Natal dan Tahun Baru Momentum Bekerja Sama Merawat Semangat Kebangsaan
Senin, 26 Desember 2022 - 17:45 WIB
loading...
A
A
A
"Sebagai warga negara, tentunya kita memiliki hak dan kewajiban yang sama secara hukum sekalipun sikap diskriminatif itu tetap kita alami. Tentunya perlu menempatkan kasih di atas segala respons terhadap hal tersebut, dan tentu dengan menempuh atau menaati hukum yang berlaku," kata Pendera Jimmy.
Anggota Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK) perwakilan dari PGI ini menjelaskan, kehadiran Kristus di dunia sudah sepatutnya menjadi teladan bagi umat dalam menghadirkan kedamaian dan keadilan. Sebab, Kristus mewartakan kasih, menjadi garam dan terang dunia terhadap banyak jiwa yang masih hidup dalam kebencian dan sikap kegelapan lainnya.
Tanpa rasa tanggung jawab dan kesadaran akan pentingnya menghadirkan kedamaian dan keadilan, Pendeta Jimmy khawatir akan menjadi salah satu faktor yang meningkatkan terpaparnya masyarakat oleh ideologi kekerasan dan radikalisme.
"Kekerasan dan radikalisme ini tentunya dapat terjadi oleh banyak faktor, salah satunya membiarkan diskriminasi dan narasi-narasi yang dapat membangun kebencian itu terus berkembang," katanya.
Peraih gelar Master di Universitas Gajah Mada (UGM) berharap masyarakat tidak mudah terpancing oleh provokasi dan tindakan destruktif bagi keutuhan bangsa. Modal sosial yang ada di masyarakat seperti tradisi silaturahmi, gotong-royong, saling membantu, serta kebudayaan lainnya, perlu dihidupkan kembali.
Anggota Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK) perwakilan dari PGI ini menjelaskan, kehadiran Kristus di dunia sudah sepatutnya menjadi teladan bagi umat dalam menghadirkan kedamaian dan keadilan. Sebab, Kristus mewartakan kasih, menjadi garam dan terang dunia terhadap banyak jiwa yang masih hidup dalam kebencian dan sikap kegelapan lainnya.
Tanpa rasa tanggung jawab dan kesadaran akan pentingnya menghadirkan kedamaian dan keadilan, Pendeta Jimmy khawatir akan menjadi salah satu faktor yang meningkatkan terpaparnya masyarakat oleh ideologi kekerasan dan radikalisme.
"Kekerasan dan radikalisme ini tentunya dapat terjadi oleh banyak faktor, salah satunya membiarkan diskriminasi dan narasi-narasi yang dapat membangun kebencian itu terus berkembang," katanya.
Peraih gelar Master di Universitas Gajah Mada (UGM) berharap masyarakat tidak mudah terpancing oleh provokasi dan tindakan destruktif bagi keutuhan bangsa. Modal sosial yang ada di masyarakat seperti tradisi silaturahmi, gotong-royong, saling membantu, serta kebudayaan lainnya, perlu dihidupkan kembali.
Lihat Juga :