Hebatnya Warga Kampung Karanggede Bantul, Tetap Jaga Pura meski Tak Ada Lagi Penganut Hindu
Sabtu, 03 Desember 2022 - 09:52 WIB
loading...
A
A
A
Sekitar 30 meteran dari masjid ke aarah selatan ini juga berdiri sebuah rumah ibadah yakni Gereja Pantekosta di Indonesia (Gpdi) Pendowoharjo. Gereja ini berdiri tepat di pinggir jalan, di seberang jalan ada selokan yang cukup lebar sekitar tiga meteran. Gereja ini tampak seperti rumah biasa. Sepintas tidak terlihat jika itu adaah bangunan gereja.
Saat jurnalis MNC Portal datang ke kampung itu, tampak dua pria tengah ngobrol asyik di depan rumah yang letaknya persis di depan Pura Karanggede. Mereka kemudian menyapa MNC Portal. “Orang sini los dol kok,” ujar Samsu,35, salah satu pria tersebut sambil tersenyum.
Samsu memakai istilah los dol untuk mengambarkan betapa tolerannya warga Karanggede terhadap penganut agama lain. Menurutnya isu-isu intoleran dan SARA tak mempan di kampungnya ini. “Yang di medsos-medsos itu nggak mempan kalau di sini. Itu yang di Lampung pernah ada konflik agama Islam dan Hindu di sini juga santai-santai saja. Warga sini nggak gagas, rukun-rukun saja,” ujar Samsu.
Mayoritas warga Karanggede adalah penganut Islam. Dari 137 kepala keluarga (KK), hanya ada tiga KK yang menganut agama Kristen, dan empat KK beragama Katolik. Sementara meski ada pura di kampung itu, warga Karanggede sama sekali tidak ada yang beragama Hindu. “Dulu ada yang beragama Hindu tapi sekarang sudah tidak ada,” kata Ketua RT 01 Heri Joko.
Meski mayoritas beragama Islam, namun warga Karanggede juga selalu membantu jika ada penganut agama lain tengah ada sembahyangan. Seperti di Pura Karanggede. Setiap purnama sekali, di lokasi itu digelar sembahyang oleh umat Hindu yang semuanya berasal dari luar daerah di Karanggede. “Kami tetap bantu mulai dari parkir hingga keamanan. Saya juga tak terganggu. Pokoknya los dol ,” ujar Samsu.
Hal yang sama juga dilakukan saat di Susteran Gembala Baik digelar ibadah. Meski statusnya semacam asrama bagi para suster namun dalam waktu-waktu tertentu di tempat itu juga digelar ibadah dengan mendatangkan jemaat banyak. Warga Karanggede juga berbondong-bondong membantu.
Saat jurnalis MNC Portal datang ke kampung itu, tampak dua pria tengah ngobrol asyik di depan rumah yang letaknya persis di depan Pura Karanggede. Mereka kemudian menyapa MNC Portal. “Orang sini los dol kok,” ujar Samsu,35, salah satu pria tersebut sambil tersenyum.
Samsu memakai istilah los dol untuk mengambarkan betapa tolerannya warga Karanggede terhadap penganut agama lain. Menurutnya isu-isu intoleran dan SARA tak mempan di kampungnya ini. “Yang di medsos-medsos itu nggak mempan kalau di sini. Itu yang di Lampung pernah ada konflik agama Islam dan Hindu di sini juga santai-santai saja. Warga sini nggak gagas, rukun-rukun saja,” ujar Samsu.
Mayoritas warga Karanggede adalah penganut Islam. Dari 137 kepala keluarga (KK), hanya ada tiga KK yang menganut agama Kristen, dan empat KK beragama Katolik. Sementara meski ada pura di kampung itu, warga Karanggede sama sekali tidak ada yang beragama Hindu. “Dulu ada yang beragama Hindu tapi sekarang sudah tidak ada,” kata Ketua RT 01 Heri Joko.
Meski mayoritas beragama Islam, namun warga Karanggede juga selalu membantu jika ada penganut agama lain tengah ada sembahyangan. Seperti di Pura Karanggede. Setiap purnama sekali, di lokasi itu digelar sembahyang oleh umat Hindu yang semuanya berasal dari luar daerah di Karanggede. “Kami tetap bantu mulai dari parkir hingga keamanan. Saya juga tak terganggu. Pokoknya los dol ,” ujar Samsu.
Hal yang sama juga dilakukan saat di Susteran Gembala Baik digelar ibadah. Meski statusnya semacam asrama bagi para suster namun dalam waktu-waktu tertentu di tempat itu juga digelar ibadah dengan mendatangkan jemaat banyak. Warga Karanggede juga berbondong-bondong membantu.
Lihat Juga :