Percuma Jadi Pemimpin KPK kalau Tak Bernyali Jerat Koruptor
Senin, 27 Juli 2015 - 17:55 WIB
Percuma Jadi Pemimpin KPK kalau Tak Bernyali Jerat Koruptor
A
A
A
JAKARTA - Panitia seleksi (Pansel) Calon pemimpin (Capim) KPK menerapkan seleksi ketat terhadap 48 calon yang lolos dari seleksi tahap sebelumnya.
Sosok pemimpin seperti apa yang dicari Pansel Capim KPK dalam rangkaian tes dua hari berturut-turut ini?
"Buat saya, terlepas dari persoalan integritas, dia harus minimal cacat hukumnya. Kita bicara tidak mungkin (seseorang) tidak pernah ada kesalahan," kata Ketua Pansel Capim KPK Destry Damayanti, Senin (27/7/2015).
"Saya sendiri juga pernah ditilang. Pokoknya minimal. Intinya itu yang dibutuhkan Capim KPK, karena tantangan KPK semakin besar," imbuhnya.
Hal tersebut seperti diungkapkannya di sela-sela seleksi tahap III Capim KPK di Pusdiklat Kementerian Kesehatan, Jalan Hang Jebat Raya Blok F3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Tak hanya minim cacat hukum, Destry menilai, pemimpin KPK harus bisa bekerja bersama dalam sebuah tim. Pemimpin KPK juga dituntut memiliki pola komunikasi yang baik sehingga dapat melakukan koordinasi dengan lembaga penegak hukum lainnya.
"KPK tidak bisa berdiri sendiri. KPK harus bekerja dengan lembaga penegak hukum lain. Artinya fungsi koordinasi harus dikedepankan. Kemudian supervisi juga. Selama ini tidak kelihatan, tiba-tiba penindakan bombastis," ucap Destry.
Namun demikian, di balik sejumlah kriteria di atas, bagi Destry, keberanian pemimpin KPK dalam memberantas tindak korupsi adalah yang paling utama.
"Yang penting berani. Dia boleh pinter, komunikasi baik, manajerial skill baik, dia tidak punya keberanian percuma," tandasnya.
Senada dengan Destry, Anggota Pansel Capim KPK Natalia Subagio juga menekankan pentingnya kemampuan kerja kolektif dari para calon pemimpin KPK.
Bagi Natalia, sosok calon pemimpin berintegritas, memiliki keberanian, berkompetensi, serta tahan tekanan adalah persyaratan mutlak.
"Kita cari individu yang sudah selesai dengan dirinya sendiri," ungkap Natali.
Pilihan:
Kubu Ical Serahkan ke Polri Soal Sengketa Kantor Golkar
Tinjau Ujian SBMPTN, Menristek Minta Stop Praktik Perjokian
Sosok pemimpin seperti apa yang dicari Pansel Capim KPK dalam rangkaian tes dua hari berturut-turut ini?
"Buat saya, terlepas dari persoalan integritas, dia harus minimal cacat hukumnya. Kita bicara tidak mungkin (seseorang) tidak pernah ada kesalahan," kata Ketua Pansel Capim KPK Destry Damayanti, Senin (27/7/2015).
"Saya sendiri juga pernah ditilang. Pokoknya minimal. Intinya itu yang dibutuhkan Capim KPK, karena tantangan KPK semakin besar," imbuhnya.
Hal tersebut seperti diungkapkannya di sela-sela seleksi tahap III Capim KPK di Pusdiklat Kementerian Kesehatan, Jalan Hang Jebat Raya Blok F3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Tak hanya minim cacat hukum, Destry menilai, pemimpin KPK harus bisa bekerja bersama dalam sebuah tim. Pemimpin KPK juga dituntut memiliki pola komunikasi yang baik sehingga dapat melakukan koordinasi dengan lembaga penegak hukum lainnya.
"KPK tidak bisa berdiri sendiri. KPK harus bekerja dengan lembaga penegak hukum lain. Artinya fungsi koordinasi harus dikedepankan. Kemudian supervisi juga. Selama ini tidak kelihatan, tiba-tiba penindakan bombastis," ucap Destry.
Namun demikian, di balik sejumlah kriteria di atas, bagi Destry, keberanian pemimpin KPK dalam memberantas tindak korupsi adalah yang paling utama.
"Yang penting berani. Dia boleh pinter, komunikasi baik, manajerial skill baik, dia tidak punya keberanian percuma," tandasnya.
Senada dengan Destry, Anggota Pansel Capim KPK Natalia Subagio juga menekankan pentingnya kemampuan kerja kolektif dari para calon pemimpin KPK.
Bagi Natalia, sosok calon pemimpin berintegritas, memiliki keberanian, berkompetensi, serta tahan tekanan adalah persyaratan mutlak.
"Kita cari individu yang sudah selesai dengan dirinya sendiri," ungkap Natali.
Pilihan:
Kubu Ical Serahkan ke Polri Soal Sengketa Kantor Golkar
Tinjau Ujian SBMPTN, Menristek Minta Stop Praktik Perjokian
(maf)