Frekuensi Curah Hujan Tinggi pada Oktober Menuju November, BNPB Ingatkan Waspada

Senin, 03 Oktober 2022 - 17:36 WIB
loading...
Frekuensi Curah Hujan Tinggi pada Oktober Menuju November, BNPB Ingatkan Waspada
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan potensi frekuensi hujan curah tinggi yang sering terjadi pada bulan Oktober menuju November. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan potensi frekuensi hujan curah tinggi yang sering terjadi pada bulan Oktober menuju November. Sehingga berpotensi terjadinya bencana hidrometeorologi.

“Curah hujan kita di akhir-akhir Oktober menuju November nanti kita mungkin sudah akan melihat frekuensi curah hujan atau frekuensi intensitas hujan tinggi yang lebih sering. Ini yang mungkin harus kita waspadai di bulan-bulan ke depan,” ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari saat Konferensi Pers secara virtual, Senin (3/10/2022). Baca juga: Antisipasi Cuaca Ekstrem, BPBD DKI Imbau Masyarakat Waspada Potensi Bencana Alam

Aam sapaan akrabnya mengatakan bahwa normalnya musim hujan di Indonesia dimulai dari bulan Desember. “Jadi sebenarnya, kalau kita lihat normalnya iklim kita itu musim hujan dimulai dari Desember. Desember Januari Februari itu kita musim hujan,” katanya.

Kemudian, lanjut Aam, Maret, April, Mei merupakan bulan peralihan dari hujan ke kemarau. “Mei Juni Juli itu musim kemarau, ini adalah periode dimana biasanya karhutla itu sangat sering. September Oktober November itu kita peralihan dari kemarau ke hujan, masih peralihan pancaroba.”

“Jadi kalau di fase kita sekarang akhir September awal Oktober kita masih di tengah musim peralihan sebenarnya, jadi frekuensi kejadian hujan masih tinggi artinya kita masih waspada banjir, tetapi di beberapa tempat karena kondisi kondisi tertentu potensi kekeringan dan kebakaran hutan juga masih cukup tinggi,” sambungnya.

Sementara itu, Aam juga melaporkan analisis curah hujan dalam sepekan terakhir. “Kita lihat memang meskipun tidak terlalu dominan tapi hidrometeorologi basah masih mempengaruhi cuaca ekstrem dan banjir.”

“Kalau kita lihat analisis curah hujan Indonesia dalam satu Minggu, 25 September sampai 1 Oktober. Pertama, ini 25 September kita lihat relatif tidak terlalu banyak ya hanya beberapa di kawasan perairan 25 September, 26 September masih dominan di kawasan perairan tetapi ada di Kalimantan Utara sedikit dan Kalimantan Barat dan ada di Sumatera Utara dan Riau,” imbuhnya.

Kemudian, Aam menjelaskan pada 27 September daerah Jawa, Sulawesi, Kalimantan bersih dari awan hujan, hanya di Sumatera Barat bagian pesisir barat dan utara. Selanjutnya 28 September, curah hujan cukup tinggi di Kalimantan dan Papua bagian tengah.

Lalu, 29 September masih dominan di Kalimantan dan Sulawesi bagian selatan dan tengah, dan 30 September Sumatera bagian utara dan Kalimantan bagian selatan dan tengah bagian selatan. “Nah, 1 Oktober memang agak sedikit tinggi curah hujannya di sebagian Kalimantan dan Sumatera,” katanya. Baca juga: Hujan Es Disertai Angin Kencang Rusak Puluhan Rumah Warga Makassar

Jadi, Aam mengatakan dalam satu Minggu ini curah hujan di Indonesia tidak terlalu tinggi. “Dan frekuensi kejadian hujan pun mungkin tidak terlalu tinggi sehingga ini mempengaruhi berkurangnya frekuensi kejadian bencana hidrometeorologi di Indonesia.”
(kri)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1285 seconds (10.177#12.26)