DKI Minta Dua Operator Tak Lakukan Banding
Rabu, 27 Mei 2015 - 09:09 WIB
DKI Minta Dua Operator Tak Lakukan Banding
A
A
A
JAKARTA - PT PAM Jaya meminta PT Palyja dan PT Aetra tidak memperlambat proses akuisisi pengelolaan air bersih yang sudah dimenangkan Pemprov DKI Jakarta.
Masyarakat saat ini sangat membutuhkan pengelolaan air bersih yang mudah. Direktur PT PAM Jaya Sri Widyanto Kaderi mengatakan, saat ini PT Palyja dan PT Aetra dalam proses pengajuan banding terhadap putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang memenangkan pengelolaan air bersih di bawah PT PAM. Menurutnya, upaya tersebut malah menambah sulit masyarakat mendapatkan air bersih. Saat ini banyak masyarakat Jakarta, khususnya bagian barat dan utara, belum mendapatkan jaringan air bersih dan terpaksa membeli ke pedagang keliling.
”Seharusnya masyarakat bisa mendapatkan Rp1.050 per meter kubik. Karena pipa jaringan tidak tersalurkan dan banyak kebocoran, masyarakat terpaksa membeli melalui pedagang gerobak dengan harga Rp25.000 per meter kubik,” katanya di Balai Kota kemarin. Saat ini dengan harga air Rp1.050 per meter kubik ini, PT PAM Jaya harus menyubsidi Rp6.000. Yang menjadi kendala selama ini, lanjut Sri, kedua operator tidak melakukan penambahan dan perbaikan jaringan.
Kondisi ini memaksa masyarakat membeli kepada pedagang air keliling. Seharusnya dengan keuntungan PT Palyja Rp200 miliar dan PT Aetra Rp150 miliar per tahun, masyarakat tidak lagi ada yang membeli dari pedagang keliling dan kebocoran pun seharusnya hanya sekitar 35%.
Kenyataannya kebocoran air masih sekitar 40%. Rinciannya kebocoran teknis pipanya 22%, nonteknis 18%, dan sambungan ilegal 12%. Sisanya 6% ada dalam proses administrasi seperti kesalahan baca meter dan penguncian meter. Corporate Secretary PT Aetra Pratama S Adi membantah, pihaknya tidak berupaya meningkatkan pelayanan air bersih kepada pelanggan.
Kendati demikian, dia tidak menyebutkan secara detail apa upaya tersebut. Kepala Divisi Corporate Communication dan Social Responsibility PT Palyja Meyritha Maryanie menegaskan, pihaknya berhasil mengefisiensi kebocoran air dari 60% menjadi 39%. Artinya, jika dikatakan tidak ada peningkatan pelayanan, itu salah besar.
Bima setiyadi
Masyarakat saat ini sangat membutuhkan pengelolaan air bersih yang mudah. Direktur PT PAM Jaya Sri Widyanto Kaderi mengatakan, saat ini PT Palyja dan PT Aetra dalam proses pengajuan banding terhadap putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang memenangkan pengelolaan air bersih di bawah PT PAM. Menurutnya, upaya tersebut malah menambah sulit masyarakat mendapatkan air bersih. Saat ini banyak masyarakat Jakarta, khususnya bagian barat dan utara, belum mendapatkan jaringan air bersih dan terpaksa membeli ke pedagang keliling.
”Seharusnya masyarakat bisa mendapatkan Rp1.050 per meter kubik. Karena pipa jaringan tidak tersalurkan dan banyak kebocoran, masyarakat terpaksa membeli melalui pedagang gerobak dengan harga Rp25.000 per meter kubik,” katanya di Balai Kota kemarin. Saat ini dengan harga air Rp1.050 per meter kubik ini, PT PAM Jaya harus menyubsidi Rp6.000. Yang menjadi kendala selama ini, lanjut Sri, kedua operator tidak melakukan penambahan dan perbaikan jaringan.
Kondisi ini memaksa masyarakat membeli kepada pedagang air keliling. Seharusnya dengan keuntungan PT Palyja Rp200 miliar dan PT Aetra Rp150 miliar per tahun, masyarakat tidak lagi ada yang membeli dari pedagang keliling dan kebocoran pun seharusnya hanya sekitar 35%.
Kenyataannya kebocoran air masih sekitar 40%. Rinciannya kebocoran teknis pipanya 22%, nonteknis 18%, dan sambungan ilegal 12%. Sisanya 6% ada dalam proses administrasi seperti kesalahan baca meter dan penguncian meter. Corporate Secretary PT Aetra Pratama S Adi membantah, pihaknya tidak berupaya meningkatkan pelayanan air bersih kepada pelanggan.
Kendati demikian, dia tidak menyebutkan secara detail apa upaya tersebut. Kepala Divisi Corporate Communication dan Social Responsibility PT Palyja Meyritha Maryanie menegaskan, pihaknya berhasil mengefisiensi kebocoran air dari 60% menjadi 39%. Artinya, jika dikatakan tidak ada peningkatan pelayanan, itu salah besar.
Bima setiyadi
(ars)