Soal Kenaikan Harga BBM Era SBY, Demokrat Minta Adian PDIP Tidak Buta Tuli
Kamis, 08 September 2022 - 14:01 WIB
loading...
A
A
A
"Cara pikirnya tidak NKRI. Bagaimana nasib masyarakat dengan UMP yang tergolong kecil? Mereka tentunya akan kesusahan dengan kebijakan kenaikan harga BBM ini. Harusnya pemerintah memikirkan juga dampak asimetrisnya dari berbedanya UMP dan kemampuan masyarakat kita. Jadi, perlu belajar matematika lagi," ujarnya.
Oleh karena itu, kata Ketua DPD Demokrat Kalimantan Timur (Kaltim) ini, Demokrat berpandangan bahwa menaikan harga BBM bukan solusi untuk saat ini. Karena saat ini bangsa Indonesia baru pulih pasca pandemi Covid. Ibarat orang yang baru sembuh dari sakit, belum sembuh benar, tapi sudah disuruh berlari sekencang-kencangnya, maka bisa jatuh.
Irwan menegaskan bahwa kenaikan BBM di jaman SBY dilakukan hati-hati. SBY pun meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan meningkatnya pendapatan per kapita 13%, pertumbuhan ekonomi sampai 6%, dan pengangguran turun 5,7%. Jadi, ketimbang menaikan harga BBM saat ini, lebih baik membangun sistem subsidi BBM yang tepat sasaran.
"Menurut pemerintah sendiri, permasalah BBM ini adalah soal tidak tepat sasaran. Seharusnya masalah ini yang diperbaiki dan dicari solusi, kenapa harus dinaikan BBM nya dan harus ditanggung seluruh rakyat Indonesia yang berbeda-beda kemampuan daya belinya di setiap kabupaten/kota?" tandas Irwan.
Sebelumnya, politikus PDIP Adian Napitupulu mengklaim kenaikan BBM di rezim SBY lebih tinggi ketimbang rezim Jokowi. Di era SBY total kenaikan harga BBM (Premium) Rp4.690, sedangkan di era Jokowi total kenaikan Premium/Pertalite Rp3.500.
"Jadi SBY menaikan BBM lebih mahal Rp1.190 dari Jokowi," kata Adian dalam keterangannya, Rabu (7/9/2022) kemarin.
Baca juga: Keluhkan Harga BBM, Warga Bandingkan Era Presiden Jokowi dengan SBY
Oleh karena itu, kata Ketua DPD Demokrat Kalimantan Timur (Kaltim) ini, Demokrat berpandangan bahwa menaikan harga BBM bukan solusi untuk saat ini. Karena saat ini bangsa Indonesia baru pulih pasca pandemi Covid. Ibarat orang yang baru sembuh dari sakit, belum sembuh benar, tapi sudah disuruh berlari sekencang-kencangnya, maka bisa jatuh.
Irwan menegaskan bahwa kenaikan BBM di jaman SBY dilakukan hati-hati. SBY pun meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan meningkatnya pendapatan per kapita 13%, pertumbuhan ekonomi sampai 6%, dan pengangguran turun 5,7%. Jadi, ketimbang menaikan harga BBM saat ini, lebih baik membangun sistem subsidi BBM yang tepat sasaran.
"Menurut pemerintah sendiri, permasalah BBM ini adalah soal tidak tepat sasaran. Seharusnya masalah ini yang diperbaiki dan dicari solusi, kenapa harus dinaikan BBM nya dan harus ditanggung seluruh rakyat Indonesia yang berbeda-beda kemampuan daya belinya di setiap kabupaten/kota?" tandas Irwan.
Sebelumnya, politikus PDIP Adian Napitupulu mengklaim kenaikan BBM di rezim SBY lebih tinggi ketimbang rezim Jokowi. Di era SBY total kenaikan harga BBM (Premium) Rp4.690, sedangkan di era Jokowi total kenaikan Premium/Pertalite Rp3.500.
"Jadi SBY menaikan BBM lebih mahal Rp1.190 dari Jokowi," kata Adian dalam keterangannya, Rabu (7/9/2022) kemarin.
Baca juga: Keluhkan Harga BBM, Warga Bandingkan Era Presiden Jokowi dengan SBY
Lihat Juga :