Gubernur Lemhannas: Angkatan Keempat TNI Bidang Siber Sedang Berevolusi
Jum'at, 13 Januari 2023 - 16:49 WIB
loading...
A
A
A
Tak hanya Singapura, Amerika Serikat dan China yang juga sudah membentuk pasukan khusus konsentrasi ke siber. Amerika Serikat memiliki 5 angkatan pertahanan, yakni Darat, Udara, Laut, Antariksa, dan Cyber War. Salah satu badan keamanan di AS adalah National Security Agency (NSA).
Andi menjelaskan, saat ini dan ke depan, kekuatan intelijen digital diperlukan untuk secara efektif menangani ancaman digital yang diperkirakan akan tumbuh dalam jumlah, kecanggihan, dan organisasi. Beruntungnya tingkat kematangan teknologi di dunia sudah membaik. Meski diakui Andi, masalah utama sekarang ini teknologi digital berkembang lebih cepat dibandingkan arsitektur keamanannya.
"Tapi itu pun tidak lamban. Saat Presiden Joko Widodo berkuasa pertama kali, belum ada Badan Siber sama sekali. Pada 2018 kemudian dibentuk Badan Siber, Lembaga Sandi Negara diubah menjadi Badan Siber. Hanya dalam waktu empat tahun, di setiap angkatan ada pusat siber, termasuk di kepolisian dan badan intelijen. Tingkat adaptasinya ternyata lebih cepat," katanya.
Baca juga: Lemhannas Sebut IKN Butuh Gelar Militer Baru
Di Indonesia, kata Andi, kerusakan akibat serangan siber belum sistematis. Padahal selama 2020-2021 saja terjadi 240 juta kali anomali seperti malware, phishing, ransomware, pencurian data hingga gangguan server. "Artinya satu bulan 20 juta kali, hampir 1 juta per hari atau ratusan ribu dalam waktu 24 jam saja. Tapi belum ada kan serangan yang merusak secara sistematis dan struktural," katanya.
Andi menjelaskan, saat ini dan ke depan, kekuatan intelijen digital diperlukan untuk secara efektif menangani ancaman digital yang diperkirakan akan tumbuh dalam jumlah, kecanggihan, dan organisasi. Beruntungnya tingkat kematangan teknologi di dunia sudah membaik. Meski diakui Andi, masalah utama sekarang ini teknologi digital berkembang lebih cepat dibandingkan arsitektur keamanannya.
"Tapi itu pun tidak lamban. Saat Presiden Joko Widodo berkuasa pertama kali, belum ada Badan Siber sama sekali. Pada 2018 kemudian dibentuk Badan Siber, Lembaga Sandi Negara diubah menjadi Badan Siber. Hanya dalam waktu empat tahun, di setiap angkatan ada pusat siber, termasuk di kepolisian dan badan intelijen. Tingkat adaptasinya ternyata lebih cepat," katanya.
Baca juga: Lemhannas Sebut IKN Butuh Gelar Militer Baru
Di Indonesia, kata Andi, kerusakan akibat serangan siber belum sistematis. Padahal selama 2020-2021 saja terjadi 240 juta kali anomali seperti malware, phishing, ransomware, pencurian data hingga gangguan server. "Artinya satu bulan 20 juta kali, hampir 1 juta per hari atau ratusan ribu dalam waktu 24 jam saja. Tapi belum ada kan serangan yang merusak secara sistematis dan struktural," katanya.
Lihat Juga :