Jenderal Benny Moerdani, Pencetus Pasukan Antiteror Kopassus yang Disegani Dunia
Kamis, 23 September 2021 - 05:59 WIB
loading...
A
A
A
Di awal tahun 1979, Benny yang saat itu menjabat sebagai Kepala Pusat Intelijen Strategis (Pusintelstrat) memanggil Asisten 2/Operasi Kopassandha yang kini bernama Kopassus Letkol Sintong Panjaitan. Dalam pertemuan tersebut, Benny menyampaikan analisisnya mengenai kemungkinan ancaman teroris. Dalam buku yang ditulis Julius Pour, berjudul “Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan” Benny menyebut ancaman teroris tersebut muncul dalam bentuk pembajakan pesawat. Apalagi, di era 1970 an, aksi pembajakan pesawat dan penyanderaan seringkali dilakukan para teroris di berbagai negara. Cara tersebut dinilai efektif bagi teroris untuk menarik perhatian dunia internasional. Baca juga: Kisah Prabowo Subianto Saksikan Kematian Komandan di Pelukannya saat Operasi Seroja
Jenderal Kopassus ini kemudian meminta Sintong untuk menyiapkan sebuah pasukan khusus antiteror. Tidak hanya itu, Sintong juga diminta membuat bahan perbandingan dengan pasukan antiteror di negara lain. Sintong kemudian diberi kesempatan untuk mempelajari pasukan penanggulangan antiteror di luar negeri. Salah satunya dengan mengikuti latihan di Special Air Service (SAS) Angkatan Darat Kerajaan Inggris di Hereford.
Tidak hanya itu, Sintong juga mengikuti latihan di Korps Commandotroopen (KCT) Angkatan Darat Kerjaan Belanda dan melihat langsung latihan pasukan khusus antiteror Korea Selatan. “Letjen TNI Leonardus Benjamin Moerdani, Asisten Intelijen Hankam/Kepala Pusat Intelijen Strategis/Asisten Intelijen Kopkamtib memberi arahan agar dirinya tidak mengikuti latihan antiteror di Amerika Serikat. Alasan utamanya, Amerika Serikat lebih mengutamakan keunggulan teknologi sehingga dapat menyebabkan personelnya menjadi manja,” ujar Sintong dalam bukunya berjudul “Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando”.
Tidak sampai di situ, Benny juga memanggil Mayor Infanteri Luhut Binsar Pandjaitan dan Kapten Infanteri Prabowo Subianto untuk mengikuti sekolah antiteror di Jerman Barat. Pemanggilan tersebut diakui Prabowo yang kini menjabat Menteri Pertahanan (Menhan).
Prabowo menuturkan, pada 1981 dirinya bersama Mayor Infanteri Luhut Pandjaitan dipanggil LB Moerdani dan diberi tugas untuk sekolah antiteror di GSG9 di Jerman Barat. ”Kita harus punya pasukan antiteror. Kalian berdua berangkat ke sana belajar dan kembali. Sesudah itu kalian membentuk dan melatih pasukan antiteror kita,” kata Prabowo menirukan ucapan Benny Moerdani dalam buku biografinya “Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto”
Jenderal Kopassus ini kemudian meminta Sintong untuk menyiapkan sebuah pasukan khusus antiteror. Tidak hanya itu, Sintong juga diminta membuat bahan perbandingan dengan pasukan antiteror di negara lain. Sintong kemudian diberi kesempatan untuk mempelajari pasukan penanggulangan antiteror di luar negeri. Salah satunya dengan mengikuti latihan di Special Air Service (SAS) Angkatan Darat Kerajaan Inggris di Hereford.
Tidak hanya itu, Sintong juga mengikuti latihan di Korps Commandotroopen (KCT) Angkatan Darat Kerjaan Belanda dan melihat langsung latihan pasukan khusus antiteror Korea Selatan. “Letjen TNI Leonardus Benjamin Moerdani, Asisten Intelijen Hankam/Kepala Pusat Intelijen Strategis/Asisten Intelijen Kopkamtib memberi arahan agar dirinya tidak mengikuti latihan antiteror di Amerika Serikat. Alasan utamanya, Amerika Serikat lebih mengutamakan keunggulan teknologi sehingga dapat menyebabkan personelnya menjadi manja,” ujar Sintong dalam bukunya berjudul “Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando”.
Tidak sampai di situ, Benny juga memanggil Mayor Infanteri Luhut Binsar Pandjaitan dan Kapten Infanteri Prabowo Subianto untuk mengikuti sekolah antiteror di Jerman Barat. Pemanggilan tersebut diakui Prabowo yang kini menjabat Menteri Pertahanan (Menhan).
Prabowo menuturkan, pada 1981 dirinya bersama Mayor Infanteri Luhut Pandjaitan dipanggil LB Moerdani dan diberi tugas untuk sekolah antiteror di GSG9 di Jerman Barat. ”Kita harus punya pasukan antiteror. Kalian berdua berangkat ke sana belajar dan kembali. Sesudah itu kalian membentuk dan melatih pasukan antiteror kita,” kata Prabowo menirukan ucapan Benny Moerdani dalam buku biografinya “Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto”
Lihat Juga :