Polisi dan Intelijen Antisipasi Intervensi Asing di Pilkada
Kamis, 30 Juli 2015 - 13:38 WIB
Polisi dan Intelijen Antisipasi Intervensi Asing di Pilkada
A
A
A
JAKARTA - Sejumlah kalangan menilai pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak tahun 2015 rawan terhadap intervensi asing.
Prediksi itu langsung dibantah Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo . Menurutnya, pihak asing tidak mungkin mencampuri urusan politik dalam negeri Indonesia.
Pemerintah, kata Tjahjo, telah menyiapkan aparat kepolisian dan intelijen negara guna menjamin tidak adanya campur tangan asing dalam perhelatan politik lima tahunan tersebut.
"Saya kira tidak sejauh itu (campur tangan asing). Kita juga punya intel yang cukup canggih dan kepolisian yang mencermati, memetakan, dinamika daerah," kata Tjahjo usai medatangi MNC Media, Jakarta, Rabu, 29 Juli 2015 malam.
Namun diakuinya potensi konflik horizontal dalam pelaksanaan pilkada serentak jauh lebih besar dibandingkan dengan pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden. Alasannya, pelaksanaan pilkada di suatu daerah selalu melibatkan pendukung fanatik dari masing-masing calon.
"Memang fanatisme pilkada berbeda dengan Pileg dan Pilpres. Ini belum-belum saja di Manggarai sudah merusak. Tapi kalau campur tangan asing saya kira tidak," ucapnya.
Baca: Pilkada Serentak 2015 Terancam Diundur.
Prediksi itu langsung dibantah Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo . Menurutnya, pihak asing tidak mungkin mencampuri urusan politik dalam negeri Indonesia.
Pemerintah, kata Tjahjo, telah menyiapkan aparat kepolisian dan intelijen negara guna menjamin tidak adanya campur tangan asing dalam perhelatan politik lima tahunan tersebut.
"Saya kira tidak sejauh itu (campur tangan asing). Kita juga punya intel yang cukup canggih dan kepolisian yang mencermati, memetakan, dinamika daerah," kata Tjahjo usai medatangi MNC Media, Jakarta, Rabu, 29 Juli 2015 malam.
Namun diakuinya potensi konflik horizontal dalam pelaksanaan pilkada serentak jauh lebih besar dibandingkan dengan pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden. Alasannya, pelaksanaan pilkada di suatu daerah selalu melibatkan pendukung fanatik dari masing-masing calon.
"Memang fanatisme pilkada berbeda dengan Pileg dan Pilpres. Ini belum-belum saja di Manggarai sudah merusak. Tapi kalau campur tangan asing saya kira tidak," ucapnya.
Baca: Pilkada Serentak 2015 Terancam Diundur.
(kur)