I Gusti Ngurah Rai, Jenderal Perang Puputan yang Tak Kenal Takut
Minggu, 30 Januari 2022 - 11:01 WIB
loading...
A
A
A
Pasca Indonesia mendeklarasikan kemerdekaanya pada 1945, ia bersama dengan rekan militernya ikut membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sunda Kecil. Ia diangkat menjadi komandan.
Berbekal rasa tanggung jawab sebagai Komandan TKR, I Gusti Ngurah Rai pergi ke Yogyakarta yang menjadi markas besar TKR untuk berkonsolidasi dengan pimpinan pusat. Saat itu juga, ia dilantik menjadi Komandan Resimen Sunda Kecil berpangkat Letnan Kolonel.
TKR Sunda Kecil di bawah pimpinannya, dengan kekuatan 13,5 kompi ditempatkan tersebar diseluruh kota di Bali, saat itu pasukannya dikenal dengan nama Ciung Wanara.
Baca juga: Usai Copot Danpos Sumuraman, Jenderal Marinir Ini Dipromosi Jadi Wakil Gubernur AAL
Pertempuran Akhir
I Gusti Ngurah Rai adalah pemimpin dalam perang Puputan Margarana atau pertempuran habis-habisan pada 20 November 1946. Perang ini dipicu kekecewaan Ngurah Rai dan rakyat Bali atas tidak diakuinya kedaulatan Bali sebagai bagian dari Indonesia. Belanda hanya mengakui kekuasaan de facto Indonesia di wilayah Jawa, Madura, dan Sumatera.
Berbekal rasa tanggung jawab sebagai Komandan TKR, I Gusti Ngurah Rai pergi ke Yogyakarta yang menjadi markas besar TKR untuk berkonsolidasi dengan pimpinan pusat. Saat itu juga, ia dilantik menjadi Komandan Resimen Sunda Kecil berpangkat Letnan Kolonel.
TKR Sunda Kecil di bawah pimpinannya, dengan kekuatan 13,5 kompi ditempatkan tersebar diseluruh kota di Bali, saat itu pasukannya dikenal dengan nama Ciung Wanara.
Baca juga: Usai Copot Danpos Sumuraman, Jenderal Marinir Ini Dipromosi Jadi Wakil Gubernur AAL
Pertempuran Akhir
I Gusti Ngurah Rai adalah pemimpin dalam perang Puputan Margarana atau pertempuran habis-habisan pada 20 November 1946. Perang ini dipicu kekecewaan Ngurah Rai dan rakyat Bali atas tidak diakuinya kedaulatan Bali sebagai bagian dari Indonesia. Belanda hanya mengakui kekuasaan de facto Indonesia di wilayah Jawa, Madura, dan Sumatera.
Lihat Juga :