Indonesia Perlu Waspadai Perubahan Iklim Ekstrem
Kamis, 29 September 2022 - 22:58 WIB
loading...
A
A
A
Diffenbaugh dan Burke pada 2019 menyebutkan bahwa PDB Indonesia per kapita mungkin sudah 15% lebih rendah ketimbang yang bisa tercapai tanpa pemanasan yang disebabkan ulah manusia sejak 1991. Panas ekstrem merupakan salah satu dampak krisis iklim yang sangat nyata di Indonesia.
Hawa panas tersebut menurunkan hasil panen dan pangan di Indonesia, sebagaimana dinyatakan dalam riset Kinose pada 2020. Merujuk pada penelitian ini, dalam skenario tinggi emisi, Pulau Jawa dan wilayah utara Sumatera bakal mengalami penurunan panen beras sampai 20-40% pada 2040.
Kemudian, penelitian lain pada 2018 mengatakan bahwa kenaikan suhu berdampak langsung pada penurunan panen kakao di Indonesia. Jika suhu mencapai 27-27,5°C, maka hasil panen bakal merosot 67% dan bahkan sering mencapai nol.
Selain kakao, beras dan kopi juga akan terdampak dari kenaikan suhu dan penurunan curah hujan. “Kompilasi data dan proyeksi dari berbagai laporan ini dapat menjadi basis bagi aksi iklim bersama oleh berbagai pihak, terutama pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil, agar target-target pembangunan Indonesia menuju ekonomi hijau dapat tercapai,” kata Manajer Riset dan Pengembangan Koaksi Indonesia Azis Kurniawan.
Di samping itu, dampak krisis iklim juga dialami sektor infrastruktur. Riset Stone pada 2021 menunjukkan bahwa peningkatan hawa panas membuat permintaan pendingin udara lebih besar, sehingga menambah beban pada jaringan listrik. Gangguan pada jaringan listrik penyedia jasa pendinginan saat terjadi gelombang panas dapat menimbulkan korban jiwa.
Sejumlah penelitian juga mengungkapkan panas ekstrem bakal menurunkan fungsi pembangkit listrik tenaga termal, sehingga mengganggu pasokan listrik. Selanjutnya, mengacu penelitian Dobney pada 2008, rel kereta bisa melengkung dan rusak jika suhu melampaui rancangannya.
Hawa panas tersebut menurunkan hasil panen dan pangan di Indonesia, sebagaimana dinyatakan dalam riset Kinose pada 2020. Merujuk pada penelitian ini, dalam skenario tinggi emisi, Pulau Jawa dan wilayah utara Sumatera bakal mengalami penurunan panen beras sampai 20-40% pada 2040.
Kemudian, penelitian lain pada 2018 mengatakan bahwa kenaikan suhu berdampak langsung pada penurunan panen kakao di Indonesia. Jika suhu mencapai 27-27,5°C, maka hasil panen bakal merosot 67% dan bahkan sering mencapai nol.
Selain kakao, beras dan kopi juga akan terdampak dari kenaikan suhu dan penurunan curah hujan. “Kompilasi data dan proyeksi dari berbagai laporan ini dapat menjadi basis bagi aksi iklim bersama oleh berbagai pihak, terutama pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil, agar target-target pembangunan Indonesia menuju ekonomi hijau dapat tercapai,” kata Manajer Riset dan Pengembangan Koaksi Indonesia Azis Kurniawan.
Di samping itu, dampak krisis iklim juga dialami sektor infrastruktur. Riset Stone pada 2021 menunjukkan bahwa peningkatan hawa panas membuat permintaan pendingin udara lebih besar, sehingga menambah beban pada jaringan listrik. Gangguan pada jaringan listrik penyedia jasa pendinginan saat terjadi gelombang panas dapat menimbulkan korban jiwa.
Sejumlah penelitian juga mengungkapkan panas ekstrem bakal menurunkan fungsi pembangkit listrik tenaga termal, sehingga mengganggu pasokan listrik. Selanjutnya, mengacu penelitian Dobney pada 2008, rel kereta bisa melengkung dan rusak jika suhu melampaui rancangannya.
Lihat Juga :