Terpilihnya SBY Tak Menjamin Demokrat Kembali Berjaya
Jum'at, 15 Mei 2015 - 08:47 WIB
Terpilihnya SBY Tak Menjamin Demokrat Kembali Berjaya
A
A
A
JAKARTA - Terpilihnya kembali Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai ketua umum DPP Partai Demokrat periode 2015-2020 bukan jaminan partai pemenang Pemilu 2009 ini bisa kembali meraih kejayaannya.
Faktor SBY dinilai bukan satu-satunya penentu elektabilitas Demokrat akan naik sehingga bisa tampil sebagai pemenang di Pemilu 2019. Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro dan peneliti dari CSIS Arya Fernandes mengatakan, posisi Demokrat yang memilih berada di antara Koalisi Merah Putih (KMP) dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang diistilahkan sebagai penyeimbang justru bisa menimbulkan kebingungan publik.
”Ini masih teka teki, apakah rakyat akan terpikat pada SBY dan karenanya memilih Demokrat nanti. Yang jelas, semakin membingungkan arah politik Demokrat, maka juga akan semakin tidak simpati publik terhadap partai ini,” kata Zuhro kemarin. Dia mengatakan, Demokrat tidak akan bisa memainkan fungsi penyeimbang dengan baik karena sampai hari ini belum pernah ada partai penyeimbang yang sifatnya bermain dua kaki.
”Peran double standard ini yang belum teruji berkorelasi positif terhadap elektabilitas partai. Apakah rakyat akan beralih dan mendukung Demokrat? Ini juga pertanyaan yang tak mudah dijawab,” katanya. Peneliti dari CSIS Arya Fernandez memperkirakan pasca-2014 bukan lagi masa keemasan SBY seperti era Pemilu 2004 dan 2009.
Hal tersebut sudah terbukti di Pemilu 2014, Demokrat kurang berhasil menjaga pemilihnya sehingga hanya menduduki posisi keempat perolehan suara. ”Demokrat tak berhasil menawarkan ihwal baru ke publik. Bahkan ada kecenderungan Demokrat seperti kehilangan kepercayaan diri setelah suaranya hilang dibanding Pemilu 2009,” ucapnya kemarin.
Menurutnya, ke depan posisi Demokrat diprediksi bakal kesulitan memainkan peran di tengah persaingan KMP dan KIH . Posisi Demokrat bahkan bisa tidak dilihat sebagai partai penyeimbang. Sementara itu, pada pidato seusai terpilih sebagai ketua umum Partai Demokrat di Surabaya pada Rabu (13/5), SBY mengatakan Demokrat berharap agar kedepan terjalin hubungan yang sehat, antara pemerintah dengan parpol, sesama parpol, dengan prinsip saling menghormati kedaulatan masing-masing.
”Kita sama-sama mengetahui ciri pemerintahan yang baik adalah akuntabel, kapabel, transparan, responsif dan taat aturan. Kami berharap semua keputusan, tindakan dan kebijakan pemerintah dapat dikomunikasikan pada masyarakat luas, agar tidak salah persepsi, dan masyarakat bisa ikut mengontrol,” ungkapnya.
Mula akmal
Faktor SBY dinilai bukan satu-satunya penentu elektabilitas Demokrat akan naik sehingga bisa tampil sebagai pemenang di Pemilu 2019. Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro dan peneliti dari CSIS Arya Fernandes mengatakan, posisi Demokrat yang memilih berada di antara Koalisi Merah Putih (KMP) dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang diistilahkan sebagai penyeimbang justru bisa menimbulkan kebingungan publik.
”Ini masih teka teki, apakah rakyat akan terpikat pada SBY dan karenanya memilih Demokrat nanti. Yang jelas, semakin membingungkan arah politik Demokrat, maka juga akan semakin tidak simpati publik terhadap partai ini,” kata Zuhro kemarin. Dia mengatakan, Demokrat tidak akan bisa memainkan fungsi penyeimbang dengan baik karena sampai hari ini belum pernah ada partai penyeimbang yang sifatnya bermain dua kaki.
”Peran double standard ini yang belum teruji berkorelasi positif terhadap elektabilitas partai. Apakah rakyat akan beralih dan mendukung Demokrat? Ini juga pertanyaan yang tak mudah dijawab,” katanya. Peneliti dari CSIS Arya Fernandez memperkirakan pasca-2014 bukan lagi masa keemasan SBY seperti era Pemilu 2004 dan 2009.
Hal tersebut sudah terbukti di Pemilu 2014, Demokrat kurang berhasil menjaga pemilihnya sehingga hanya menduduki posisi keempat perolehan suara. ”Demokrat tak berhasil menawarkan ihwal baru ke publik. Bahkan ada kecenderungan Demokrat seperti kehilangan kepercayaan diri setelah suaranya hilang dibanding Pemilu 2009,” ucapnya kemarin.
Menurutnya, ke depan posisi Demokrat diprediksi bakal kesulitan memainkan peran di tengah persaingan KMP dan KIH . Posisi Demokrat bahkan bisa tidak dilihat sebagai partai penyeimbang. Sementara itu, pada pidato seusai terpilih sebagai ketua umum Partai Demokrat di Surabaya pada Rabu (13/5), SBY mengatakan Demokrat berharap agar kedepan terjalin hubungan yang sehat, antara pemerintah dengan parpol, sesama parpol, dengan prinsip saling menghormati kedaulatan masing-masing.
”Kita sama-sama mengetahui ciri pemerintahan yang baik adalah akuntabel, kapabel, transparan, responsif dan taat aturan. Kami berharap semua keputusan, tindakan dan kebijakan pemerintah dapat dikomunikasikan pada masyarakat luas, agar tidak salah persepsi, dan masyarakat bisa ikut mengontrol,” ungkapnya.
Mula akmal
(bbg)