Kerap Disebut Radikal, Ini Penjelasan Ustaz Haikal Hassan
Senin, 29 Juni 2020 - 03:05 WIB
loading...
A
A
A
Menurut dia, masyarakat Indonesia umumnya masih belum cukup dewasa dalam menerima perbedaan pilihan politik. Sehingga, ketika ada perbedaan pilihan politik kerap kali muncul anggapan sebagai musuh. "Apa kita yang berlabelkan dai tak boleh menyuarakan sesuatu dan harus terus berada di tengah?" ucapnya heran.
Menarik cerita ke belakang, Haikal Hassan mengaku sedikit ada penyesalan karena saat ini akibat dari perbedaan dukungan politik, dirinya tidak lagi leluasa dalam berdakwah. "Kalau dulu saya bisa dakwah di kalangan teman-teman nonmuslim. Dulu saya diundang (berceramah) di kepengurusan PDIP di Buncit. Sekarang tak satupun mau menengok saya. Ini jadi curhat saya. Ini saya sedikit menyesal," ungkapnya.
Sementara itu, Imam Shamsi Ali pun menanggapi bahwa citra seseorang kerap kali memang sangat tergantung pada framing yang dibangun dan interest masing-masing orang yang memandang. Shamsi Ali mengatakan, politik tidak bisa lepas dari kehidupan. Karena itu, menurutnya setiap orang harus bisa menghormati sebuah perbedaan pilihan politik. "Jangan menyalahkan satu pihak yang memiliki pilihan politik berbeda," tuturnya.
Karena itulah, Shamsi Ali menyebut pentingnya pendidikan. Karena sebenarnya setiap perbedaan yang dialami dalam kehidupan sesungguhnya adalah didorong hak ijtihad masing-masing orang. "Pada zaman Nabi (Muhammad SAW) para sahabat justru dimotivasi untuk berijtihad padahal Nabi masih hidup. Maka ada perbedaan pendapat. Jangan alergi dalam perbedaan. Jadikan perbedaan itu menjadi motivasi timbulnya motivasi-motivasi baru," tuturnya.
Menarik cerita ke belakang, Haikal Hassan mengaku sedikit ada penyesalan karena saat ini akibat dari perbedaan dukungan politik, dirinya tidak lagi leluasa dalam berdakwah. "Kalau dulu saya bisa dakwah di kalangan teman-teman nonmuslim. Dulu saya diundang (berceramah) di kepengurusan PDIP di Buncit. Sekarang tak satupun mau menengok saya. Ini jadi curhat saya. Ini saya sedikit menyesal," ungkapnya.
Sementara itu, Imam Shamsi Ali pun menanggapi bahwa citra seseorang kerap kali memang sangat tergantung pada framing yang dibangun dan interest masing-masing orang yang memandang. Shamsi Ali mengatakan, politik tidak bisa lepas dari kehidupan. Karena itu, menurutnya setiap orang harus bisa menghormati sebuah perbedaan pilihan politik. "Jangan menyalahkan satu pihak yang memiliki pilihan politik berbeda," tuturnya.
Karena itulah, Shamsi Ali menyebut pentingnya pendidikan. Karena sebenarnya setiap perbedaan yang dialami dalam kehidupan sesungguhnya adalah didorong hak ijtihad masing-masing orang. "Pada zaman Nabi (Muhammad SAW) para sahabat justru dimotivasi untuk berijtihad padahal Nabi masih hidup. Maka ada perbedaan pendapat. Jangan alergi dalam perbedaan. Jadikan perbedaan itu menjadi motivasi timbulnya motivasi-motivasi baru," tuturnya.
(wib)
Lihat Juga :