Sejarah Perang Padri, Taktik Licik Kolonialisme Belanda untuk Kuasai Minangkabau

Senin, 25 Juli 2022 - 16:24 WIB
loading...
Sejarah Perang Padri,...
Mendengar istilah Perang Padri, sebagian masyarakat tentu sudah tidak asing dengannya. Foto DOK Wikipedia
A A A
JAKARTA - Mendengar istilah Perang Padri, sebagian masyarakat tentu sudah tidak asing dengannya. Di bangku sekolah, khususnya pelajaran sejarah pasti perang ini pernah disampaikan oleh para guru. Perang ini akan lekat kaitannya dengan seorang tokoh bernama Tuanku Imam Bonjol .

Perang Padri merupakan perang saudara yang terjadi di Sumatera Barat. Dalam sejarahnya, konflik ini berlangsung di wilayah Kerajaan Pagaruyung sekitar tahun 1803 sampai 1838.

Baca juga : Polemik Kamus Sejarah, Kemendikbud Diminta Tulis Sejarah Secara Jujur

Awalnya, pemicu perang padri berawal dari masalah agama antara Kaum Padri (kelompok agama) dengan kaum adat. Namun, Belanda menjadi tamu tak diundang dan turut ikut campur dalam konflik ini. Mereka sendiri menerapkan taktik adu domba untuk memecah rakyat Minangkabau.

Dikutip dari laman Cagar Budaya Kemdikbud, pemicu konflik ini didasari keinginan kalangan pemimpin ulama di kerajaan Pagaruyung untuk menerapkan dan menjalankan syariat Islam yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.

Setelahnya, para pemuka agama tersebut mengajak Yang Dipertuan Pagaruyung beserta kaum adat untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaannya yang tidak sesuai syariat Islam. Sayangnya, dalam beberapa pertemuan antara kedua kelompok ini tidak tercapai kata sepakat.

Alhasil, Kerajaan Pagaruyung mulai bergejolak. Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Pagaruyung pada tahun 1815 dan pecahlah pertempuran di Koto Tangah dekat Batu Sangkar. Dalam serangan ini, Sultan Arifin Muningsyah terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan ke Lubuk Jambi.

Terdesak oleh Kaum Padri, Pada 21 Februari 1821, kaum Adat bekerja sama dengan Belanda dalam perjanjian yang ditandatangani di Padang. Sebagai bentuk kompensasi, Belanda akan mendapat hak akses dan penguasaan atas wilayah darek (pedalaman Minangkabau).

Baca : Ratusan Peluru Meriam Diduga Peninggalan Tuanku Imam Bonjol Ditemukan

Campur tangan Belanda dimulai dengan penyerangan Simawang oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema pada awal April 1821. Perlawanan yang dilakukan oleh kaum padri cukup tangguh, sehingga Belanda kesulitan untuk menurunkannya. Setelahnya, Belanda melalui Gubernur Jendral Johannes van den Bosch mengajak pemimpin Kaum Padri yang waktu itu dipimpin Tuanku Imam Bonjol untuk melakukan gencatan senjata dengan maklumat Perjanjian Masang pada tahun 1824. Namun, pada akhirnya perjanjian tersebut dilanggar sendiri oleh Belanda.

Sejak awal 1833 perang Padri di Sumatera Barat berubah menjadi perang antara kaum Adat dan kaum Agama melawan Belanda. Keduanya pihak beralih menjadi bahu-membahu untuk melawan Belanda.

Kali ini, Belanda kedatangan bantuan dari Batavia. Mereka melanjutkan kembali pengepungan dan membuat kedudukan Tuanku Imam Bonjol bertambah sulit. Pada bulan Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol diundang ke Palupuh untuk berunding. Namun, Belanda dengan akal liciknya justru menangkapnya.

Pada babak terakhir Perang Padri, Tuanku Imam Bonjol diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat. Kemudian dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Lotak, Minahasa, dekat Manado. Di tempat terakhir itu, dia meninggal dunia tepat pada tanggal 8 November 1864.
(bim)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Lagi, Abu Janda Diadukan...
Lagi, Abu Janda Diadukan ke Bareskrim soal Pernyataan Sumbar Intoleran dan Barbar
Prabowo: Perang di Mana-mana,...
Prabowo: Perang di Mana-mana, Kita Tidak Terlibat tapi Waspada
Peristiwa Bersejarah...
Peristiwa Bersejarah 21 Mei 1998, BJ Habibie Ucapkan Sumpah Jabatan Presiden di Istana Merdeka
Peristiwa Bersejarah...
Peristiwa Bersejarah 21 Mei 1998, Soeharto Berhenti dari Jabatan Presiden
TNI AD Kirim 104 Perwira...
TNI AD Kirim 104 Perwira ke Pakistan, Ikuti Pendidikan Operasi Perang hingga Intelijen
Perang Iran vs Amerika-Israel,...
Perang Iran vs Amerika-Israel, Dubes UEA Pastikan Negaranya Aman
Mengapa Negara-negara...
Mengapa Negara-negara Arab Khawatir Kesepakatan Iran Jadi Titik Balik yang Membawa Bencana?
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
AS dan Israel Jadi Sumber...
AS dan Israel Jadi Sumber Kerusakan, Iran Serukan Tatanan Baru Negara Islam
Rekomendasi
Arus Peti Kemas Bandar...
Arus Peti Kemas Bandar Lampung Sepanjang 2026 Alami Peningkatan Signifikan
SMP Islam Amalina Raih...
SMP Islam Amalina Raih Penghargaan Most Innovative Eco Project di ESD Symposium 2026 Malaysia
Pacu Sektor Pariwisata,...
Pacu Sektor Pariwisata, TikTok GO Integrasikan Konten Kreator dengan Sistem Pemesanan Tiket
Berita Terkini
Minta Dasco hingga Prabowo...
Minta Dasco hingga Prabowo Beri Atensi Kasus Ijazah Palsu, Ade Darmawan: Jokowi Telah Didiskriminasi
Jumhur Bertemu Co-Chair...
Jumhur Bertemu Co-Chair IAPB, Dukung Indonesia Kembangkan Biodiversity Credit
Pengacara: Penangkapan...
Pengacara: Penangkapan Roy Suryo-Tifa seperti Penculikan para Jenderal di Film
Kapal Induk Garibaldi...
Kapal Induk Garibaldi dan Masa Depan Strategi Maritim Indonesia
Pengacara Roy Suryo:...
Pengacara Roy Suryo: Kami Sudah Siapkan Bukti-bukti Kuat di Sidang Kasus Ijazah Jokowi
Jokowi Bakal Hadir di...
Jokowi Bakal Hadir di Sidang Roy Suryo-Dokter Tifa, Kuasa Hukum: Kalau 100% Terlalu Dini
Infografis
Daftar 10 Pemain Tersubur...
Daftar 10 Pemain Tersubur dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved