Survei: Prabowo Dinilai Mampu Hentikan Polarisasi Sosial
Jum'at, 08 Juli 2022 - 20:19 WIB
loading...
A
A
A
"Prabowo cenderung dipandang sebagai tokoh nasional yang mampu diterima semua pihak untuk mengakhiri polarisasi sosial yang dinilai publik masih terjadi hingga saat ini," kata Direktur SPIN Igor Dirgantara saat memaparkan hasil survei, Jumat (8/7/2022).
Dia mengungkapkan hasil survei SPIN menyebut sebagian besar responden menilai polarisasi sebagai dampak dari pilpres lalu dan masih terjadi. "65, 1 persen responden memandang polarisasi akibat politik di Pilpres 2014 dan 2019 itu masih terjadi. Jadi publik masih melihat tingkat polarisasi itu masih potensi akan terjadi itu besar sekali, 65,1 persen ya. Dibanding 10.1 persen (yang menganggap tidak ada," kata Igor.
Masih adanya polarisasi itu, jelas dia, masyarakat menilai dipicu dari elite politik. Mereka dinilai tidak sungguh-sungguh dalam menghentikan kondisi itu.
"Yang pertama ternyata 20,2 persen responden menilai, polarisasi itu akibat ketidaktegasan tokoh politik. Karena (dipicu) influencer 13,1 persen, karena buzzer 11,9 persen, penegakan hukum yang tebang pilih 3,4 persen. Jadi sebagian besar publik 29,3 persen menjawab tidak tahu," imbuhnya.
"Saya juga kemudian mengamati ya, kenapa ketidaktegasan tokoh politik itu menjadi penyebab utama yang dianggap publik bahwa polarisasi itu masih mungkin terjadi. Karena mereka itulah yang memainkan isu identitas," pungkasnya.
Dia mengungkapkan hasil survei SPIN menyebut sebagian besar responden menilai polarisasi sebagai dampak dari pilpres lalu dan masih terjadi. "65, 1 persen responden memandang polarisasi akibat politik di Pilpres 2014 dan 2019 itu masih terjadi. Jadi publik masih melihat tingkat polarisasi itu masih potensi akan terjadi itu besar sekali, 65,1 persen ya. Dibanding 10.1 persen (yang menganggap tidak ada," kata Igor.
Masih adanya polarisasi itu, jelas dia, masyarakat menilai dipicu dari elite politik. Mereka dinilai tidak sungguh-sungguh dalam menghentikan kondisi itu.
"Yang pertama ternyata 20,2 persen responden menilai, polarisasi itu akibat ketidaktegasan tokoh politik. Karena (dipicu) influencer 13,1 persen, karena buzzer 11,9 persen, penegakan hukum yang tebang pilih 3,4 persen. Jadi sebagian besar publik 29,3 persen menjawab tidak tahu," imbuhnya.
"Saya juga kemudian mengamati ya, kenapa ketidaktegasan tokoh politik itu menjadi penyebab utama yang dianggap publik bahwa polarisasi itu masih mungkin terjadi. Karena mereka itulah yang memainkan isu identitas," pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :