Pengamat: Sebelum Kritik Prabowo, PSI Harus Belajar Dulu soal Pertahanan
Sabtu, 12 Februari 2022 - 14:56 WIB
loading...
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat menerima kunjungan kehormatan Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Florence Parly. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Rian Ernest dinilai gagal paham soal isu-isu pertahanan. Pendapat Pengamat Pertahanan dan Keamanan Robi Sugara itu menanggapi kritik PSI kepada pemerintah melalui Kementerian Pertahanan terkait pembelian alat utama sistem persenjataan ( alutsista ).
Menurut Robi Sugara, PSI tidak mengerti dua model ancaman yang sedang dihadapi oleh negara, yakni ancaman yang bersifat tradisional dan ancaman yang bersifat non-tradisional. “Sederhananya ancaman tradisional itu bersifat militer dan non tradisional itu antara lain seperti wabah Covid saat ini,” ujar Robi kepada wartawan, Sabtu (12/2/2022)
Robi menilai saat ini bukan hanya Indonesia, namun seluruh negara di dunia ini mengalami ancaman non-tradisional seperti wabah Covid-19 yang terus bermutasi dan mengancam perekonomian. Namun, ancaman dari luar yang bersifat militer, kata dia, masih terjadi dan suatu waktu bisa meningkat eskalasinya.
Baca juga: Baru Akuisisi 6 Pesawat Tempur Rafale, Prabowo: Sisanya, 36 Unit Menyusul Segera
Dia memberikan contoh konflik di Laut China Selatan dengan kehadiran AUKUS sejak dirilis oleh Presiden Amerika Joe Biden pada September 2021. AUKUS merupakan singkatan dari Australia, United Kingdom, dan Unites States of America yang bersepakat menghalau kekuatan ekonomi dan militer China di Asia Pasifik.
“Selain itu di Eropa Timur, Rusia sedang terganggu oleh kehadiran NATO di sana. Dari AUKUS ini, Australia akan mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir buatan Amerika yang pasti akan membahayakan pertahanan laut kita,” kata alumni Strategic Studies, RSIS-NTU Singapura ini.
Menurut Robi Sugara, PSI tidak mengerti dua model ancaman yang sedang dihadapi oleh negara, yakni ancaman yang bersifat tradisional dan ancaman yang bersifat non-tradisional. “Sederhananya ancaman tradisional itu bersifat militer dan non tradisional itu antara lain seperti wabah Covid saat ini,” ujar Robi kepada wartawan, Sabtu (12/2/2022)
Robi menilai saat ini bukan hanya Indonesia, namun seluruh negara di dunia ini mengalami ancaman non-tradisional seperti wabah Covid-19 yang terus bermutasi dan mengancam perekonomian. Namun, ancaman dari luar yang bersifat militer, kata dia, masih terjadi dan suatu waktu bisa meningkat eskalasinya.
Baca juga: Baru Akuisisi 6 Pesawat Tempur Rafale, Prabowo: Sisanya, 36 Unit Menyusul Segera
Dia memberikan contoh konflik di Laut China Selatan dengan kehadiran AUKUS sejak dirilis oleh Presiden Amerika Joe Biden pada September 2021. AUKUS merupakan singkatan dari Australia, United Kingdom, dan Unites States of America yang bersepakat menghalau kekuatan ekonomi dan militer China di Asia Pasifik.
“Selain itu di Eropa Timur, Rusia sedang terganggu oleh kehadiran NATO di sana. Dari AUKUS ini, Australia akan mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir buatan Amerika yang pasti akan membahayakan pertahanan laut kita,” kata alumni Strategic Studies, RSIS-NTU Singapura ini.
Lihat Juga :