahasanya yang sederhana, justru menjadi perhatian masyarakat dan media massa untuk selalu memberitakan keunikannya," kata Bamsoet dalam siaran pers, Sabtu (10/3/2018).
Mantan Ketua Komisi III ini menilai, gaya komunikasi politik Jokowi menjadi tradisi baru di kalangan istana. Tradisi baru komunikasi politik Presiden Jokowi disebutnua berhasil meruntuhkan sifat kesakralan istana yang dipandang sebelumnya sangat kaku, formal dan penuh protokoler.
"Presiden Jokowi mempunyai banyak jurus komunikasi politik. Politik meja makan, ngeteh di beranda istana, mengenakan sarung sebagai lambang kaum santri, adalah beberapa kepiawaian Presiden dalam membangun persepsi publik. Gaya komunikasi politik seperti itu berhasil mengubah persepsi istana yang selalu digambarkan penuh formalitas dan protokoler," papar Bamsoet.
Demikian pula ketika memecahkan persoalan, Jokowi menurut Bamsoet cenderung lebih memilih gaya komunisi politik yang halus dan santun. Presiden Jokowi jarang menyanggah atau menjawab tudingan politik yang menyerangnya dengan perkataan, namun menjawab dengan komunikasi non verbal.
“Ketika mendapat serangan keras saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dihalangi Paspampres saat ingin turun mendampingi Jokowi saat penyerahan Piala Presiden 2018 kepada Persija, Jokowi tidak banyak berkomentar. Cukup Jokowi mengajak Pak Anies duduk satu mobil, selesai. Inilah cara-cara komunikasi politik yang efektif," ungkap Bamsoet.
Hal lain yang menjadi khas Presiden Jokowi, diutarakan Bamsoet adalah kebiasaannua menggunakan media sosial untuk memperlihatkan kesehariannya kepada masyarakat.
"Masyarakat jadi tahu bagaimana kesehariaan Presiden Jokowi diluar tugas kenegaraan. Melalui vlog, twitter, instagram, maupun instrumen media sosial lainnnya, Presiden Jokowi berhasil menyampaikan pesan bahwa dirinya juga manusia biasa yang juga menjalankan aktivitas kesehariaan seperti kebanyakan orang lainnya," tukas mantan pimpinan KADIN ini.
Sosok tampil apa adanya tanpa berusaha menjadi orang lain inilah yang dipandang Bamsoet sebagai kekuatan utama Jokowi.
Saat menghadiri peluncuran buku "Komunikasi Politik Jokowi" di Gedung DPR, Jakarta, Jumat 9 Maret 2018, politisi Golkar dengan sapaan akrab Bamsoet ini mengakui dirinya mengagumi gaya komunikasi politik Presiden Jokowi.
Dia menilai Jokowi yang sangat piawai dalam menggunakan komunikasi verbal dan non-verbal. Komunikasi yang dibangun menggunakan bahasa-bahasa sederhana dan merakyat, sehingga masyarakat lebih memahami pesan-pesan disampaikan Jokowi.
"Figur Presiden Jokowi yang apa adanya dan gaya bahasanya yang sederhana, justru menjadi perhatian masyarakat dan media massa untuk selalu memberitakan keunikannya," kata Bamsoet dalam siaran pers, Sabtu (10/3/2018).
Mantan Ketua Komisi III ini menilai, gaya komunikasi politik Jokowi menjadi tradisi baru di kalangan istana. Tradisi baru komunikasi politik Presiden Jokowi disebutnua berhasil meruntuhkan sifat kesakralan istana yang dipandang sebelumnya sangat kaku, formal dan penuh protokoler.
"Presiden Jokowi mempunyai banyak jurus komunikasi politik. Politik meja makan, ngeteh di beranda istana, mengenakan sarung sebagai lambang kaum santri, adalah beberapa kepiawaian Presiden dalam membangun persepsi publik. Gaya komunikasi politik seperti itu berhasil mengubah persepsi istana yang selalu digambarkan penuh formalitas dan protokoler," papar Bamsoet.
Demikian pula ketika memecahkan persoalan, Jokowi menurut Bamsoet cenderung lebih memilih gaya komunisi politik yang halus dan santun. Presiden Jokowi jarang menyanggah atau menjawab tudingan politik yang menyerangnya dengan perkataan, namun menjawab dengan komunikasi non verbal.
“Ketika mendapat serangan keras saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dihalangi Paspampres saat ingin turun mendampingi Jokowi saat penyerahan Piala Presiden 2018 kepada Persija, Jokowi tidak banyak berkomentar. Cukup Jokowi mengajak Pak Anies duduk satu mobil, selesai. Inilah cara-cara komunikasi politik yang efektif," ungkap Bamsoet.
Hal lain yang menjadi khas Presiden Jokowi, diutarakan Bamsoet adalah kebiasaannua menggunakan media sosial untuk memperlihatkan kesehariannya kepada masyarakat.
"Masyarakat jadi tahu bagaimana kesehariaan Presiden Jokowi diluar tugas kenegaraan. Melalui vlog, twitter, instagram, maupun instrumen media sosial lainnnya, Presiden Jokowi berhasil menyampaikan pesan bahwa dirinya juga manusia biasa yang juga menjalankan aktivitas kesehariaan seperti kebanyakan orang lainnya," tukas mantan pimpinan KADIN ini.
(maf)