Adian Napitupulu Pertanyakan Big Data Luhut Soal Rakyat Setuju Penundaan Pemilu 2024
Minggu, 13 Maret 2022 - 19:04 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Pemilu 2024 Ditunda, Sekjen PDIP: Orang di Sekitar Tak Paham Kehendak Presiden Jokowi
“Kalau alat ukur kehendak Rakyat di cerminkan dari hasil survey maka LSI sudah mengeluarkan hasil survei dan terbukti bahwa 70,7% masyarakat menolak perpanjangan masa jabatan presiden, sementara 20,3% masyarakat menginginkan sebaliknya,” ungkapnya.
Adian bahkan menyinggung Ketua PKB Muhaimin dan Luhut Binsar Pandjaitan soal big data tersebut. Dalam keterangan mereka, disimpulkan bahwa 60% rakyat setuju perpanjangan masa jabatan presiden, sementara sisanya 40% menolak.
“Kenapa hasilnya berbanding terbalik? Apakah karena presentase survey di paparkan secara lengkap oleh lembaga independen sementara hasil big data di paparkan oleh ketua umum partai dan politisi yang sudah pasti tidak indenpenden dan pasti juga sarat kepentingan politik,” tuturnya.
Paparan big data yang disampaikan elite politik, kata Adian hanya disampaikan berdasarkan pernyataan politisi tanpa publikasi resmi. Menurutnya media pun hanya menyebutkan hasilnya. “Sama sekali tidak di sebutkan data tersebut dari big data berasal Facebook, Instagram, Twitter, Tiktok, Snapchat atau apa?” tanyanya.
“Kalau alat ukur kehendak Rakyat di cerminkan dari hasil survey maka LSI sudah mengeluarkan hasil survei dan terbukti bahwa 70,7% masyarakat menolak perpanjangan masa jabatan presiden, sementara 20,3% masyarakat menginginkan sebaliknya,” ungkapnya.
Adian bahkan menyinggung Ketua PKB Muhaimin dan Luhut Binsar Pandjaitan soal big data tersebut. Dalam keterangan mereka, disimpulkan bahwa 60% rakyat setuju perpanjangan masa jabatan presiden, sementara sisanya 40% menolak.
“Kenapa hasilnya berbanding terbalik? Apakah karena presentase survey di paparkan secara lengkap oleh lembaga independen sementara hasil big data di paparkan oleh ketua umum partai dan politisi yang sudah pasti tidak indenpenden dan pasti juga sarat kepentingan politik,” tuturnya.
Paparan big data yang disampaikan elite politik, kata Adian hanya disampaikan berdasarkan pernyataan politisi tanpa publikasi resmi. Menurutnya media pun hanya menyebutkan hasilnya. “Sama sekali tidak di sebutkan data tersebut dari big data berasal Facebook, Instagram, Twitter, Tiktok, Snapchat atau apa?” tanyanya.
Lihat Juga :