Rutan dan Lapas Jadi Tempat Bisnis Narkotika, Pengamat UI Soroti Kinerja Ditjen PAS
Rabu, 11 Agustus 2021 - 21:59 WIB
loading...
Suasana penggeledahan di lembaga pemasyarakatan (Lapas) di Sumatera Utara. Foto/iNews TV/Ahmad Ridwan Nasution
A
A
A
JAKARTA - Rutan dan Lapas yang masih jadi tempat paling aman berbisnis narkoba bagi para bandar yang berstatus napi menjadi perhatian pengamat Kebijakan Lembaga Universitas Indonesia (UI), Arthur Josias Simon Runturambi.
Dia menyoroti kinerja Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) yang tidak kunjung menunjukan perbaikan selama satu tahun terakhir. Harapan Menkumham Yasonna Laoly memberantas peredaran narkoba di Rutan dan Lapas nyatanya hingga saat ini tidak terealisasi.
Rentetan hasil ungkap kasus Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Mabes Polri hingga kini mendapati bahwa peredaran narkoba kelas kakap justru dikontrol para napi dari berbagai Rutan dan Lapas. "Hingga kini program yang digagas Ditjen PAS dalam membenahi Rutan dan Lapas kurang efektif," ujar Arthur Josias Simon Runturambi, Rabu (11/8/2021). Baca juga: Peredaran Narkoba Tetap Tinggi saat Pandemi, BNN : Sabu dan Ganja Jadi Primadona
Dia mencontohkan program pemindahan napi bandar narkoba ke Lapas Nusakambangan karena membuang anggaran dan tak didahului pembenahan sumber daya manusia (SDM) petugas. "Karena itu tadi bandarnya tidak bisa dihalangi, karena mau pindah kemana bandar tetap aja bandar. Lapas ini tidak ada cara untuk menghambatnya, semua masuk Lapas sama," tambah Arthur Josias.
Diakuinya Lapas Nusakambangan yang berklasifikasi Lapas Super Maximum Security memang memiliki keamanan ketat dan dilengkapi sejumlah peralatan pengawasan mutakhir. Namun semua peralatan keamanan tersebut tidak berarti bila keberadaan oknum petugas yang membantu napi menyelundupkan handphone untuk berbisnis narkoba masih ada. Baca juga: Pengamat Soroti Pemindahan Napi Narkoba ke Lapas Nusakambangan
Dia menyoroti kinerja Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) yang tidak kunjung menunjukan perbaikan selama satu tahun terakhir. Harapan Menkumham Yasonna Laoly memberantas peredaran narkoba di Rutan dan Lapas nyatanya hingga saat ini tidak terealisasi.
Rentetan hasil ungkap kasus Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Mabes Polri hingga kini mendapati bahwa peredaran narkoba kelas kakap justru dikontrol para napi dari berbagai Rutan dan Lapas. "Hingga kini program yang digagas Ditjen PAS dalam membenahi Rutan dan Lapas kurang efektif," ujar Arthur Josias Simon Runturambi, Rabu (11/8/2021). Baca juga: Peredaran Narkoba Tetap Tinggi saat Pandemi, BNN : Sabu dan Ganja Jadi Primadona
Dia mencontohkan program pemindahan napi bandar narkoba ke Lapas Nusakambangan karena membuang anggaran dan tak didahului pembenahan sumber daya manusia (SDM) petugas. "Karena itu tadi bandarnya tidak bisa dihalangi, karena mau pindah kemana bandar tetap aja bandar. Lapas ini tidak ada cara untuk menghambatnya, semua masuk Lapas sama," tambah Arthur Josias.
Diakuinya Lapas Nusakambangan yang berklasifikasi Lapas Super Maximum Security memang memiliki keamanan ketat dan dilengkapi sejumlah peralatan pengawasan mutakhir. Namun semua peralatan keamanan tersebut tidak berarti bila keberadaan oknum petugas yang membantu napi menyelundupkan handphone untuk berbisnis narkoba masih ada. Baca juga: Pengamat Soroti Pemindahan Napi Narkoba ke Lapas Nusakambangan
Lihat Juga :