Soal Posisi Sekjen, Airlangga Diminta Jangan Mudah Diintervensi
Senin, 25 Desember 2017 - 17:39 WIB
Soal Posisi Sekjen, Airlangga Diminta Jangan Mudah Diintervensi
A
A
A
JAKARTA - Pengamat komunikasi politik Emrus Sihombing meminta agar para senior Partai Golkar tidak mengintervensi Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto memilih sosok yang menjadi sekretaris jenderal (sekjen).
Emrus tak menampik kemungkinan adanya manuver-manuver senior Golkar yang ingin orangnya menduduki posisi sekjen, mendampingi Airlangga. "Serahkan sepenuhnya kepada Ketua Umum terpilih Airlangga yang sudah diberi mandat munaslub," kata Emrus kepada wartawan, Jakarta, Minggu 24 Desember 2017 malam.
Menurut Emrus, persaingan antarfaksi justru bisa menjadi embrio ketidakstabilan internal Golkar ke depan. "Serahkanlah otonomi itu pada Airlangga," ujar Emrus.
Dia menilai, Airlangga adalah sosok ketum baru yang lahir dari kondisi darurat bernama munaslub, proses politik yang dilakukan dalam kondisi darurat. "Ingat, munaslub ini adalah yang kedua kalinya setelah di Bali. Logikanya, ini baru sembuh tapi sudah mau dipaksa-paksa. Beri beliau (Airlangga) kemerdekaan memilih. Jangan lagi dibebani atau diganggu dengan soal titip-mentip nama jabatan sekjen," tutur Emrus.
Emrus menyarankan Airlangga berani keluar dari pusaran intervensi dengan memilih sekjen di luar nama yang disodorkan oleh faksi-faksi di Golkar. Dia mengatakan, jika nanti sekjennya dari salah satu faksi maka faksi lainnya akan merasa kalah dan ditinggal.
"Serahkan sepenuhnya kepada Airlangga yang sudah mendapat amanah sebagai formatur tunggal. Biarkan beliau menyusun kepengurusan baru Partai Golkar termasuk posisi sekjen," ujar Emrus.
Pertama, kata Emrus, menyerahkan kepada formatur tunggal yang sepenuhnya di tangan Airlangga. Kedua, para senior Golkar cukup memberi saran dan masukan kepada formatur. Dua pendekatan ini, menurut Emrus, merupakan cara-cara yang demokratis. "Selanjutnya, yang ketiga adalah titipan. Yang keempat paling tinggi adalah tekanan," ujar Emrus.
Menurut dia, jika ada titipan maka itu politik yang tidak sehat. "Ini tidak baik bagi Golkar yang ingin melangkah keluar dari masalah yang membelitnya," tandasnya.
Untuk mewujudkan harapan tersebut, kata dia, sebaiknya sekjen diisi oleh tokoh-tokoh muda yang selama ini berani menyuarakan harapannya tentang perubahan dan bersih-bersih di tubuh Golkar.
"Jangan lagi yang sepuh-sepuh. Ya setidaknya usianya harus di bawah Airlangga lah. Kita tahu, ada di antara tokoh-tokoh muda Golkar yang sampai dipecat karena kemarin lantang mengkritisi Golkar. Jangan juga ada pahlawan kesiangan yang tiba-tiba muncul," tutur Emrus.
Emrus tak menampik kemungkinan adanya manuver-manuver senior Golkar yang ingin orangnya menduduki posisi sekjen, mendampingi Airlangga. "Serahkan sepenuhnya kepada Ketua Umum terpilih Airlangga yang sudah diberi mandat munaslub," kata Emrus kepada wartawan, Jakarta, Minggu 24 Desember 2017 malam.
Menurut Emrus, persaingan antarfaksi justru bisa menjadi embrio ketidakstabilan internal Golkar ke depan. "Serahkanlah otonomi itu pada Airlangga," ujar Emrus.
Dia menilai, Airlangga adalah sosok ketum baru yang lahir dari kondisi darurat bernama munaslub, proses politik yang dilakukan dalam kondisi darurat. "Ingat, munaslub ini adalah yang kedua kalinya setelah di Bali. Logikanya, ini baru sembuh tapi sudah mau dipaksa-paksa. Beri beliau (Airlangga) kemerdekaan memilih. Jangan lagi dibebani atau diganggu dengan soal titip-mentip nama jabatan sekjen," tutur Emrus.
Emrus menyarankan Airlangga berani keluar dari pusaran intervensi dengan memilih sekjen di luar nama yang disodorkan oleh faksi-faksi di Golkar. Dia mengatakan, jika nanti sekjennya dari salah satu faksi maka faksi lainnya akan merasa kalah dan ditinggal.
"Serahkan sepenuhnya kepada Airlangga yang sudah mendapat amanah sebagai formatur tunggal. Biarkan beliau menyusun kepengurusan baru Partai Golkar termasuk posisi sekjen," ujar Emrus.
Pertama, kata Emrus, menyerahkan kepada formatur tunggal yang sepenuhnya di tangan Airlangga. Kedua, para senior Golkar cukup memberi saran dan masukan kepada formatur. Dua pendekatan ini, menurut Emrus, merupakan cara-cara yang demokratis. "Selanjutnya, yang ketiga adalah titipan. Yang keempat paling tinggi adalah tekanan," ujar Emrus.
Menurut dia, jika ada titipan maka itu politik yang tidak sehat. "Ini tidak baik bagi Golkar yang ingin melangkah keluar dari masalah yang membelitnya," tandasnya.
Untuk mewujudkan harapan tersebut, kata dia, sebaiknya sekjen diisi oleh tokoh-tokoh muda yang selama ini berani menyuarakan harapannya tentang perubahan dan bersih-bersih di tubuh Golkar.
"Jangan lagi yang sepuh-sepuh. Ya setidaknya usianya harus di bawah Airlangga lah. Kita tahu, ada di antara tokoh-tokoh muda Golkar yang sampai dipecat karena kemarin lantang mengkritisi Golkar. Jangan juga ada pahlawan kesiangan yang tiba-tiba muncul," tutur Emrus.
(dam)