Tangani Kasus Terorisme, Polri Masih Gunakan Cara Menakutkan

Kamis, 22 Desember 2016 - 11:43 WIB
Tangani Kasus Terorisme,...
Tangani Kasus Terorisme, Polri Masih Gunakan Cara Menakutkan
A A A
JAKARTA - Langkah Polri melumpuhkan para terduga teroris di berbagai daerah mendapat apresiasi berbagai kalangan. Di tengah banyaknya apresiasi, adapula kritik terhadap Polri terkait cara-cara yang digunakan dalam menangani kasus terorisme.

Direktur Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi menilai Polri masih menggunakan pendekatan kekerasan (hard approach) dengan menggunakan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror dalam menangani kasus teroris, seperti yang terjadi di Tangerang Selatan.

"Hard approach kembali tampak justru di saat Polri sedang menghadapi tantangan dan kritik tajam atas kegagalan komunikasi publiknya, terkait situasi politik dan keamanan belakangan ini," kata Khairul melalui keterangan pers yang diterima SINDOnews, Kamis (22/12/2016).

Khairul menuturkan, sejak Jenderal Tito Karnavian menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) kemudian menjadi Kapolri dan posisinya digantikan oleh Komjen Suhardi Alius, muncul ekspektasi agar BNPT dan Polri mengembangkan model pemberantasan teror yang tidak lebih menakutkan ketimbang teror itu sendiri.

Nama besar Tito dan dukungan luas, kata Khairul, diharapkan menjadi modal bagus untuk menggalang dukungan yang lebih besar bagi proposal pemberantasan terorisme yang ditawarkannya.

Di antara harapan itu, kata Khairul, pemberantasan teror tidak melulu mengusung hard approach ala Densus 88 yang dikritik banyak pihak. Menurut dia, sebenarnya ada harapan agar penanganan teror tidak melulu menewaskan terduga.

Dengan demikian, kata dia, proses peradilan dapat digelar dan pengungkapannya tidak menimbulkan kecurigaan maupun kesimpangsiuran. "Sayang harapan tersebut belum terwujud kemarin," ucap Khairul. (Baca juga: Baku Tembak di Tangerang Selatan, Tiga Terduga Teroris Tewas)

Sebelumnya, dalam penggerebekan di sebuah rumah kontrakan di Tangerang Selatan, tiga terduga teroris tewas dalam baku tembak dengan Densus 88.

Penggerebekan di Tangsel dilakukan setelah Densus 88 menangkap terduga teroris bernama Adam. Setelah itu tim Densus bergerak ke kontrakan yang ditinggali Omen, Irwan, dan Helmi.

Menurut Polri, keempatnya berencana melakukan aksi bom bunuh diri di pos polisi lalu lintas Serpong pada saat Natal dan tahun baru. Tiga orang di antaranya, Omen, Helmi, dan Irwan, tewas ditembak Densus 88 karena melawan saat hendak ditangkap.
(dam)
Berita Terkait
Mahasiswa Gelar Aksi...
Mahasiswa Gelar Aksi Solidaritas Mengecam Terorisme
Konflik Berpotensi Jadi...
Konflik Berpotensi Jadi Pemicu Aksi Terorisme
Bos MI5: 31 Rencana...
Bos MI5: 31 Rencana Teror Tahap Akhir Digagalkan dalam 4 Tahun di Inggris
Resmi Ditahan, Munarman...
Resmi Ditahan, Munarman Kini Boleh Dikunjungi Kuasa Hukum
Cegah Terorisme, Masyarakat...
Cegah Terorisme, Masyarakat Harus Peka Lingkungan Sekitar
Moeldoko Minta Jangan...
Moeldoko Minta Jangan Pernah Lupakan Aksi Terorisme
Berita Terkini
Dubes Wang Lutong Ungkap...
Dubes Wang Lutong Ungkap Purbaya Bakal ke China Pekan Depan, Bahas Apa?
Ketum Rampai Nusantara:...
Ketum Rampai Nusantara: Kami Yakin Roy Suryo Akan Segera Ditahan
Yusril Bicara Kedekatan...
Yusril Bicara Kedekatan Prabowo-Trump, Sebut Hubungan RI-AS Tak Sekadar Urusan Pemerintah
Jelang Muktamar ke-35,...
Jelang Muktamar ke-35, Calon Ketum PBNU Gus Salam Silaturahmi dengan PWNU dan PCNU se-NTT
AS Rayakan 250 Tahun...
AS Rayakan 250 Tahun Kemerdekaan, Soroti Masa Depan Kemitraan Strategis dengan Indonesia
Kejagung Limpahkan 11...
Kejagung Limpahkan 11 Tersangka Kasus Korupsi Ekspor CPO ke Jaksa Penuntut Umum
Infografis
Rentetan Kasus Korupsi...
Rentetan Kasus Korupsi di Jateng: Tiga Bupati Terjaring KPK pada Awal 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved