Potensi BUMN Kesehatan sebagai Penopang Ekonomi Nasional
Jum'at, 10 Juli 2020 - 07:09 WIB
loading...
A
A
A
Demikian pula PT Kimia Farma yang berfokus pada obat paten dan generik, herbal, serta alat kesehatan, termasuk bisnis apotek dan laboratorium kesehatan. Kimia Farma memiliki pabrik di Jakarta, Medan, Semarang, Sarolangun, Watudakon, dan Tanjung Morowa. Kimia Farma memiliki anak usaha PT KF Apotek dengan jumlah apotek sebanyak 1.300 cabang, PT KF T-D sekitar 50 cabang PBF, dan laboratorium kesehatan sekitar 45 unit di seluruh Indonesia. Jumlah karyawan cukup besar, mencapai sekitar 5.600 orang dan pendapatan perusahaan sekitar Rp9 triliun.
Beda dengan itu, PT Phapros berfokus pada obat OTC, ethical, medical devices, dan toll manufacturing. Phapros berhasil memproduksi sekitar 342 jenis obat dan memiliki omzet sekitar Rp1,5 triliun. Jumlah karyawan sekitar 1.000 orang. Terakhir, PT Kimia Farma juga sudah mengekspor produknya ke belasan negara. Ditambah PT Indofarma yang berfokus pada obat generik dan memiliki fasilitas khusus mesin ekstrak, serta mempekerjakan karyawan sekitar 1.400 orang. Omzet perusahaan mencapai Rp2 triliun. Anak usahanya, PT IGM, memiliki sekitar 35 cabang PBF di seluruh Indonesia. Alhasil, bila dijumlahkan holding BUMN Farmasi nasional memiliki total karyawan 9.200 orang dengan omzet puluhan triliun rupiah. Bila semua ini dimaksimalkan tentu dapat meningkat secara cepat sehingga bisa menopang kekuatan ekonomi nasional.
Dengan mengamati kasus Covid-19 yang telah menjadi ancaman dunia yang menginfeksi jutaan penduduk dunia, semua penyakit yang diakibatkan oleh infeksi virus, maka obat utamanya adalah vaksin. Berdasarkan kondisi nyata di atas dan memperhatikan keseimbangan kebutuhan (demand) dan pengeluaran (output) masyarakat serta besarnya potensi BUMN nasional seperti Bio Farma dan berbagai anak perusahaannya tentu perusahaan negara tersebut bisa berperan strategis untuk kepentingan penopang ekonomi nasional. Terlebih di saat kondisi ekonomi menghadapi resesi. Artinya, dari sana ada pemasukan ratusan triliun rupiah untuk kepentingan nasional. Bahkan, jika Bio Farma beserta BUMN kesehatan lain (rumah sakit, serta obat-obatan dan alat kesehatan) dikelola dengan baik, itu dapat dipastikan mampu menjadi buffer atau andalan pemerintah untuk menopang ekonomi nasional.
Beda dengan itu, PT Phapros berfokus pada obat OTC, ethical, medical devices, dan toll manufacturing. Phapros berhasil memproduksi sekitar 342 jenis obat dan memiliki omzet sekitar Rp1,5 triliun. Jumlah karyawan sekitar 1.000 orang. Terakhir, PT Kimia Farma juga sudah mengekspor produknya ke belasan negara. Ditambah PT Indofarma yang berfokus pada obat generik dan memiliki fasilitas khusus mesin ekstrak, serta mempekerjakan karyawan sekitar 1.400 orang. Omzet perusahaan mencapai Rp2 triliun. Anak usahanya, PT IGM, memiliki sekitar 35 cabang PBF di seluruh Indonesia. Alhasil, bila dijumlahkan holding BUMN Farmasi nasional memiliki total karyawan 9.200 orang dengan omzet puluhan triliun rupiah. Bila semua ini dimaksimalkan tentu dapat meningkat secara cepat sehingga bisa menopang kekuatan ekonomi nasional.
Dengan mengamati kasus Covid-19 yang telah menjadi ancaman dunia yang menginfeksi jutaan penduduk dunia, semua penyakit yang diakibatkan oleh infeksi virus, maka obat utamanya adalah vaksin. Berdasarkan kondisi nyata di atas dan memperhatikan keseimbangan kebutuhan (demand) dan pengeluaran (output) masyarakat serta besarnya potensi BUMN nasional seperti Bio Farma dan berbagai anak perusahaannya tentu perusahaan negara tersebut bisa berperan strategis untuk kepentingan penopang ekonomi nasional. Terlebih di saat kondisi ekonomi menghadapi resesi. Artinya, dari sana ada pemasukan ratusan triliun rupiah untuk kepentingan nasional. Bahkan, jika Bio Farma beserta BUMN kesehatan lain (rumah sakit, serta obat-obatan dan alat kesehatan) dikelola dengan baik, itu dapat dipastikan mampu menjadi buffer atau andalan pemerintah untuk menopang ekonomi nasional.
(ras)