Kepala BNPT: Tak Boleh Ada Ruang bagi Ideologi Kekerasan di Indonesia
Rabu, 07 Desember 2022 - 17:41 WIB
loading...
A
A
A
"Inilah bentuk virus radikal terorisme yang terjadi. Seperti yang saya katakan, menghalalkan segala cara, menggunakan kekerasan ekstrem," tegasnya.
Sebagai respons langsung, BNPT sudah berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk membantu upaya pendalaman kasus kekerasan ekstrem tersebut. BNPT juga telah menerjunkan sejumlah unsur yang berkompeten di bawah komando Deputi Bidang Penindakan. "Sementara dalam penyelidikan lebih lanjut. Dari unsur-unsur BNPT juga ada di Bandung, dengan Polda dan Densus 88," terangnya.
Pemilihan kantor polisi sebagai target sasaran aksi teror ini menurut Boy disebabkan lantaran aparat kepolisian merupakan aktor yang selama ini selalu menggagalkan upaya para teroris. "Karena dianggap selama ini yang menggagalkan misi-misi terorisme adalah aparat penegak hukum. Makanya polisi jadi daftar target mereka, salah satu di antaranya," ujar dia.
Terkait narasi kecolongan, dia berpendapat penggunaan istilah tersebut tidak tepat. Pasalnya, potensi aksi kekerasan itu terdapat di alam pikiran pelaku teror. Potensi itu hadir lantaran distimulasi ideologi kekerasan yang tak serta merta dapat terdeteksi sejak di alam pikiran. "Ideologi terorisme itu adalah dari alam pikiran. Apakah kita bisa membaca alam pikiran dengan serta merta apa yang ada di dalam setiap isi kepala Bangsa Indonesia," ujar Kepala BNPT.
Oleh karena itu, dia mengajak semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan di tengah dinamika kehidupan sosial dengan pengaruh-pengaruh yang tidak selamanya positif. "Peristiwa ini bisa terjadi menyasar kepada siapa saja, bisa menjadikan siapa saja menjadi target," kata dia
Sebagai respons langsung, BNPT sudah berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk membantu upaya pendalaman kasus kekerasan ekstrem tersebut. BNPT juga telah menerjunkan sejumlah unsur yang berkompeten di bawah komando Deputi Bidang Penindakan. "Sementara dalam penyelidikan lebih lanjut. Dari unsur-unsur BNPT juga ada di Bandung, dengan Polda dan Densus 88," terangnya.
Pemilihan kantor polisi sebagai target sasaran aksi teror ini menurut Boy disebabkan lantaran aparat kepolisian merupakan aktor yang selama ini selalu menggagalkan upaya para teroris. "Karena dianggap selama ini yang menggagalkan misi-misi terorisme adalah aparat penegak hukum. Makanya polisi jadi daftar target mereka, salah satu di antaranya," ujar dia.
Terkait narasi kecolongan, dia berpendapat penggunaan istilah tersebut tidak tepat. Pasalnya, potensi aksi kekerasan itu terdapat di alam pikiran pelaku teror. Potensi itu hadir lantaran distimulasi ideologi kekerasan yang tak serta merta dapat terdeteksi sejak di alam pikiran. "Ideologi terorisme itu adalah dari alam pikiran. Apakah kita bisa membaca alam pikiran dengan serta merta apa yang ada di dalam setiap isi kepala Bangsa Indonesia," ujar Kepala BNPT.
Oleh karena itu, dia mengajak semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan di tengah dinamika kehidupan sosial dengan pengaruh-pengaruh yang tidak selamanya positif. "Peristiwa ini bisa terjadi menyasar kepada siapa saja, bisa menjadikan siapa saja menjadi target," kata dia
(cip)
Lihat Juga :