Islah Golkar seperti Bom Waktu yang Siap Meledak
Senin, 01 Juni 2015 - 04:31 WIB
Islah Golkar seperti Bom Waktu yang Siap Meledak
A
A
A
JAKARTA - Bendahara Umum (Bendum) Partai Golkar hasil Musyawarah Nasional (Munas) Bali Bambang Soesatyo (Bamsoet) menilai, persoalan persiapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2015 untuk Golkar termasuk di Komisi Pemilihan Umum (KPU), belum selesai.
Pasalnya, hingga kini belum diketahui siapa yang berhak menandatangani pendaftaran Pilkada 2015, meski dua kubu Partai Golkar telah sepakat untuk islah sementara.
"Terutama soal siapakah nanti yang berhak membubuhkan tanda tangan pendaftaran pilkada ke KPU," kata Bambang kepada Sindonews, Minggu 31 Mei 2015.
Menurut Bamsoet, dalam poin keempat dari kesepakatan islah terbatas itu mengatakan, untuk pendaftaran calon kepala daerah yang diajukan Golkar pada Juli 2015, usulan dari Partai Golkar ditandatangani oleh DPP Partai Golkar yang diakui oleh KPU.
"Jelas itu seperti bom waktu yang siap meledak pada saatnya nanti," ungkap Bamsoet.
Dia juga meyakini keributan bisa kembali terjadi saat menentukan siapa calon yang akan diusung partai berlogo pohon beringin itu.
"Kubu Ancol pasti akan berkeras calon yang diusung agar berkoalisi dengan KIH (Koalisi Indonesia Hebat). Sementara kubu Bali akan bertahan (agar) sang calon berkoalisi dengan KMP (Koalisi Merah Putih)," pungkasnya
Pasalnya, hingga kini belum diketahui siapa yang berhak menandatangani pendaftaran Pilkada 2015, meski dua kubu Partai Golkar telah sepakat untuk islah sementara.
"Terutama soal siapakah nanti yang berhak membubuhkan tanda tangan pendaftaran pilkada ke KPU," kata Bambang kepada Sindonews, Minggu 31 Mei 2015.
Menurut Bamsoet, dalam poin keempat dari kesepakatan islah terbatas itu mengatakan, untuk pendaftaran calon kepala daerah yang diajukan Golkar pada Juli 2015, usulan dari Partai Golkar ditandatangani oleh DPP Partai Golkar yang diakui oleh KPU.
"Jelas itu seperti bom waktu yang siap meledak pada saatnya nanti," ungkap Bamsoet.
Dia juga meyakini keributan bisa kembali terjadi saat menentukan siapa calon yang akan diusung partai berlogo pohon beringin itu.
"Kubu Ancol pasti akan berkeras calon yang diusung agar berkoalisi dengan KIH (Koalisi Indonesia Hebat). Sementara kubu Bali akan bertahan (agar) sang calon berkoalisi dengan KMP (Koalisi Merah Putih)," pungkasnya
(maf)