Elit Harus Berpikir Bagaimana Nasib Golkar di Pilkada 2018 dan Pemilu 2019
Sabtu, 25 November 2017 - 16:21 WIB
Elit Harus Berpikir Bagaimana Nasib Golkar di Pilkada 2018 dan Pemilu 2019
A
A
A
JAKARTA - Pengurus Partai Golkar baik di daerah maupun pusat harus memikirkan bagaimana nasib partai di Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019. Artinya jangan sampai para elit Partai Golkar terjebak dan terus menerus berfokus kepada satu orang.
Yang terpenting sekarang adalah bagaimana mengganti posisi Setya Novanto (Setnov) dari kursi ketua umum partai dan ketua DPR karena terjerat kasus korupsi di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
"Yang harus diipikirkan keluarga besar Golkar sekarang adalah bagaimana nasibnya di tahun 2018 khususnya pilkada serentak dan juga bagaimana kesiapan Golkar mempromosikan calon-calon legislatifnya dan calon presiden dan wakil presiden pada 2019," ujar pakar politik LIPI Siti Zuhro dalam acara Polemik Radio MNC Trijaya Network bertema 'Beringin Diterpa Angin' di Warung Daun, Jakarta Pusat, Sabtu (25/11/2017).
Menurut Zuhro, Golkar harus berbenah diri dari kasus yang sedang dialami Novanto saat ini. Partai Golkar, kata dia, harus mau membuka diri mendengarkan aspirasi masyarakat dalam mengganti jabatan Setnov sebagai ketua umum Golkar.
"Saat ini tarik menarik untuk mempertahankan Pak Setnov dan melakukan munaslub itu jelas sekali. Menurut saya partai off ideas itu akan hilang jika tidak menyuarakan rakyat ketika Golkar menafikan aspirasi rakyat," bebernya.
Inisiatior Generasi Muda Partai Golkar (GMPG) Ahmad Doli Kurnia mengatakan saat ini partai Golkar lebih baik fokus menatap agenda politik yang lebih besar, dibandingkan sibuk dengan urusan Setnov. "Golkar harus segera putuskan untuk memisahkan urusan Novanto pribadi dengan partai," kata Doli diacara yang sama.
Doli menekankan Golkar harus bergerak cepat untuk berbenah. Pasalnya, tahun 2018 akan berlangsung Pilkada serentak dan pada tahun 2019 digelar Pemilihan Legislatif (Pileg) sekaligus Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
"Harapan kami ada percepatan. Saya dengar minggu depan DPP kembali pleno, saya kira perkembangan pleno kemarin begitu banyaknya respon masyarakat agar Golkar berubah," papar Doli.
Yang terpenting sekarang adalah bagaimana mengganti posisi Setya Novanto (Setnov) dari kursi ketua umum partai dan ketua DPR karena terjerat kasus korupsi di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
"Yang harus diipikirkan keluarga besar Golkar sekarang adalah bagaimana nasibnya di tahun 2018 khususnya pilkada serentak dan juga bagaimana kesiapan Golkar mempromosikan calon-calon legislatifnya dan calon presiden dan wakil presiden pada 2019," ujar pakar politik LIPI Siti Zuhro dalam acara Polemik Radio MNC Trijaya Network bertema 'Beringin Diterpa Angin' di Warung Daun, Jakarta Pusat, Sabtu (25/11/2017).
Menurut Zuhro, Golkar harus berbenah diri dari kasus yang sedang dialami Novanto saat ini. Partai Golkar, kata dia, harus mau membuka diri mendengarkan aspirasi masyarakat dalam mengganti jabatan Setnov sebagai ketua umum Golkar.
"Saat ini tarik menarik untuk mempertahankan Pak Setnov dan melakukan munaslub itu jelas sekali. Menurut saya partai off ideas itu akan hilang jika tidak menyuarakan rakyat ketika Golkar menafikan aspirasi rakyat," bebernya.
Inisiatior Generasi Muda Partai Golkar (GMPG) Ahmad Doli Kurnia mengatakan saat ini partai Golkar lebih baik fokus menatap agenda politik yang lebih besar, dibandingkan sibuk dengan urusan Setnov. "Golkar harus segera putuskan untuk memisahkan urusan Novanto pribadi dengan partai," kata Doli diacara yang sama.
Doli menekankan Golkar harus bergerak cepat untuk berbenah. Pasalnya, tahun 2018 akan berlangsung Pilkada serentak dan pada tahun 2019 digelar Pemilihan Legislatif (Pileg) sekaligus Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
"Harapan kami ada percepatan. Saya dengar minggu depan DPP kembali pleno, saya kira perkembangan pleno kemarin begitu banyaknya respon masyarakat agar Golkar berubah," papar Doli.
(pur)