Faktor Ini Bisa Jadi Jokowi Reshuffle Sejumlah Menteri
Minggu, 03 April 2016 - 13:07 WIB
Faktor Ini Bisa Jadi Jokowi Reshuffle Sejumlah Menteri
A
A
A
JAKARTA - Isu perombakan menteri atau reshuffle dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam beberapa pekan terakhir ini semakin kencang terdengar.
Menurut pengamat sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun, reshuffle yang terjadi pada kabinet kerja disebabkan oleh Jokowi yang memilih para menteri dengan penuh transaksional, akibatnya kinerja menteri tidak maksimal.
“Jadi sejak awal Presiden (Jokowi) tidak memilih menteri berdasarkan keahliannya, tapi memilih dengan cara transaksional,” kata Ubedilah saat dihubungi Sindonews, Jakarta, Minggu (3/4/2016).
Selain itu, pemilihan menteri yang dilatarbelakangi dengan koalisi partai politik (parpol) pendukung Jokowi yang ingin mendapatkan kekuasaan dengan mudah, tanpa berdasarkan keahlian yang dimiliki justru membahayakan pemerintahan.
“Lihat saja, dalam beberapa bulan banyak partai yang mendekat. Tentu saja mereka enggak gratis, mereka pengin kekuasaan,” ujarnya.
Dia menambahkan, fakta seperti itu jelas menunjukkan Jokowi sangat bergantung dengan dukungan parpol yang mengakibatkan pemerintah mudah mengubah situasi politik yang sebetulnya memberikan dampak negatif untuk Indonesia.
“Padahal saat ini kita (Indonesia) membutuhkan performance menteri yang berkualitas dengan problem bangsa yang cukup kuat,” tandasnya.
Menurut pengamat sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun, reshuffle yang terjadi pada kabinet kerja disebabkan oleh Jokowi yang memilih para menteri dengan penuh transaksional, akibatnya kinerja menteri tidak maksimal.
“Jadi sejak awal Presiden (Jokowi) tidak memilih menteri berdasarkan keahliannya, tapi memilih dengan cara transaksional,” kata Ubedilah saat dihubungi Sindonews, Jakarta, Minggu (3/4/2016).
Selain itu, pemilihan menteri yang dilatarbelakangi dengan koalisi partai politik (parpol) pendukung Jokowi yang ingin mendapatkan kekuasaan dengan mudah, tanpa berdasarkan keahlian yang dimiliki justru membahayakan pemerintahan.
“Lihat saja, dalam beberapa bulan banyak partai yang mendekat. Tentu saja mereka enggak gratis, mereka pengin kekuasaan,” ujarnya.
Dia menambahkan, fakta seperti itu jelas menunjukkan Jokowi sangat bergantung dengan dukungan parpol yang mengakibatkan pemerintah mudah mengubah situasi politik yang sebetulnya memberikan dampak negatif untuk Indonesia.
“Padahal saat ini kita (Indonesia) membutuhkan performance menteri yang berkualitas dengan problem bangsa yang cukup kuat,” tandasnya.
(maf)