Penguatan Peran Perempuan dalam Bangun Ekosistem yang Bersahabat Inklusif
Rabu, 01 Desember 2021 - 13:29 WIB
loading...
Foto: Doc. Kemenag RI
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Agama memiliki kewajiban penyediaan pendidikan Islam yang merata bagi semua pihak, termasuk bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Muhammad Zain mengatakan bahwa pendidikan harus mengakomodir secara merata kelompok berkebutuhan khusus dengan cara yang setara dan tak boleh didiskriminasi sesuai dengan UUD 1945.
"Kemenag telah menyiapkan roadmap atau peta jalan Madrasah Inklusif untuk memberikan pelayanan yang lebih baik bagi peserta didik berkebutuhan khusus," ungkapnya saat menjadi salah satu narasumber talkshow "Penguatan Peran Perempuan dalam Pendidikan Inklusif di Madrasah" yang digelar secara daring dan luring di Jakarta, Selasa (30/11/2021).
Dalam menjalankan pendidikan Inklusif, guru tak boleh menggunakan pendekatan emosional terhadap siswa ABK. “Prinsipnya mendidik dengan penuh kasih sayang, seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW,” tegasnya.
"Saat ini, waktunya kita harus bersama membantu kelancaran program mendukung Pendidikan Islam inklusif, meskipun hal ini tidak mudah dan sangat kompleks serta memiliki banyak “obstacle” (rintangan),” ujar Eny Retno Yaqut Cholil Qoumas selaku penasihat Dharma Wanita Persatuan Kemenag RI sekaligus bagian dari Pokja Pendidikan Islam Inklusif yang juga merupakan narasumber dalam talk show ini.
Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Muhammad Zain mengatakan bahwa pendidikan harus mengakomodir secara merata kelompok berkebutuhan khusus dengan cara yang setara dan tak boleh didiskriminasi sesuai dengan UUD 1945.
"Kemenag telah menyiapkan roadmap atau peta jalan Madrasah Inklusif untuk memberikan pelayanan yang lebih baik bagi peserta didik berkebutuhan khusus," ungkapnya saat menjadi salah satu narasumber talkshow "Penguatan Peran Perempuan dalam Pendidikan Inklusif di Madrasah" yang digelar secara daring dan luring di Jakarta, Selasa (30/11/2021).
Dalam menjalankan pendidikan Inklusif, guru tak boleh menggunakan pendekatan emosional terhadap siswa ABK. “Prinsipnya mendidik dengan penuh kasih sayang, seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW,” tegasnya.
"Saat ini, waktunya kita harus bersama membantu kelancaran program mendukung Pendidikan Islam inklusif, meskipun hal ini tidak mudah dan sangat kompleks serta memiliki banyak “obstacle” (rintangan),” ujar Eny Retno Yaqut Cholil Qoumas selaku penasihat Dharma Wanita Persatuan Kemenag RI sekaligus bagian dari Pokja Pendidikan Islam Inklusif yang juga merupakan narasumber dalam talk show ini.
Lihat Juga :