KIB Luncurkan Visi Misi, Adi Prayitno: Politik Gagasan, Bukan Politik Catwalk
Selasa, 16 Agustus 2022 - 13:38 WIB
loading...
Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto (ketiga kanan), Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan (ketiga kiri), dan Ketua Umum DPP PPP Suharso Monoarfa (kedua kanan) saat akan mendaftar ke KPU, Rabu (10/8/2022). FOTO/ANTARA/Aprillio Akbar
A
A
A
JAKARTA - Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai apa yang ditunjukkan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) dalam peluncuran visi dan misi di Surabaya, patut diapresiasi. Menurutnya, KIB menunjukkan bahwa mereka mengedepankan ide dan gagasan dalam berpolitik di Indonesia.
Adi menilai, apa yang dilakukan Golkar, PAN, dan PPP, dengan membuka ruang aspirasi bagi visi dan misi koalisi, merupakan tradisi dan budaya politik baru. Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah ini menegaskan, KIB lebih mengedepankan narasi dan gagasan besar untuk Indonesia ketimbang hanya menunjukkan orkestra politik yang artifisial atau dangkal.
"(KIB) ini bukan politik para pesolek, yang mana mempertontonkan satu dandanan politik yang sebenarnya hanya manis di permukaan, tapi tidak indah di belakang. Karena dalam realitasnya, banyak orang yang kelihatan populer, narsis di medsos, dikenal oleh publik, nyatanya juga tidak punya rekam jejak yang bagus-bagus amat," tutur Adi dalam keterangan, Senin (15/8/2022).
Adi menambahkan, apa yang ditunjukkan partai yang dipimpin Airlangga Hartarto (Golkar), Zulkifli Hasan (PAN), dan Suharso Monoarfa (PPP), lebih bersifat kualitatif atau substansial. Meskipun harus diakui, sampai saat ini, masyarakat Indonesia lebih menyukai hal-hal yang sifatnya kuantitatif, remeh temeh, atau popularitas.
KIB dengan politik ide dan gagasannya menghadapi tantangan besar terkait kondisi masyarakat yang sejak beberapa tahun belakangan ini, lebih sering dicekoki satu fenomena politik yang mengarah pada kultus individu, sehingga yang terjadi saat ini masyarakat Indonesia lebih memilih orang-orang yang kelihatan populer, sering narsis di media sosialnya, sekali pun rekam jejak politiknya tidak terlampau kelihatan.
Menurut Adi, gagasan KIB harus melawan mainstream. "Masyarakat kita ini kan selama ini pikirannya pendek-pendek, sederhana. Karena suka pemimpin pesolek itu, catwalk," ujar Adi.
Adi menilai, apa yang dilakukan Golkar, PAN, dan PPP, dengan membuka ruang aspirasi bagi visi dan misi koalisi, merupakan tradisi dan budaya politik baru. Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah ini menegaskan, KIB lebih mengedepankan narasi dan gagasan besar untuk Indonesia ketimbang hanya menunjukkan orkestra politik yang artifisial atau dangkal.
"(KIB) ini bukan politik para pesolek, yang mana mempertontonkan satu dandanan politik yang sebenarnya hanya manis di permukaan, tapi tidak indah di belakang. Karena dalam realitasnya, banyak orang yang kelihatan populer, narsis di medsos, dikenal oleh publik, nyatanya juga tidak punya rekam jejak yang bagus-bagus amat," tutur Adi dalam keterangan, Senin (15/8/2022).
Adi menambahkan, apa yang ditunjukkan partai yang dipimpin Airlangga Hartarto (Golkar), Zulkifli Hasan (PAN), dan Suharso Monoarfa (PPP), lebih bersifat kualitatif atau substansial. Meskipun harus diakui, sampai saat ini, masyarakat Indonesia lebih menyukai hal-hal yang sifatnya kuantitatif, remeh temeh, atau popularitas.
KIB dengan politik ide dan gagasannya menghadapi tantangan besar terkait kondisi masyarakat yang sejak beberapa tahun belakangan ini, lebih sering dicekoki satu fenomena politik yang mengarah pada kultus individu, sehingga yang terjadi saat ini masyarakat Indonesia lebih memilih orang-orang yang kelihatan populer, sering narsis di media sosialnya, sekali pun rekam jejak politiknya tidak terlampau kelihatan.
Menurut Adi, gagasan KIB harus melawan mainstream. "Masyarakat kita ini kan selama ini pikirannya pendek-pendek, sederhana. Karena suka pemimpin pesolek itu, catwalk," ujar Adi.
Lihat Juga :