Gus Mis Sebut Ada yang Gagal Paham Konsep Ketuhanan yang Berkebudayaan
Rabu, 08 Juli 2020 - 15:22 WIB
loading...
A
A
A
"Karena bertuhan, kita sejatinya mempunyai budi pekerti yang luhur, saling menghormati, saling menghargai, tidak egois, dan tidak pula fanatik. Cara bertuhan yang seperti itu, menurut Bung Karno disebut ketuhanan yang berkebudayaan," kata Gus Mis.(Baca juga: RUU HIP, DPR dan Pemerintah Harus Jelaskan Sila Ketuhanan yang Berkebudayaan )
Dalam konteks itu pula, lanjut budayawan Nahdlatul Ulama (NU) itu, umat Islam harus menjadi penggerak kemajuan dengan terus membangun harmoni di antara sesama, menumbuhkan cinta Tanah Air, dan mengejar ketertinggalan dengan cara mengembangkan ilmu pengetahuan.
Menurut Gus Mis, apa yang ditunjukkan oleh NU dan Muhammadiyah dalam mendorong harmoni, memperkuat solidaritas kebangsaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan selaras dengan cita-cita dan mimpi Bung Karno.
Maka dari itu, Gus Mis menyayangkan jika belakangan ini ekspresi keagamaan di ruang publik hanya dijadikan sebagai instrumen politik yang memecahbelah tali kebangsaan kita yang selama itu solid dan kukuh.
"Ada pihak-pihak yang secara sengaja hendak menggunakan agama sebagai alat politik yang memecah belah dengan cara menghembuskan fitnah dan provokasi yang tidak bertanggung jawab. Ini tentunya sangat disayangkan, karena sangat jauh dari esensi Ketuhanan Yang Mah Esa," ujar pria lulusan Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir itu.
Dalam konteks itu pula, lanjut budayawan Nahdlatul Ulama (NU) itu, umat Islam harus menjadi penggerak kemajuan dengan terus membangun harmoni di antara sesama, menumbuhkan cinta Tanah Air, dan mengejar ketertinggalan dengan cara mengembangkan ilmu pengetahuan.
Menurut Gus Mis, apa yang ditunjukkan oleh NU dan Muhammadiyah dalam mendorong harmoni, memperkuat solidaritas kebangsaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan selaras dengan cita-cita dan mimpi Bung Karno.
Maka dari itu, Gus Mis menyayangkan jika belakangan ini ekspresi keagamaan di ruang publik hanya dijadikan sebagai instrumen politik yang memecahbelah tali kebangsaan kita yang selama itu solid dan kukuh.
"Ada pihak-pihak yang secara sengaja hendak menggunakan agama sebagai alat politik yang memecah belah dengan cara menghembuskan fitnah dan provokasi yang tidak bertanggung jawab. Ini tentunya sangat disayangkan, karena sangat jauh dari esensi Ketuhanan Yang Mah Esa," ujar pria lulusan Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir itu.
(abd)
Lihat Juga :