Jika Terlibat Jual Beli Organ, RSCM Akan Pecat Oknum Dokter
Jum'at, 29 Januari 2016 - 16:56 WIB
Jika Terlibat Jual Beli Organ, RSCM Akan Pecat Oknum Dokter
A
A
A
JAKARTA - Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) memastikan akan memecat oknum Dokter A yang diduga kuat terlibat praktik jual beli organ tubuh berupa ginjal.
"Kami pastikan RSCM tidak terlibat, itu hanya oknum saja. Kalau pun nantinya oknum itu terbukti, kami akan pecat," tegas Direktur Utama RSCM dr Czeresna Heriawan Soejono kepada Koran SINDO, Jumat (29/1/2016).
Sebelumnya, Bareskrim Mabes Polri tengah melakukan penyidikan keterlibatan salah satu dokter berinisial A yang tak lain merupakan salah satu ahli bedah di RSCM. Oknum dokter itu, diduga kuat telah membantu dua dari tiga tersangka bernama Ipan dan Mulyadi.
Menurut Soejono, semua penanganan transpalasi dan operasi yang dilakukan tim medis RSCM terhadap pasien maupun donor, harus melalui mekanisme khusus dari tim advokasi.
Mekanisme khusus itu seperti melakukan check up demi mengetahui kondisi pasien dan pendonor, hingga melakukan tes wawancara untuk mengetahui forensik dan mental si pendonor.
Dari serangkaian tes itu, baru nantinya kepastian operasi dan transpalasi organ baru bisa dilakukan. "Di sini (pasien maupun pendonor) harus bercerita bagaimana mengajukan, persiapan transapalasi," ucap Soejono.
"Pasien pendonor sudah dewasa atau belum dan harus cakap. Yang jelas mereka melakukan tanpa adanya tekanan," tambahnya.
Diakui Soejono, operasi tidak dapat dilakukan secara sembarang, selain dilakukan oleh tim medis yang berkompeten. RSCM juga meminimalisir segala kemungkinan yang terjadi akibat transplantasi itu.
"Artinya, luka sekecil apapun akan diminimalisir agar tidak muncul dalam proses transplantasi ini. Karena itulah, tak jarang pascaproses transplantasi, beberapa pasien sudah dapat langsung pulang ke rumah dan beraktifitas secara normal namun belum maksimal," ungkapnya.
Saat ini di RSCM ada 536 dokter spesialis, sepertiga di antaranya merupakan ahli bedah. Namun soal siapa dokter A yang dimaksud Subnit III Direktur Pidana Umum Bareskrim Mabes Polri, Soejono belum mengetahui secara pasti oknum tersebut.
Karenanya dia pun menyerahkan penyidikan sepenuhnya kepada pihak kepolisian, sehingga kasus ini dapat diselesaikan secara cepat dan tidak menimbulkan kegaduhan.
"Kalau dibilang RSCM jadi korban, yah bisa jadi. Yang jelas saat ini kami belum melakukan penyidikan internal terhadap temuan ini," tutur Soejono.
Mengenai soal adanya sebutan nominal uang yang disebutkan para tersangka dalam transplantasi organ tubuh. Soejono memilih enggan berkomentar banyak.
Dia berasumsi, untuk operasi transplantasi membutuhkan nominal yang cukup besar, terlebih operasi itu terkait organ tubuh manusia.
"Semuannya ada biaya, mulai dari peralatan, honor dokter, hingga biaya pengobatan. Mungkin nilainya mencapai ratusan juta dan wajar kalau waiting listnya sampai bulan mei, yah wajar saja," tutur Soejono saat disinggung mengenai biaya Rp300 juta yang disebut tersangka kepada penyidik.
Sementara pantauan Koran SINDO, dalam menjalankan praktik jual belinya, sejumlah pelaku menyasar orang dengan ekonomi lemah. Mereka membujuk sejumlah orang yang memiliki penghasilan minim seperti juru parkir, pak ogah, hingga gelandangan.
Salah seorang pak ogah bernama Soekamto (56) mengatakan, sempat ditawari Rp200 juta oleh seorang pria berpakaian parlente untuk menjadi donor ginjal sebulan lalu.
Semua biaya operasi, hingga pengobatan, termasuk penyakit yang diprediksi akan timbul pasca operasi akan ditanggung semua oleh si pasien.
"Saya tolak, karena saya tahu efek yang timbul bisa bahaya," tutur pria yang ditemui di depan RSCM Cipto Mangunkusumo.
Menurut pria asal Cibubur, Bogor ini, para pelaku menjamin tes medis yang nantinya akan dijalankan tim dokter dipastikan lolos. Pasalnya semua pertanyaan wawancara mulai dari tes psikologis hingga mental telah ia kantongi dari para pelaku sebelum bertemu dengan tim advokasi.
