Demi Indonesia, TGB Zainul Majdi: Kader Partai Perindo Harus Kesampingkan Ego
Jum'at, 09 September 2022 - 21:33 WIB
loading...
Ketua Harian Nasional DPP Partai Perindo TGB HM Zainul Majdi saat memberi arahan dalam Muskerwil DPW Partai Perindo Sumatera Utara, Jumat (9/9/2022). Foto/MPI
A
A
A
JAKARTA - Ketua Harian DPP Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi meminta Kader Partai Perindo mengesampingkan ego pribadi. Menurut TGB, yang harus diutamakan adalah kepentingan Indonesia.
Hal ini disampaikan TGB saat memberikan pengarahan dalam musyawarah kerja wilayah (Muskerwil) DPW Partai Perindo Sumatera Utara, Jumat (9/9/2022).
Baca juga: Gabung Perindo, TGB Ingin Perkuat Moderasi Beragama
TGB sekaligus menyampaikan, bila harapan Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo adalah bekerja kolektif melalui parpol mengikhtiarkan kesejahteraan bersama.
"Bekerja bersama-sama untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Untuk itu ego pribadi harus dikesampingkan," kata TGB di Medan.
Dijelaskan TGB, partai ini inklusif, apa pun agama, ras, latar belakang, selama punya kehendak dan visi membangun Indonesia maka diberi kesempatan bergabung.
"Ada beberapa nilai di Partai Perindo harus diketahui oleh para kader," ujarnya.
Baca juga: TGB Zainul Majdi Tegaskan Politik Perindo Menyatukan Bangsa
Beberapa nilai di Perindo lanjut Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Indonesia ini adalah, nilai persatuan sesuai dengan namanya Persatuan Indonesia. Ini dimaknakan kata kerja, karena persatuan ini hasil dari kerja dari founding father.
"Bagaimana para pendiri bangsa dengan latar belakang ideologi, sekolah, suku, maupun agama bersatu untuk berdirinya Indonesia," paparnya.
TGB melanjutkan, kader Partai Perindo tak boleh terpecah-belah seperti disampaikan dalam Al-Qur'an. Kitab suci agama yang lain pun menyampaikan yang sama.
Selain itu lanjut TGB, tak boleh mengklaim kelompoknya paling berjasa. Menyebut yang paling benar. Bila ini berjalan, maka akan gagal untuk mencapai tujuan sebagai bangsa.
"Hilang marwah di depan bangsa lain. Dilecehkan sebagai bangsa karena mengesampingkan nilai (kebersamaan)," tuturnya.
TGB berpesan supaya mengejar kekuasaan tak menghalalkan segala cara. Seni mengejar kekuasaan seringkali membutakan diri. Terlena atas nama kekuasaan.
" Ujung-ujungnya menjadikan konflik dan perpecahan. Hal ini jangan sampai terjadi," pungkasnya.
Hal ini disampaikan TGB saat memberikan pengarahan dalam musyawarah kerja wilayah (Muskerwil) DPW Partai Perindo Sumatera Utara, Jumat (9/9/2022).
Baca juga: Gabung Perindo, TGB Ingin Perkuat Moderasi Beragama
TGB sekaligus menyampaikan, bila harapan Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo adalah bekerja kolektif melalui parpol mengikhtiarkan kesejahteraan bersama.
"Bekerja bersama-sama untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Untuk itu ego pribadi harus dikesampingkan," kata TGB di Medan.
Dijelaskan TGB, partai ini inklusif, apa pun agama, ras, latar belakang, selama punya kehendak dan visi membangun Indonesia maka diberi kesempatan bergabung.
"Ada beberapa nilai di Partai Perindo harus diketahui oleh para kader," ujarnya.
Baca juga: TGB Zainul Majdi Tegaskan Politik Perindo Menyatukan Bangsa
Beberapa nilai di Perindo lanjut Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Indonesia ini adalah, nilai persatuan sesuai dengan namanya Persatuan Indonesia. Ini dimaknakan kata kerja, karena persatuan ini hasil dari kerja dari founding father.
"Bagaimana para pendiri bangsa dengan latar belakang ideologi, sekolah, suku, maupun agama bersatu untuk berdirinya Indonesia," paparnya.
TGB melanjutkan, kader Partai Perindo tak boleh terpecah-belah seperti disampaikan dalam Al-Qur'an. Kitab suci agama yang lain pun menyampaikan yang sama.
Selain itu lanjut TGB, tak boleh mengklaim kelompoknya paling berjasa. Menyebut yang paling benar. Bila ini berjalan, maka akan gagal untuk mencapai tujuan sebagai bangsa.
"Hilang marwah di depan bangsa lain. Dilecehkan sebagai bangsa karena mengesampingkan nilai (kebersamaan)," tuturnya.
TGB berpesan supaya mengejar kekuasaan tak menghalalkan segala cara. Seni mengejar kekuasaan seringkali membutakan diri. Terlena atas nama kekuasaan.
" Ujung-ujungnya menjadikan konflik dan perpecahan. Hal ini jangan sampai terjadi," pungkasnya.
(maf)
Lihat Juga :