Wacana Sertifikasi Khatib Jumat Dikritik

Senin, 30 Januari 2017 - 22:34 WIB
Wacana Sertifikasi Khatib...
Wacana Sertifikasi Khatib Jumat Dikritik
A A A
JAKARTA - Wacana sertifikasi khatib atau penceramah salat Jumat menuai kritik. Wacana tersebut dinilai tidak tepat, apalagi jika dilakukan dalam kondisi saat ini.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sodik Mudjahid berpandangan jika sertifikasi khatib dilakukan atas pertimbangan menjaga toleransi antarumat beragama, dirinya menyetujui usulan itu. Namun dia menolak jika sertifikasi hanya untuk merespons ancaman disintegrasi dan pertentangan agama maka dia menolak.

"Saya berada pada posisi yang setuju jika bukan soal (persoalan) disintegrasi," kata Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sodik Mujahid dalam rapat kerja (raker) bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Gedung DPR, Jakarta, Senin (30/1/2017) sore.

Hal senada diungkapkan Anggota Komisi VIII dari Fraksi PAN Kuswiyanto. Dia mengatakan, pada dasarnya rekomendasi itu bagus. Namun sebaiknya tidak dilakukan saat ini.

Menurut dia, saat ini umat Islam sedang dalam posisi tertuduh, bahkan sampai ada gerakan Aksi Damai 4 November (411) dan 2 Desember (212). "Pemerintah kan lagi aksi reaksi. Sampai kapan pun negara akan gaduh," ujarnya.

Kuswiyanto mengatakan, semestinya pemerintah mengajak semua pihak terkait untuk duduk bersama. Menurut dia, sesuatu yang benar, belum tentu benar jika waktunya tidak tepat.

Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan posisi institusinya hanya memfasilitasi aspirasi masyarakat. “Saya sudah gamblang. Sebaiknya konfirmasi dengan masyarakat ormas yang mengadu ke saya, dan keluhan-keluhan itu lihat di medsos karena saya kebetulan aktif di media sosial, Twitter,” kata Lukman kepada wartawan usai raker dengan Komisi VIII DPR.

Menurut Lukman, hakikat khotbah itu adalah menyampaikan nasihat, ajakan hal-hal positif dan tausiyah. Namun, kata dia, terkadang ada beberapa khatib yang lupa dengan membanding-bandingkan dan mengejek.

Bahkan, kata dia, isi ceramah bertolak belakang dengan usaha untuk menasihati jamaah. “Pendekatan promotif bukan konfrontatif. Nah dalam konteks kemajemukan Indonesia, ini menimbulkan disintegrasi,” ujar politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu.

Untuk itu, lanjut dia, Kementerian Agama dan pemerintah akan mengingatkan para khatib agar khotbah yang disampaikan tidak konfrontatif. “Saya coba ajak ormas-ormas Islam untuk seberapa besar kebutuhan untuk pengaturan ini. Pemerintah melalui Kemenag hanya memfasilitasi saja aspirasi yang berkembang,” ungkapnya.
(dam)
Berita Terkait
Jejak Buddha Nusantara,...
Jejak Buddha Nusantara, Komitmen MNSBDI untuk Kerukunan dan Budaya
Kemenag Siapkan Regulasi...
Kemenag Siapkan Regulasi Khusus Rumah Doa untuk Perkuat Kerukunan
PKUB Kemenag Inisiasi...
PKUB Kemenag Inisiasi Festival Kerukunan di Desa, Warga: Luar Biasa
Ratusan Orang Muda Lintas...
Ratusan Orang Muda Lintas Agama dan Kepercayaan Rawat Toleransi
Menjaga Kerukunan Umat...
Menjaga Kerukunan Umat Beragama: Menuju Indonesia Emas Tahun 2024
Revitalisasi Paradigma...
Revitalisasi Paradigma Trilogi Kerukunan untuk Kebutuhan Umat Saat ini
Berita Terkini
Tumbuhkan Asa Jurnalis...
Tumbuhkan Asa Jurnalis Muda di Era Disruspi Digital, IJTI Gelar Konferensi Jurnalis Kampus se-Indonesia
Kemenag Catat 2 Juta...
Kemenag Catat 2 Juta Hewan Kurban Senilai Rp18,28 Triliun Dipotong saat Iduladha
KPK Kembali Geledah...
KPK Kembali Geledah Rumah Silmy di Jalan Brawijaya Jaksel
LPSK Siap Berikan Perlindungan...
LPSK Siap Berikan Perlindungan bagi Justice Collaborator Kasus BGN dan Imipas
Ditangkap Kejagung,...
Ditangkap Kejagung, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Masih Syok
Sony Sonjaya Siap Jadi...
Sony Sonjaya Siap Jadi Justice Collaborator, Bakal Ungkap Orang Besar yang Jadi Dalang
Infografis
Jadwal Imsakiyah Ramadan...
Jadwal Imsakiyah Ramadan 1447 H, Jumat 20 Februari 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved