Libatkan TNI Berantas Terorisme, Pemerintah Harus Racik UU Ini

Jum'at, 02 Juni 2017 - 13:53 WIB
Libatkan TNI Berantas...
Libatkan TNI Berantas Terorisme, Pemerintah Harus Racik UU Ini
A A A
JAKARTA - Kompolnas mencatat, ada tiga hal yang belum terwujud dalam rangka reformasi pertahanan dan keamanan dalam rangka mewujudkan TAP MPR Nomor 7 Tahun 2000 tentang Peran TNI dan Polri.

Komisioner Kompolnas Poengky Indarti mengatakan, tiga hal itu adalah pertama belum ada undang-undang yang mengatur tentang TNI memberikan bantuan kepada Polri dalam rangka tugas keamanan atas permintaan.

Kedua, selama ini prajurit TNI harus tunduk kepada kekuasaan peradilan militer jika melakukan pelanggaran hukum militer. Namun jika prajurit TNI melakukan pelanggaran hukum pidana umum, belum diatur dalam undang-undang untuk diadili di peradilan umum.

Ketiga, ketika keadaan darurat, Polri memberikan bantuan kepada TNI juga belum diatur dalam undang-undang.

"Ini akan jadi dilema kalau melibatkan TNI dalam memberantas terorisme. Karena ketiga hal itu belum diatur dalam undang-undang," kata Poengky di Kantor Kompolnas, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (2/6/2017).

Lebih lanjut Poengky menjelaskan, terorisme merupakan tindak pidana sehingga dalam Undang-Undang Terorisme sendiri disebut memerangi tindak pidana dan yang menjadi leading sector adalah kepolisian. Sementara TNI adalah aparat pertahanan yang menjaga negara agar tidak diserang musuh dari luar.

"Apakah TNI bisa terlibat menangani-menangani tindak pidana terorisme ini jawabannya bisa dengan syarat harus ada Undang-Undang perbatuan TNI kepada Polri dan harus ada pertanggungjawaban kalau aparat militer melakukan tindak pidana umum atau kriminal maka harus disidang di peradilan umum," tegasnya.

Jika dua undang-undang itu belum ada, kata Poengky, maka tidak bisa TNI kemudian dilibatkan dalam pemberantasan terorisme karena akan menabrak tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia dan juga bertentangan dengan pembentukan peraturan undang-undang yang baik. Karena Indonesia sudah mempunyai aturan Undang-Undang nomor 12 tahun 2011 tentang Peraturan Perundang-undangan.

"Ini tidak bisa ditabrak suka-suka seperti itu karena Indonesia adalah negara hukum. Jika aturan ini diabaikan akibatnya akan berbahaya pada sistem peradilan pidana di Indonesia, akan merusak tatanan masyarakat sipil, dan merebaknya pelanggaran HAM," tukasnya.
(maf)
Berita Terkait
BREAKING NEWS, Densus...
BREAKING NEWS, Densus 88 Antiteror Tangkap Teroris di Bekasi
Terkait ISIS, Ini Identitas...
Terkait ISIS, Ini Identitas Lengkap Terduga Teroris di Bekasi
Pria Australia Didakwa...
Pria Australia Didakwa UU Terorisme karena Serukan Pembunuhan Muslim
BNPT dan LPSK Bahas...
BNPT dan LPSK Bahas PP Perlindungan Korban Terorisme
Geledah Rumah Terduga...
Geledah Rumah Terduga Teroris di Bekasi, Densus 88 Sita Senjata Api dan Amunisi
Seorang WNI Jadi Orang...
Seorang WNI Jadi Orang Pertama yang Diadili di Bawah UU Terorisme Baru Filipina
Berita Terkini
Kasus Korupsi MBG Jadi...
Kasus Korupsi MBG Jadi Alarm Integritas Yayasan, PFI Dorong Audit dan Pengawasan Ketat
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Penahanan Sudewo Dipindah...
Penahanan Sudewo Dipindah ke Semarang Jelang Sidang Perdana Kasusnya
Mensos Gus Ipul Tegaskan...
Mensos Gus Ipul Tegaskan Tak Ada Zona Aman untuk Korupsi di Kemensos
Alasan Natalius Pigai...
Alasan Natalius Pigai Usul Jabatan Utama Polri Bisa Diisi Sipil
Silmy Karim Cs Ditahan...
Silmy Karim Cs Ditahan KPK, DPR Bakal Minta Penjelasan Kemenimipas
Infografis
Ini Beda Spek dan Harga...
Ini Beda Spek dan Harga Motor Listrik Mahal BGN Emmo JVX GT vs JVH Max
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved