Pengamat Intelijen: Dua Kelompok Ini Harus Diwaspadai saat Corona
Kamis, 04 Juni 2020 - 19:03 WIB
loading...
Warga melintas di dinding mural bertemakan Covid-19. Mural itu untuk memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar agar lebih waspada pada penyebaran virus tersebut dan sekaligus memutus mata rantai penyebarannya. Foto/SINDOnews/Yorri Farli
A
A
A
JAKARTA - Beragam kebijakan pemerintah telah dikeluarkan untuk mengatasi persoalan multidimensi yang muncul akibat pandemi virus Corona (Covid-19) . Ada yang patuh dan mendukung, namun tidak sedikit pula yang acuh bahkan memancing kisruh.
Pengamat intelijen Stanislaus Riyanta menyebut ada dua kelompok sosial yang muncul dan perlu diwaspadai pemerintah, yaitu kelompok ngeyel dan yang suka kisruh. Menurut dia, kelompok ‘ngeyel’ umumnya acuh, cuek dan tidak terlalu mengganggu.
Kalau yang ngeyel, tidak perlu sampai ke ranah hukum. Bisa ditindak dengan kebijakan teguran dengan maksud untuk menyadarkan.
“Kalau ‘kisruh’ ini justru ini kelompok yang harus diantisipasi. Karena gerakan ini tujuannya hanya satu, yaitu mosi tidak percaya kepada pemerintah. Kalau sudah melanggar hukum harus ditindak tegas,” kata Stanis dalam diskusi online, Kamis (4/6/2020).
Kelompok ini umumnya memanfaatkan situasi pandemi dan mencari celah kesalahan atau kekurangan dari kebijakan pemerintah. Mereka membuat propaganda secara massif dengan maksud menghimpun kekuatan untuk tidak percaya lagi pada pemimpin negara.
Pengamat intelijen Stanislaus Riyanta menyebut ada dua kelompok sosial yang muncul dan perlu diwaspadai pemerintah, yaitu kelompok ngeyel dan yang suka kisruh. Menurut dia, kelompok ‘ngeyel’ umumnya acuh, cuek dan tidak terlalu mengganggu.
Kalau yang ngeyel, tidak perlu sampai ke ranah hukum. Bisa ditindak dengan kebijakan teguran dengan maksud untuk menyadarkan.
“Kalau ‘kisruh’ ini justru ini kelompok yang harus diantisipasi. Karena gerakan ini tujuannya hanya satu, yaitu mosi tidak percaya kepada pemerintah. Kalau sudah melanggar hukum harus ditindak tegas,” kata Stanis dalam diskusi online, Kamis (4/6/2020).
Kelompok ini umumnya memanfaatkan situasi pandemi dan mencari celah kesalahan atau kekurangan dari kebijakan pemerintah. Mereka membuat propaganda secara massif dengan maksud menghimpun kekuatan untuk tidak percaya lagi pada pemimpin negara.