Jadi Jantung Diplomasi Dunia, R20 Tawarkan Agama sebagai Solusi
Kamis, 06 Oktober 2022 - 13:44 WIB
loading...
R20 akan mengundang tokoh-tokoh agama dunia untuk berdialog terbuka mengenai kepedihan sejarah dan upaya menjadikan agama sebagai solusi bagi berbagai problem dunia saat ini dan masa depan. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ( PBNU ) bersama Liga Muslim Dunia akan menggelar Religion of Twenty (R20) di Nusa Dua, Bali pada 2-3 November 2022 mendatang. Forum agama G20 ini mengundang tokoh-tokoh agama dunia untuk berdialog terbuka mengenai kepedihan sejarah dan upaya menjadikan agama sebagai solusi bagi berbagai problem dunia saat ini dan masa depan.
Kehadiran tokoh agama secara langsung dinilai lebih dapat menyentuh akar permasalahan karena melibatkan entitas inti masyarakat. Karena cakupan yang global, pelibatan tokoh agama dari seluruh dunia dalam forum ini merupakan langkah yang langsung masuk ke jantung diplomasi.
"Ini justru jantungnya diplomasi. Masyarakat negara lain merasa bahwa negara mereka punya concern yang sama, yaitu ingin mengajak supaya ada perdamaian lewat agama-agama," kata Wakil Ketua Pelaksana Forum R20, Safira Machrusah di Kantor PBNU, Jakarta, Kamis (6/10/2022).
Forum R20 ini, menurut Rosa, sapaan akrabnya, merupakan diplomasi yang lebih membumi. Meskipun keberhasilannya memang relatif karena harus ada ukurannya, upaya ini memungkinkan para tokoh yang hadir dapat mengimplementasikan hal serupa di negara masing-masing.
Kehadiran tokoh agama secara langsung dinilai lebih dapat menyentuh akar permasalahan karena melibatkan entitas inti masyarakat. Karena cakupan yang global, pelibatan tokoh agama dari seluruh dunia dalam forum ini merupakan langkah yang langsung masuk ke jantung diplomasi.
"Ini justru jantungnya diplomasi. Masyarakat negara lain merasa bahwa negara mereka punya concern yang sama, yaitu ingin mengajak supaya ada perdamaian lewat agama-agama," kata Wakil Ketua Pelaksana Forum R20, Safira Machrusah di Kantor PBNU, Jakarta, Kamis (6/10/2022).
Forum R20 ini, menurut Rosa, sapaan akrabnya, merupakan diplomasi yang lebih membumi. Meskipun keberhasilannya memang relatif karena harus ada ukurannya, upaya ini memungkinkan para tokoh yang hadir dapat mengimplementasikan hal serupa di negara masing-masing.
Lihat Juga :