Kapolri Beberkan Alasan Geser Aksi 212 ke Monas
Senin, 05 Desember 2016 - 17:08 WIB
Kapolri Beberkan Alasan Geser Aksi 212 ke Monas
A
A
A
JAKARTA - Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian membeberkan alasan lokasi Aksi Bela Islam III yang digelar pada 2 Desember lalu akhirnya digeser ke Lapangan Silang Monas, Jakarta.
Padahal semula aksi tersebut rencananya digelar di sepanjang Semanggi hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI).
Tito mengungkapkan saat itu ada kekhawatiran ada pihak-pihak yang akan menarik massa aksi ke Kompleks DPR. Atas alasan itu, menurut Tito, kepolisian akhirnya berusaha untuk menggeser lokasi aksi.
Sebelum muncul kesepakatan aksi digelar di Monas, Tito sempat mengusulkan kepada Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) untuk menyelenggarakan aksi di Masjid Istiqlal.
Saat itu GNPF MUI menolak dengan alasan keamanan bagi massa aksi. GNPF-MUI yakin massa aksi 2 Desember 2016 lebih besar dari 4 November 2016.
Kapolri mengungkapkan ada kekhawatiran jika digelar di Masjid Istiqlal akan terjadi sesuatu karena tidak menampung massa. "Mereka sarankan di tempat yang terbuka. Akhirnya kita sepakati tempatnya di Monas," ujar Tito saat rapat kerja dengan Komisi III DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (5/12/2016).
Menurut dia, ada beberapa pertimbangan memilih Lapangan Silang Monas menjadi lokasi aksi 2 Desember. Pertama, lokasinya luas. Kedua, kepolisian lebih mudah mengontrol massa.
Ketiga, ada informasi akan ada pihak-pihak tertentu yang membajak massa aksi untuk dibawa ke DPR.
Oleh karena itu, kata dia, harus ada jarak yang harus ditempuh untuk mengantisipasi terjadinya pergeseran massa. "Kita punya cadangan sekat-sekat di beberapa tempat dan kita menekankan agenda ini adalah murni ibadah. Meski tagline-nya penjarakan Ahok, tapi zikir dan doa bersama demi keselamatan negeri itu menjadi lebih soft," ucap Tito.
Padahal semula aksi tersebut rencananya digelar di sepanjang Semanggi hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI).
Tito mengungkapkan saat itu ada kekhawatiran ada pihak-pihak yang akan menarik massa aksi ke Kompleks DPR. Atas alasan itu, menurut Tito, kepolisian akhirnya berusaha untuk menggeser lokasi aksi.
Sebelum muncul kesepakatan aksi digelar di Monas, Tito sempat mengusulkan kepada Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) untuk menyelenggarakan aksi di Masjid Istiqlal.
Saat itu GNPF MUI menolak dengan alasan keamanan bagi massa aksi. GNPF-MUI yakin massa aksi 2 Desember 2016 lebih besar dari 4 November 2016.
Kapolri mengungkapkan ada kekhawatiran jika digelar di Masjid Istiqlal akan terjadi sesuatu karena tidak menampung massa. "Mereka sarankan di tempat yang terbuka. Akhirnya kita sepakati tempatnya di Monas," ujar Tito saat rapat kerja dengan Komisi III DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (5/12/2016).
Menurut dia, ada beberapa pertimbangan memilih Lapangan Silang Monas menjadi lokasi aksi 2 Desember. Pertama, lokasinya luas. Kedua, kepolisian lebih mudah mengontrol massa.
Ketiga, ada informasi akan ada pihak-pihak tertentu yang membajak massa aksi untuk dibawa ke DPR.
Oleh karena itu, kata dia, harus ada jarak yang harus ditempuh untuk mengantisipasi terjadinya pergeseran massa. "Kita punya cadangan sekat-sekat di beberapa tempat dan kita menekankan agenda ini adalah murni ibadah. Meski tagline-nya penjarakan Ahok, tapi zikir dan doa bersama demi keselamatan negeri itu menjadi lebih soft," ucap Tito.
(dam)