Korban Banjir Bertahan di Rumah, Mengandalkan Bantuan
Kamis, 13 Agustus 2015 - 08:29 WIB
Korban Banjir Bertahan di Rumah, Mengandalkan Bantuan
A
A
A
Setiap malam Aung Myo Tun naik ke tempat yang lebih tinggi di rumahnya, tempat ia tidur dengan istrinya serta enam anak dan ibu mertuanya.
Keheningan malam tidak dapat lagi mereka rasakan karena rasa panik melanda tatkala suara air terdengar keras menerjang rumah mereka di Delta Irrawaddy, Myanmar. ”Kami berada dalam kesulitan,” ujar Aung Myo Tun yang berprofesi sebagai petani itu kepada kantor berita AFP . Wajahnya tampak lelah karena selama dua pekan terakhir senantiasa menjaga keluarganya dari amukan banjir yang telah menelan desanya.
Banjir itu dicatat sebagai banjir terburuk dalam beberapa tahun terakhir. ”Kami selalu memperhatikan anak-anak sepanjang siang dan malam. Mereka tidak cukup umur untuk berenang,” ujarnya. Pria berusia 39 tahun itu menjelaskan bagaimana keluarganya kini bertahan hidup hanya dari makanan sumbangan.
Aung Myo Tun ialah salah satu dari ribuan penerima manfaat dari mobilisasi warga biasa untuk memberikan bantuan pada para korban banjir. Ini merupakan contoh kemandirian selama puluhan tahun akibat diabaikan oleh para penguasa militer di negara itu.
Di desa Aung Myo Tun, yang berada dekat Hinthada di Myanmar tengah, warga biasa menghadapi banjir setinggi dua kaki yang berasal dari Sungai Irrawaddy. Mereka pun membangun rumah berbentuk panggung dan menanam padi khusus yang dapat tumbuh di genangan air.
Kini air naik hingga enam kaki setelah hujan yang lebih deras dari biasanya tahun ini. Banjir juga menyebabkan tanah longsor di beberapa wilayah di Myanmar. Bencana dahsyat tahun ini menewaskan lebih dari 100 orang sejak Juli. Adapun empat negara bagian dinyatakan sebagai zona bencana oleh pemerintah. Air sudah naik ke atas panggung gubuk bambunya.
Aung Myo Tun harus membawa seluruh anggota keluarganya ke perahu dan mengungsi di desa terdekat. Meski demikian, saat desa terdekat itu juga dilanda banjir, keluarganya pindah kembali ke rumah. Mereka membangun panggung untuk tempat tinggal di atas air. ”Kami ini keluarga besar, akan terlalu sulit bagi kami berada di kamp penampungan,” katanya.
Dia pun mulai mengangkut anak-anaknya ke sekolah dengan perahu, sekaligus mengambil jatah bantuan makanan untuk beberapa hari selanjutnya. Krisis semacam ini dulu diperparah dengan keputusan junta militer yang menolak bantuan asing selama beberapa pekan.
Bahkan, junta meminta media pemerintah memberitakan bahwa korban tidak membutuhkan bantuan karena mereka bisa mencari makanan di sekitarnya, seperti katak dan ikan. Kini perubahan terjadi.
Pemerintahan yang berkuasa sejak 2011, dengan cepat menyambut bantuan internasional, menyebarkan tentara untuk menyebarkan bantuan dengan truk dan helikopter, serta menyiapkan tempat penampungan di gedung-gedung publik. Kendati demikian, banyak warga setempat enggan meninggalkan rumah dan ternak mereka.
Beberapa warga memilih meringkuk bersama binatang ternaknya di dalam gubuk bambu. Meskipun ada laporan bantuan pemerintah kurang maksimal, tidak ada kelaparan karena ada pengiriman bantuan secara rutin, berupa beras, mi dan air minum kemasan oleh para relawan. Mereka ialah bagian dari rantai suplai bantuan yang menjangkau seluruh negeri.
Ananda Nararya
Keheningan malam tidak dapat lagi mereka rasakan karena rasa panik melanda tatkala suara air terdengar keras menerjang rumah mereka di Delta Irrawaddy, Myanmar. ”Kami berada dalam kesulitan,” ujar Aung Myo Tun yang berprofesi sebagai petani itu kepada kantor berita AFP . Wajahnya tampak lelah karena selama dua pekan terakhir senantiasa menjaga keluarganya dari amukan banjir yang telah menelan desanya.
Banjir itu dicatat sebagai banjir terburuk dalam beberapa tahun terakhir. ”Kami selalu memperhatikan anak-anak sepanjang siang dan malam. Mereka tidak cukup umur untuk berenang,” ujarnya. Pria berusia 39 tahun itu menjelaskan bagaimana keluarganya kini bertahan hidup hanya dari makanan sumbangan.
Aung Myo Tun ialah salah satu dari ribuan penerima manfaat dari mobilisasi warga biasa untuk memberikan bantuan pada para korban banjir. Ini merupakan contoh kemandirian selama puluhan tahun akibat diabaikan oleh para penguasa militer di negara itu.
Di desa Aung Myo Tun, yang berada dekat Hinthada di Myanmar tengah, warga biasa menghadapi banjir setinggi dua kaki yang berasal dari Sungai Irrawaddy. Mereka pun membangun rumah berbentuk panggung dan menanam padi khusus yang dapat tumbuh di genangan air.
Kini air naik hingga enam kaki setelah hujan yang lebih deras dari biasanya tahun ini. Banjir juga menyebabkan tanah longsor di beberapa wilayah di Myanmar. Bencana dahsyat tahun ini menewaskan lebih dari 100 orang sejak Juli. Adapun empat negara bagian dinyatakan sebagai zona bencana oleh pemerintah. Air sudah naik ke atas panggung gubuk bambunya.
Aung Myo Tun harus membawa seluruh anggota keluarganya ke perahu dan mengungsi di desa terdekat. Meski demikian, saat desa terdekat itu juga dilanda banjir, keluarganya pindah kembali ke rumah. Mereka membangun panggung untuk tempat tinggal di atas air. ”Kami ini keluarga besar, akan terlalu sulit bagi kami berada di kamp penampungan,” katanya.
Dia pun mulai mengangkut anak-anaknya ke sekolah dengan perahu, sekaligus mengambil jatah bantuan makanan untuk beberapa hari selanjutnya. Krisis semacam ini dulu diperparah dengan keputusan junta militer yang menolak bantuan asing selama beberapa pekan.
Bahkan, junta meminta media pemerintah memberitakan bahwa korban tidak membutuhkan bantuan karena mereka bisa mencari makanan di sekitarnya, seperti katak dan ikan. Kini perubahan terjadi.
Pemerintahan yang berkuasa sejak 2011, dengan cepat menyambut bantuan internasional, menyebarkan tentara untuk menyebarkan bantuan dengan truk dan helikopter, serta menyiapkan tempat penampungan di gedung-gedung publik. Kendati demikian, banyak warga setempat enggan meninggalkan rumah dan ternak mereka.
Beberapa warga memilih meringkuk bersama binatang ternaknya di dalam gubuk bambu. Meskipun ada laporan bantuan pemerintah kurang maksimal, tidak ada kelaparan karena ada pengiriman bantuan secara rutin, berupa beras, mi dan air minum kemasan oleh para relawan. Mereka ialah bagian dari rantai suplai bantuan yang menjangkau seluruh negeri.
Ananda Nararya
(bbg)