Kisah Seorang Mata-mata, Hari Tua Menggelandang hingga Memendam Kecewa pada Penguasa

Senin, 07 Maret 2022 - 06:46 WIB
loading...
A A A
Lubis dan Zaenab dikaruniai sepuluh putra. Seorang anaknya meninggal tak lama setelah lahir. Salah satu anaknya lahir saat Lubis berada dalam pelarian akibat kudeta yang gagal pada 1957. Karena menjadi buron, dia hanya membawa beberapa anaknya; yang lainnya dititipkan ke keluarga atau kenalan.

"Saya termasuk orang yang pernah dititipkan waktu beliau dikejar-kejar," kata Furqan.

Begitu pula ketika Lubis terlibat dalam PRRI. Zaenab tetap mendukung dan memahami pilihan politiknya, bahkan ikut menanggung beban. Zaenab ikut keluar-masuk hutan. PRRI gagal, Lubis menyerah dan menjalani karantina politik di Cipayung. Di sana, dia bertetangga dengan Ahmad Husen, rekannya di PRRI. Salah seorang anaknya, Merinka, lahir semasa Lubis di Cipayung.

Setelah sekira dua tahun, Lubis tinggal bersama keluarganya di Cipayung, tetapi kembali harus berpisah karena masuk penjara. Ketika Lubis ditahan di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, istrinya kerap mengajak anak-anak menengoknya.

"Saya waktu ayah di penjara juga suka dibawa sama ibu nengok," kata Furqan. Sejumlah temannya juga kerap menengok, antara lain Kemal Idris dan Ventje Sumual.

Selepas dari penjara, Lubis baru bisa mencurahkan perhatian penuh pada anak anaknya. Di mata anak-anaknya, dia ayah yang bijaksana, penyayang, dan penuh perhatian. Dia menyempatkan waktu menanyakan dan membantu pekerjaan rumah anak-anaknya.

Lubis juga selalu mencontohkan kedisiplinan dan kemandirian. Tak ada yang tidur sebelum jam sepuluh. Dia akan memastikan anak-anaknya belajar.

Dia memberi tanggung jawab untuk mengurusi rumah. Setiap anak memiliki tugas masing-masing. "Waktu di Yogya, Ayah pun sudah hidup mandiri," ujar Lubis kepada anak anaknya.

Itulah kenapa Lubis tak mau membantu anaknya mendapatkan pekerjaan. Terlebih di instansi pemerintah, sipil maupun militer. "You nggak akan kuat. Nggak kuat mental you makan duit korupsi."

Lubis tahu benar bahaya korupsi. Pada pertengahan 1950-an, dia getol memerangi korupsi. Meski punya perusahaan, Lubis juga tak mau memasukkan anak-anaknya.

"Tidak ada model relasi. Mereka harus bisa berdiri sendiri," ujar Lubis.

Di rumahnya di Jalan Semboja, Lubis sesekali kedatangan sejawatnya, seperti Kemal Idris, Ventje Sumual, Ali Sadikin, dan Ali Moertopo. Wartawan senior Mochtar Lubis, yang getol menyuarakan pemberantasan korupsi, juga kerap datang. Jika tak ada tamu, Lubis akan mengisi waktu dengan membaca dan menonton sepak bola di televisi.

Furqan Lubis ingat betul masa ketika screening yang dijalankan Pemerintah Orde Baru menghentikan jalannya menjadi dosen. Dia tak tahu apa yang membuatnya tak lulus. Alih-alih memberi tahu, si petugas malah berpesan: "Kamu jangan mencontoh orangtuamu, ya."

Penasaran, Furqan menceritakan pengalaman itu kepada ayahnya. Zulkifli menjawab singkat: "Itu kan orang yang tidak mengerti perjuangan."

Lubis tak pernah menceritakan kiprahnya dalam politik dan militer kepada anak-anaknya. Meski punya peran penting di kancah politik nasional pada 1950-an, dia menutupinya rapat-rapat.

Baginya, pekerjaan dan keluarga adalah dua hal yang terpisah. Anak-anaknya pun akhirnya tak ambil pusing. "Justru yang lebih tahu orang lain daripada anaknya sendiri," kata Furqan.

Sekalipun keras, Lubis pantang menggunakan kekerasan. Bila mendapati anaknya berkelahi, dia hanya menasihati. "Kalau kita berantem, jangan lawan yang kecil dari kamu. Yang lebih besar dari kamu! Seperti Ayah. Ayah lawan Soekarno kalau tidak benar."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
750 Yonif Teritorial...
750 Yonif Teritorial Pembangunan, Strategi TNI Menghadapi Ancaman Baru
Maarif Institute Ajak...
Maarif Institute Ajak Publik Meneladani Buya Syafii melalui Pentas Budaya
Serangan ke Prabowo...
Serangan ke Prabowo di Medsos Tak Organik, Pengamat Curigai Pola yang Tidak Biasa
Profil Brigjen Muhammad...
Profil Brigjen Muhammad Nas, Ahli Intelijen yang Diangkat Jadi Kapuspen TNI
Pergerakan Kapal Perang...
Pergerakan Kapal Perang Asing di Selat Malaka Meningkat, Asintel Panglima TNI Kumpulkan Dansat dan Intelijen di Kepri
TNI AD Kirim 104 Perwira...
TNI AD Kirim 104 Perwira ke Pakistan, Ikuti Pendidikan Operasi Perang hingga Intelijen
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Meski Sekutu Sejati,...
Meski Sekutu Sejati, Mengapa Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-mata Israel ke Tingkat Tertinggi?
Siapa Bill Pulte? Direktur...
Siapa Bill Pulte? Direktur Intelijen Nasional AS yang Tak Pernah Jadi Agen Rahasia
Rekomendasi
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
Gempa Magnitudo 6,7...
Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Sulteng, 1 Warga Sigi Meninggal Dunia
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
Berita Terkini
Pesan Said Didu untuk...
Pesan Said Didu untuk Prabowo: Waktu Melakukan Akomodasi Politik Sudah Lewat
Ditegur Delegasi Belanda...
Ditegur Delegasi Belanda karena Merokok saat KMB, Jawaban Agus Salim Ini Membuat Mereka Terdiam
ART asal Indonesia Dianiaya...
ART asal Indonesia Dianiaya di Malaysia, DPR Minta Kemlu Lobi agar Pelaku Dihukum Berat
Said Didu: Jangan Juga...
Said Didu: Jangan Juga Semua Orang Kritis Ditakut-takuti
Guntur Romli Tepis Tuduhan...
Guntur Romli Tepis Tuduhan BEM Bersatu: Kegilaan Logika Cocokologi yang Dipaksakan
Aliansi BEM Bersatu...
Aliansi BEM Bersatu Endus Dugaan Keterlibatan Politikus PDIP dalam Aksi Tolak MBG
Infografis
Kisah Jalur KRL Jabodetabek,...
Kisah Jalur KRL Jabodetabek, Diawali Rute Tanjung Priok-Jatinegara Pada 1924
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved