7 Tahun Kepemimpinan Jokowi, Kualitas Pendidikan Masih Stagnan

Selasa, 26 Oktober 2021 - 20:56 WIB
loading...
7 Tahun Kepemimpinan...
The Indonesia Institute mendorong Kemendikbud-Ristek melakukan perbaikan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Foto/dok.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Sejak Presiden Jokowi menjabat pada Oktober 2014 dan terpilih kembali pada 2019, salah satu misi unggulannya adalah meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Mereformasi sistem pendidikan menjadi satu di antara upaya andalan untuk mewujudkan misi tersebut.

Tetapi Lembaga riset kebijakan publik The Indonesian Institute (TII) justru berpandangan reformasi tersebut belum dilaksanakan secara optimal. Peneliti Bidang Sosial TII Nisaaul Muthiah menilai sistem pendidikan di Indonesia saat ini masih membutuhkan banyak perbaikan. Mulai aspek sumber daya manusia (SDM) yang terlibat hingga infrastruktur penunjang proses belajar.

Hasil studi terbaru Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan membaca anak usia 15 tahun di Indonesia berada di peringkat 72 dari 77 negara. Sementara, rata-rata kemampuan matematika dan ilmu pengetahuan berada di peringkat 72 dan 70 dari 78 negara. Secara garis besar, skor PISA yang diperoleh Indonesia pada 2018 menunjukkan adanya penurunan dibanding skor PISA Indonesia pada 2015.

Baca juga: Karangan Bunga Penuhi Rumah Duka Sudi Silalahi, dari Presiden Jokowi hingga Anies Baswedan

Pada 2018, rata-rata kemampuan membaca anak Indonesia sebesar 371 poin. Padahal, rata-rata membaca pada 2015 sebesar 397 poin. Sementara, rata-rata kemampuan matematika di periode 2018 mencapai 379 poin, menurun dari 386 poin di 2015. Begitu pula rata-rata kemampuan ilmu pengetahuan pada 2015 sebesar 403 poin, namun malah turun menjadi 396 poin di 2018.

“Nilai-nilai tersebut masih berada di bawah rata-rata negara-negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang sebesar 487 (rata-rata kemampuan membaca) dan 489 poin (rata-rata kemampuan matematika dan ilmu pengetahuan),” tutur Nisaaul dalam keterangan resminya kepada SINDOnews, Selasa (26/10/2021).

Kendati demikian, jumlah murid di Indonesia yang dapat masuk ke level pendidikan menengah memang meningkat sejak 2003 hingga 2018. Namun, peningkatan tersebut tidak disertai dengan perbaikan kualitas pendidikan yang diberikan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
Pesawat AMA Dibakar...
Pesawat AMA Dibakar di Yahukimo, Kemenko Polkam Dorong Tindakan Tegas
Sinetron Terlanjur Mencintaimu...
Sinetron Terlanjur Mencintaimu Akan Warnai Layar Kaca Pemirsa RCTI, Berikut Sinopsisnya
IAEA Yakin Persediaan...
IAEA Yakin Persediaan Uranium yang Diperkaya Masih Tersimpan di Fasilitas Nuklir Iran
Berita Terkini
Tingginya Kasus Kanker...
Tingginya Kasus Kanker Paru: Tantangan Skrining, Diagnosis, hingga Akses Terapi
Andi Azwan: Sikap Roy...
Andi Azwan: Sikap Roy Suryo Tempuh Praperadilan Tindakan Pengecut
Tegaskan MBG Lanjut...
Tegaskan MBG Lanjut Terus, Hashim: Tak Berhenti sampai Berhasil
Aliansi Mahasiswa Menjawab...
Aliansi Mahasiswa Menjawab Desak Penguatan Pasal 33 UUD 1945 Hadapi Tantangan Global
Dicap Penyusup oleh...
Dicap Penyusup oleh Roy Suryo saat Sidang Praperadilan, Suhadi Beberkan Kejanggalan Materi Gugatan
UI Kembangkan RehatPod,...
UI Kembangkan RehatPod, Solusi Isi Ulang Energi bagi Masyarakat Urban
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved