Black Hat Ajarkan Etika dan Utamakan Kepentingan Publik

Selasa, 04 Agustus 2015 - 08:53 WIB
Black Hat Ajarkan Etika...
Black Hat Ajarkan Etika dan Utamakan Kepentingan Publik
A A A
Pekan ini merupakan pekan bagi hacker di Las Vegas, Amerika Serikat (AS). Tiga konferensi digelar dengan tema keamanan komputer oleh Black Hat USA, Def Con dan BSides LV.

Para hacker Black Hat dikenal kelompok yang sensitif dan tengah berkembang. Anggota Black Hat mengenakan baju kasual dengan sepatu kulit yang kinclong. Berbeda dengan BSlides yang dikenal sebagai konferensi tak resmi bagi Black Hat dan sering menggelar acara yang lebih besar.

Sedangkan Def Con merupakan acara kebebasan bagi para hacker yang dengan pembuatan tato dan mencukur rambut bergaya mohawk . Konferensi hacker Black Hat dikenal sebagai pertemuan profesional terbesar di dunia. Lebih dari 8.000 orang yang berkaitan dengan dunia keamanan komputer menghadiri pertemuan tersebut.

Di sana banyak kelas pelatihan peretasan, seminar, ataupun kelas praktik. Berbagai alat peretasan juga ditampilkan di sana. Sebagai peretas, kenapa Black Hat tampil ke publik? Black Hat merupakan peretas yang memiliki etika. Mereka kerap disebut dengan ”peneliti” sederhana.

Dalam konferensi itu, para peretas menunjukkan kepada publik tentang berbagai kelemahan berbagai produk yang beredar di masyarakat, mulai dari satelit militer hingga mobil. Itu bertujuan sebagai pendidikan kepada publik. Dalam semangat peretasan beretika, Black Hat selalu merahasiakan produk yang berhasil diretas saat pertunjukan. Itu sebagai bentuk penghormatan.

Selain itu, mereka juga tidak akan merilis informasi ”How To” kepada publik. Karena itu, Chris Valasek dan Charlie Miller, pakar keamanan komputer yang berhasil meretas mobil Jeep, tidak mengungkapkan mereka mobil tersebut. ”Kita tidak akan mendemonstrasi peretasan dengan detail,” tutur Valasek kepada CBS News .

Banyak perusahaan yang menjadikan konferensi tersebut sebagai ajang perekrutan pegawai. Para peretas akan ditanya apakah mereka dapat melindungi kepentingan bisnis perusahaan. ”Perusahaan kini harus memulai bertanya para peretas sebelum mereka membuat produk,” tutur Bridget Carey dari CNET , media yang fokus pada teknologi.

Selain itu, salah satu yang paling menarik perhatian adalah sekolah peretas. Sekolah itu bukan hanya menjadi seorang peretas, tetapi juga bagaimana menangkal kinerja para pencuri tersebut. ”Kita akan meniru apa yang dilakukan hacker ,” kata Matt Lewis, direktur NCC Group, dikutip BBC .

Andika Hendra
(ftr)
Berita Terkait
Rakyat Myanmar Siap...
Rakyat Myanmar Siap Laksanakan Pemilihan Umum Minggu Ini
Polisi Italia Sita 6,6...
Polisi Italia Sita 6,6 Ton Ganja dalam Kapal Pesiar Bendera Amerika
Film Horor hingga Superhero,...
Film Horor hingga Superhero, 5 Film Indonesia Go International
Netanyahu Sebut Akan...
Netanyahu Sebut Akan Caplok 30% Wilayah Tepi Barat ke Israel
Masjid Al-Aqsa Kembali...
Masjid Al-Aqsa Kembali Dibuka Setelah Hampir 3 Bulan Ditutup
Pesawat Pakistan Jatuh,...
Pesawat Pakistan Jatuh, Kemlu Sebut Sementara Tidak Ada Korban WNI
Berita Terkini
Alasan Prabowo Pilih...
Alasan Prabowo Pilih Nanik S Deyang jadi Kepala BGN Gantikan Dadan Hindayana
Silmy Karim Tersangka...
Silmy Karim Tersangka Korupsi, Komisi III DPR: Usut Tuntas Tanpa Pandang Bulu
Hebat! Kota Semarang...
Hebat! Kota Semarang Raih Penghargaan Nasional Creative Financing, Bukti Inovasi Pemkot Hadirkan Pembangunan yang Berdampak
2 Wamen Kabinet Prabowo...
2 Wamen Kabinet Prabowo Terjerat Korupsi, Nomor 1 Divonis 4,5 Tahun Penjara
Perang Iran 2026: Ketika...
Perang Iran 2026: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Prabowo akan Menerima...
Prabowo akan Menerima Surat Kepercayaan dari 17 Dubes pada 8 Juni 2026
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved