Mahasiswa Minta DPR Cepat Selesaikan Revisi UU Antiterorisme
Jum'at, 16 Juni 2017 - 20:46 WIB
Mahasiswa Minta DPR Cepat Selesaikan Revisi UU Antiterorisme
A
A
A
JAKARTA - Presidium Sentral Kajian Strategis (SKS) Mahasiswa, Chairullah mendukung kinerja aparat keamanan dan intelijen dalam melakukan pemberantasan terorisme.
Dukungan ini diberikan di tengah munculnya wacana yang menilai negatif kinerja intelijen.
Menurut Chairullah, peristiwa teror tidak hanya di Indonesia. Baru-baru ini Inggris, Jerman, mesir, dan banyak negara lagi yang mengalami serangan teror, termasuk Indonesia.
"Tidak ada satu negara pun bisa memprediksi kapan dan di mana teror itu terjadi," ujar Chairullah dalam diskusi bertajuk Mahasiswa Bicara Terosisme di Jakarta, Jumat (16/6/2017).
Menurut dia, ada kesadaran dan kesepakatan di dunia bahwa terorisme sudah menjadi kejahatan transnasional. Pemberantasan terorisme pun harus dilakukan secara bersama-sama.
Di Indonesia, sambung dia, sudah sekian kali terjadi peristiwa teror meski penindakan aparat keamanan dan intelijen telah maksimal.
"Tanggung jawab pemberantasan terorisme tidak hanya oleh aparat keamanan dan intelijen semata, tetapi juga tanggung jawab semua pihak, masyarakat termasuk mahasiswa," ujar mahasiswa UBK ini.
Menurut dia, yang harus dilakukan mahasiswa adalah memberi dukungan kepada aparat keamanan dan intelijen untuk memberantas terorisme. "Dukungan yang paling mudah adalah tidak saling menyalahkan aparat keamanan dalam melakukan pemberantasan terorisme," tandasnya.
Dia mengatakan, sikap menyalahkan aparat keamanan dan intelijen justru akan menguntungkan kelompok teroris. "Mereka sudah berhasil memecah masyarakat untuk memusuhi aparat keamanan dan intelijen," katanya.
Oleh karena itu, SKS Mahasiswa menyerukan masyarakat untuk mendukung upaya aparat keamanan dan intelijen dalam pemberantasan terorisme, termasuk tidak mengeluarkan pernyataan menyudutkan aparat keamanan dan intelijen sehingga kelompok teroris merasa mendapat dukungan.
"Terakhir, mendesak DPR segera mengesahkan RUU Terorisme yang saat ini tidak menunjukkan tanda-tanda penyelesaian di DPR. Jika Ketua Pansus Terorisme dinilai sebagai penghambat, sebaiknya diganti saja untuk kebaikan bersama," kata Chairullah.
Dukungan ini diberikan di tengah munculnya wacana yang menilai negatif kinerja intelijen.
Menurut Chairullah, peristiwa teror tidak hanya di Indonesia. Baru-baru ini Inggris, Jerman, mesir, dan banyak negara lagi yang mengalami serangan teror, termasuk Indonesia.
"Tidak ada satu negara pun bisa memprediksi kapan dan di mana teror itu terjadi," ujar Chairullah dalam diskusi bertajuk Mahasiswa Bicara Terosisme di Jakarta, Jumat (16/6/2017).
Menurut dia, ada kesadaran dan kesepakatan di dunia bahwa terorisme sudah menjadi kejahatan transnasional. Pemberantasan terorisme pun harus dilakukan secara bersama-sama.
Di Indonesia, sambung dia, sudah sekian kali terjadi peristiwa teror meski penindakan aparat keamanan dan intelijen telah maksimal.
"Tanggung jawab pemberantasan terorisme tidak hanya oleh aparat keamanan dan intelijen semata, tetapi juga tanggung jawab semua pihak, masyarakat termasuk mahasiswa," ujar mahasiswa UBK ini.
Menurut dia, yang harus dilakukan mahasiswa adalah memberi dukungan kepada aparat keamanan dan intelijen untuk memberantas terorisme. "Dukungan yang paling mudah adalah tidak saling menyalahkan aparat keamanan dalam melakukan pemberantasan terorisme," tandasnya.
Dia mengatakan, sikap menyalahkan aparat keamanan dan intelijen justru akan menguntungkan kelompok teroris. "Mereka sudah berhasil memecah masyarakat untuk memusuhi aparat keamanan dan intelijen," katanya.
Oleh karena itu, SKS Mahasiswa menyerukan masyarakat untuk mendukung upaya aparat keamanan dan intelijen dalam pemberantasan terorisme, termasuk tidak mengeluarkan pernyataan menyudutkan aparat keamanan dan intelijen sehingga kelompok teroris merasa mendapat dukungan.
"Terakhir, mendesak DPR segera mengesahkan RUU Terorisme yang saat ini tidak menunjukkan tanda-tanda penyelesaian di DPR. Jika Ketua Pansus Terorisme dinilai sebagai penghambat, sebaiknya diganti saja untuk kebaikan bersama," kata Chairullah.
(dam)