Kisah Ediwarno, Jamaah Buta dari Cilacap: Semoga Ada Mukjizat Saya Bisa Melihat Baitullah
Jum'at, 24 Juni 2022 - 14:22 WIB
loading...
A
A
A
Saat kecelakaan, sepeda motor yang dia naiki ringsek. Kondisi tak jauh beda juga dengan sepeda motor lawannya. Bahkan begitu kerasnya tabrakan, Ediwarno mengaku sampai koma beberapa hari di rumah sakit (RS). Dua operasi besar pun dia jalani kala itu.
Baca juga: Kewajiban Haji: Bolehkah Melontar Jumrah Sebelum Azan Zuhur
Yang dia ingat, dua matanya mulai mengalami gangguan sekitar sebulan setelah kecelakaan. Perlahan, daya penglihatannya menurun. Hingga puncaknya, dua matanya benar-benar tak bisa melihat. Yang ada hanyalah gelap sampai sekarang.
Ediwarno mengaku, demi bisa matanya bisa melihat keindahan dunia lagi seperti kondisi normal, dia sudah berobat ke berbagai tempat, baik RS maupun pengobatan alternatif. Tak kurang ada lima RS yang sudah dia kunjungi, baik di Cilacap, Purwokerto maupun kota lain seperti Yogyakarta. Namun semuanya masih nihil.
Demikian pula, keluarganya juga beberapa kali membawa ke sejumlah ahli kesehatan alaternatif. Namun lagi-lagi upaya pengobatan itu belum berhasil. Dia menceritakan, merujuk penjelasan dari dokter, gangguan di matanya ini diakibatkan adanya gumpalan darah di syaraf kepala yang akhirnya memengaruhi kerja mata. "Bahkan saya akhirnya memilih pensiun dini karena harus berobat dan juga sudah tidak bisa melihat," ungkap Ediwarno.
Di tengah ujian berat hidupnya itu, dia bersyukur karena akhirnya tahun ini bisa berangkat haji. Baginya, ibadah rukun Islam kelima ini begitu ditunggu-tunggu. Untuk berhaji ini, dia sudah lama menabung sejak masih jadi PNS dengan kondisi matanya yang masih normal. Ayah dua anak ini mengaku telah bekerja cukup lama di lingkungan Pemkab Cilacap. Sehingga berbagai kantor dinas telah dirasakan. Uang gaji bulanan ditambah pendapatan sang istri dia sisihkan sedikit demi sedikit hingga akhirnya bisa mendaftar haji pada 2012 lalu.
Baca juga: Kewajiban Haji: Bolehkah Melontar Jumrah Sebelum Azan Zuhur
Yang dia ingat, dua matanya mulai mengalami gangguan sekitar sebulan setelah kecelakaan. Perlahan, daya penglihatannya menurun. Hingga puncaknya, dua matanya benar-benar tak bisa melihat. Yang ada hanyalah gelap sampai sekarang.
Ediwarno mengaku, demi bisa matanya bisa melihat keindahan dunia lagi seperti kondisi normal, dia sudah berobat ke berbagai tempat, baik RS maupun pengobatan alternatif. Tak kurang ada lima RS yang sudah dia kunjungi, baik di Cilacap, Purwokerto maupun kota lain seperti Yogyakarta. Namun semuanya masih nihil.
Demikian pula, keluarganya juga beberapa kali membawa ke sejumlah ahli kesehatan alaternatif. Namun lagi-lagi upaya pengobatan itu belum berhasil. Dia menceritakan, merujuk penjelasan dari dokter, gangguan di matanya ini diakibatkan adanya gumpalan darah di syaraf kepala yang akhirnya memengaruhi kerja mata. "Bahkan saya akhirnya memilih pensiun dini karena harus berobat dan juga sudah tidak bisa melihat," ungkap Ediwarno.
Di tengah ujian berat hidupnya itu, dia bersyukur karena akhirnya tahun ini bisa berangkat haji. Baginya, ibadah rukun Islam kelima ini begitu ditunggu-tunggu. Untuk berhaji ini, dia sudah lama menabung sejak masih jadi PNS dengan kondisi matanya yang masih normal. Ayah dua anak ini mengaku telah bekerja cukup lama di lingkungan Pemkab Cilacap. Sehingga berbagai kantor dinas telah dirasakan. Uang gaji bulanan ditambah pendapatan sang istri dia sisihkan sedikit demi sedikit hingga akhirnya bisa mendaftar haji pada 2012 lalu.
Lihat Juga :