Menang di MA, Demokrat Diminta Tetap Waspadai Brutalitas Demokrasi
Senin, 22 November 2021 - 21:54 WIB
loading...
A
A
A
Ke depan, BW mengingatkan Demokrat harus melibatkan para aktivis, para akademisi dan anak-anak muda pemilik suara di masa depan untuk bukan hanya tahu tapi juga berani bersuara. Menurutnya, ini saatnya menunjukkan keberpihakan.
Dia menggarisbawahi bahwa pada saat ini berbagai survei menunjukkan elektabilitas Demokrat maupun Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terus menunjukkan tren naik. "Ini kesempatan yang baik untuk memanaskan mesin partai sambil tetap melibatkan berbagai elemen masyarakat sipil dengan terus berlatih berkoordinasi dan bergerak dalam komando sambil tetap fleksibel melihat persoalan. Jangan reaktif, tapi harus memimpin dengan melihat secara jernih berbagai persoalan yang berkembang," jelas BW.
Tidak hanya di dunia nyata, tekanan terhadap Demokrat juga terjadi di dunia maya. Jurnal 'Inside Indonesia' edisi 146 (Okt-Des 2021) yang diterbitkan Australia mempublikasikan serangkaian hasil riset tentang pasukan siber di Indonesia, salah satunya berjudul 'A Digital Coup Inside Partai Demokrat'. Riset dilakukan secara bersama oleh Universitas Diponegoro, University of Amsterdam, LP3ES dan Drone Emprit.
Salah satu periset utamanya Dosen Undip Dr Wijayanto mengingatkan bahwa informasi yang benar seperti oksigen dalam demokrasi karena orang menggunakan informasi untuk mengambil keputusan. "Karena itu, disinformasi dan hoaks (yang disebarkan pasukan siber), menjadi gas beracun dalam demokrasi," kata Wija yang juga Direktur Center for Media and Democracy LP3ES ini.
Bagi Wija, apa yang terjadi pada Demokrat ini merupakan pelemahan sistematis oposisi. Penguasa mencoba membeli legitimasi menggunakan pasukan siber.
Dia menggarisbawahi bahwa pada saat ini berbagai survei menunjukkan elektabilitas Demokrat maupun Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terus menunjukkan tren naik. "Ini kesempatan yang baik untuk memanaskan mesin partai sambil tetap melibatkan berbagai elemen masyarakat sipil dengan terus berlatih berkoordinasi dan bergerak dalam komando sambil tetap fleksibel melihat persoalan. Jangan reaktif, tapi harus memimpin dengan melihat secara jernih berbagai persoalan yang berkembang," jelas BW.
Tidak hanya di dunia nyata, tekanan terhadap Demokrat juga terjadi di dunia maya. Jurnal 'Inside Indonesia' edisi 146 (Okt-Des 2021) yang diterbitkan Australia mempublikasikan serangkaian hasil riset tentang pasukan siber di Indonesia, salah satunya berjudul 'A Digital Coup Inside Partai Demokrat'. Riset dilakukan secara bersama oleh Universitas Diponegoro, University of Amsterdam, LP3ES dan Drone Emprit.
Salah satu periset utamanya Dosen Undip Dr Wijayanto mengingatkan bahwa informasi yang benar seperti oksigen dalam demokrasi karena orang menggunakan informasi untuk mengambil keputusan. "Karena itu, disinformasi dan hoaks (yang disebarkan pasukan siber), menjadi gas beracun dalam demokrasi," kata Wija yang juga Direktur Center for Media and Democracy LP3ES ini.
Bagi Wija, apa yang terjadi pada Demokrat ini merupakan pelemahan sistematis oposisi. Penguasa mencoba membeli legitimasi menggunakan pasukan siber.
Lihat Juga :