"Sudah banyak kok mas yang ditawari seperti saya kaya gini," tuturnya.
Pilihan:
Putra Agung Laksono Tolak Munaslub Golkar
"Kami pastikan RSCM tidak terlibat, itu hanya oknum saja. Kalau pun nantinya oknum itu terbukti, kami akan pecat," tegas Direktur Utama RSCM dr Czeresna Heriawan Soejono kepada Koran SINDO, Jumat (29/1/2016).
Sebelumnya, Bareskrim Mabes Polri tengah melakukan penyidikan keterlibatan salah satu dokter berinisial A yang tak lain merupakan salah satu ahli bedah di RSCM. Oknum dokter itu, diduga kuat telah membantu dua dari tiga tersangka bernama Ipan dan Mulyadi.
Menurut Soejono, semua penanganan transpalasi dan operasi yang dilakukan tim medis RSCM terhadap pasien maupun donor, harus melalui mekanisme khusus dari tim advokasi.
Mekanisme khusus itu seperti melakukan check up demi mengetahui kondisi pasien dan pendonor, hingga melakukan tes wawancara untuk mengetahui forensik dan mental si pendonor.
Dari serangkaian tes itu, baru nantinya kepastian operasi dan transpalasi organ baru bisa dilakukan. "Di sini (pasien maupun pendonor) harus bercerita bagaimana mengajukan, persiapan transapalasi," ucap Soejono.
"Pasien pendonor sudah dewasa atau belum dan harus cakap. Yang jelas mereka melakukan tanpa adanya tekanan," tambahnya.
Diakui Soejono, operasi tidak dapat dilakukan secara sembarang, selain dilakukan oleh tim medis yang berkompeten. RSCM juga meminimalisir segala kemungkinan yang terjadi akibat transplantasi itu.
"Artinya, luka sekecil apapun akan diminimalisir agar tidak muncul dalam proses transplantasi ini. Karena itulah, tak jarang pascaproses transplantasi, beberapa pasien sudah dapat langsung pulang ke rumah dan beraktifitas secara normal namun belum maksimal," ungkapnya.
Saat ini di RSCM ada 536 dokter spesialis, sepertiga di antaranya merupakan ahli bedah. Namun soal siapa dokter A yang dimaksud Subnit III Direktur Pidana Umum Bareskrim Mabes Polri, Soejono belum mengetahui secara pasti oknum tersebut.
Karenanya dia pun menyerahkan penyidikan sepenuhnya kepada pihak kepolisian, sehingga kasus ini dapat diselesaikan secara cepat dan tidak menimbulkan kegaduhan.
"Kalau dibilang RSCM jadi korban, yah bisa jadi. Yang jelas saat ini kami belum melakukan penyidikan internal terhadap temuan ini," tutur Soejono.
Mengenai soal adanya sebutan nominal uang yang disebutkan para tersangka dalam transplantasi organ tubuh. Soejono memilih enggan berkomentar banyak.
Dia berasumsi, untuk operasi transplantasi membutuhkan nominal yang cukup besar, terlebih operasi itu terkait organ tubuh manusia.
"Semuannya ada biaya, mulai dari peralatan, honor dokter, hingga biaya pengobatan. Mungkin nilainya mencapai ratusan juta dan wajar kalau waiting listnya sampai bulan mei, yah wajar saja," tutur Soejono saat disinggung mengenai biaya Rp300 juta yang disebut tersangka kepada penyidik.
Sementara pantauan Koran SINDO, dalam menjalankan praktik jual belinya, sejumlah pelaku menyasar orang dengan ekonomi lemah. Mereka membujuk sejumlah orang yang memiliki penghasilan minim seperti juru parkir, pak ogah, hingga gelandangan.
Salah seorang pak ogah bernama Soekamto (56) mengatakan, sempat ditawari Rp200 juta oleh seorang pria berpakaian parlente untuk menjadi donor ginjal sebulan lalu.
Semua biaya operasi, hingga pengobatan, termasuk penyakit yang diprediksi akan timbul pasca operasi akan ditanggung semua oleh si pasien.
"Saya tolak, karena saya tahu efek yang timbul bisa bahaya," tutur pria yang ditemui di depan RSCM Cipto Mangunkusumo.
Menurut pria asal Cibubur, Bogor ini, para pelaku menjamin tes medis yang nantinya akan dijalankan tim dokter dipastikan lolos. Pasalnya semua pertanyaan wawancara mulai dari tes psikologis hingga mental telah ia kantongi dari para pelaku sebelum bertemu dengan tim advokasi.
"Sudah banyak kok mas yang ditawari seperti saya kaya gini," tuturnya.
Pilihan:
Putra Agung Laksono Tolak Munaslub Golkar
(maf)