DPR: Investigasi Kecelakaan di Natuna Jadi Bahan Evaluasi Alutsista
Kamis, 18 Mei 2017 - 15:20 WIB
DPR: Investigasi Kecelakaan di Natuna Jadi Bahan Evaluasi Alutsista
A
A
A
JAKARTA - Komisi I DPR mendesak TNI melakukan investigasi kasus tewasnya empat prajurit dalam persiapan pembukaan latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Tanjung Datuk, Natuna, Kepualauan Riau, Rabu 17 Mei 2017.
Kecelakaan terjadi akibat adanya gangguan teknis pada meriam yang digunakan saat itu. Padahal meriam jenis Giant Bow ini terbilang baru dan digunakan di Indonesia sejak tahun 2008.
"Cuma ini menarik karena senjata ini cukup baru, senjata Giant Bow itu produk China, masuk ke indonesia kalau tidak salah tahun 2008 dibeli oleh TNI, ditempatkan di Batalyon Artileri Pertahanan Udara Kostrad," kata Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin kepada wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (18/5/2017). (Baca Juga: Empat Prajurit TNI Tewas Saat Persiapan Latihan Perang di Natuna )
Hasanuddin meminta TNI melakukan investigasi untuk mengevaluasi langkah selanjutnya. "Kita sudah minta, memohon dengan hormat untuk dilaksanakan investigasi penyebabnya itu apa, apakah alat bidik otomatisnya itu tidak bekerja, sehingga meriam masih terjadi penembakan, dan kemudian menggugurkan beberapa orang itu," ujar politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu.
Oleh karena itu, lanjut dia, setelah investigasi akan dilanjutkan dengan evaluasi mengenai pengadaan alutsista itu. Hasanuddin juga meminta TNI dan TNI AD menjelaskan secara gamblang kecelakaan tersebut kepada Komisi I.
Kendati demikian, dia mengaku tidak mengetahui proses pengadaan meriam tersebut karena dirinya baru masuk DPR pada 2009. Dia menilai perlu melihat secara utuh peralatan tersebut. Yang jelas, kata dia, senjata tersebut masih relatif baru.
"Kalau disebut usang memang belum lah, masih layak atau sangat layak untuk ukuran baru tujuh tahun," ucapnya.
Kecelakaan terjadi akibat adanya gangguan teknis pada meriam yang digunakan saat itu. Padahal meriam jenis Giant Bow ini terbilang baru dan digunakan di Indonesia sejak tahun 2008.
"Cuma ini menarik karena senjata ini cukup baru, senjata Giant Bow itu produk China, masuk ke indonesia kalau tidak salah tahun 2008 dibeli oleh TNI, ditempatkan di Batalyon Artileri Pertahanan Udara Kostrad," kata Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin kepada wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (18/5/2017). (Baca Juga: Empat Prajurit TNI Tewas Saat Persiapan Latihan Perang di Natuna )
Hasanuddin meminta TNI melakukan investigasi untuk mengevaluasi langkah selanjutnya. "Kita sudah minta, memohon dengan hormat untuk dilaksanakan investigasi penyebabnya itu apa, apakah alat bidik otomatisnya itu tidak bekerja, sehingga meriam masih terjadi penembakan, dan kemudian menggugurkan beberapa orang itu," ujar politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu.
Oleh karena itu, lanjut dia, setelah investigasi akan dilanjutkan dengan evaluasi mengenai pengadaan alutsista itu. Hasanuddin juga meminta TNI dan TNI AD menjelaskan secara gamblang kecelakaan tersebut kepada Komisi I.
Kendati demikian, dia mengaku tidak mengetahui proses pengadaan meriam tersebut karena dirinya baru masuk DPR pada 2009. Dia menilai perlu melihat secara utuh peralatan tersebut. Yang jelas, kata dia, senjata tersebut masih relatif baru.
"Kalau disebut usang memang belum lah, masih layak atau sangat layak untuk ukuran baru tujuh tahun," ucapnya.
(dam)