Sejarah Perang Padri, Taktik Licik Kolonialisme Belanda untuk Kuasai Minangkabau
Senin, 25 Juli 2022 - 16:24 WIB
loading...
A
A
A
Setelahnya, para pemuka agama tersebut mengajak Yang Dipertuan Pagaruyung beserta kaum adat untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaannya yang tidak sesuai syariat Islam. Sayangnya, dalam beberapa pertemuan antara kedua kelompok ini tidak tercapai kata sepakat.
Alhasil, Kerajaan Pagaruyung mulai bergejolak. Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Pagaruyung pada tahun 1815 dan pecahlah pertempuran di Koto Tangah dekat Batu Sangkar. Dalam serangan ini, Sultan Arifin Muningsyah terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan ke Lubuk Jambi.
Terdesak oleh Kaum Padri, Pada 21 Februari 1821, kaum Adat bekerja sama dengan Belanda dalam perjanjian yang ditandatangani di Padang. Sebagai bentuk kompensasi, Belanda akan mendapat hak akses dan penguasaan atas wilayah darek (pedalaman Minangkabau).
Baca : Ratusan Peluru Meriam Diduga Peninggalan Tuanku Imam Bonjol Ditemukan
Campur tangan Belanda dimulai dengan penyerangan Simawang oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema pada awal April 1821. Perlawanan yang dilakukan oleh kaum padri cukup tangguh, sehingga Belanda kesulitan untuk menurunkannya. Setelahnya, Belanda melalui Gubernur Jendral Johannes van den Bosch mengajak pemimpin Kaum Padri yang waktu itu dipimpin Tuanku Imam Bonjol untuk melakukan gencatan senjata dengan maklumat Perjanjian Masang pada tahun 1824. Namun, pada akhirnya perjanjian tersebut dilanggar sendiri oleh Belanda.
Alhasil, Kerajaan Pagaruyung mulai bergejolak. Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Pagaruyung pada tahun 1815 dan pecahlah pertempuran di Koto Tangah dekat Batu Sangkar. Dalam serangan ini, Sultan Arifin Muningsyah terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan ke Lubuk Jambi.
Terdesak oleh Kaum Padri, Pada 21 Februari 1821, kaum Adat bekerja sama dengan Belanda dalam perjanjian yang ditandatangani di Padang. Sebagai bentuk kompensasi, Belanda akan mendapat hak akses dan penguasaan atas wilayah darek (pedalaman Minangkabau).
Baca : Ratusan Peluru Meriam Diduga Peninggalan Tuanku Imam Bonjol Ditemukan
Campur tangan Belanda dimulai dengan penyerangan Simawang oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema pada awal April 1821. Perlawanan yang dilakukan oleh kaum padri cukup tangguh, sehingga Belanda kesulitan untuk menurunkannya. Setelahnya, Belanda melalui Gubernur Jendral Johannes van den Bosch mengajak pemimpin Kaum Padri yang waktu itu dipimpin Tuanku Imam Bonjol untuk melakukan gencatan senjata dengan maklumat Perjanjian Masang pada tahun 1824. Namun, pada akhirnya perjanjian tersebut dilanggar sendiri oleh Belanda.
Lihat Juga :